SOROT

Gudang Uang Dimas Kanjeng

Sejak berdiri 2005, pengikut pedepokan mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh Indonesia.

Gudang Uang Dimas Kanjeng
ist
Darajat Arianto, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Darajat Arianto
Wartawan Tribun

NAMA Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjadi bahan perbincangan hangat di masyarakat. Di rumahnya banyak tumpukan uang, seperti gudang uang yang mirip tempat penyimpanan uang di bank. Dari tangannya uang mudah mengalir. Begitupun dari punggungnya, Taat Pribadi dengan mudah mengeluarkan uang. Bahkan emas dan perhiasan pun keluar begitu saja dari pinggangnya.

Melihat ini banyak orang terpana, terbuai dan penasaran. Dari kepiawaian itulah Taat Pribadi disebut mampu menggandakan uang. Karena itulah banyak orang yang menitipkan uangnya untuk dilipatgandakan. Pengikutnya percaya uang bisa menumpuk ketika dititipkan ke Dimas Kanjeng. Salah satu pengikutnya dijanjikan jika menyetor Rp 1 juta, akan dilipatkan menjadi Rp 1 miliar! Wow, sudah tentu banyak yang tergiur.

Tak hanya "orang biasa" yang percaya, mereka yang bergelar akademis hingga aparat berpangkat tinggi juga turut menitipkan uangnya untuk dilipatgandakan. Bahkan ketua yayasan di padepokan Dimas Kanjeng adalah Marwah Daud, seorang akademisi bergelar doktor dan juga aktif di ICMI. Ia percaya Taat memiliki semacam karomah, namun tidak bisa dijelaskan secara logis.

"Kami siap buktikan, memohon kepada beliau untuk membuktikan dengan catatan nama yang ada di sini minimal perwakilannya ikut menyaksikan bahwa beliau memang memiliki karomah yang luar biasa," ujar Marwah kepada wartawan di Mabes Polri, Senin (26/9).

Sejak berdiri 2005, pengikut pedepokan mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Selain salat lima waktu, aktivitas di padepokan adalah istigasah dengan membaca zikir dan salawat tertentu dengan harapan bisa mendapat uang berlimpah secara gaib dengan syarat harus menyetor uang ke Taat atau lewat jaringan kordinator yang tersebar di sejumlah daerah.

Petaka mulai muncul ketika uang yang dijanjikan tak lantas cair dan mengadu kepada polisi. Menurut polisi, sejak 2015 hingga 2016, setidaknya ada tiga laporan atas dugaan penipuan oleh Dimas Kanjeng, dengan kerugian Rp 800 juta, kedua Rp 900 juta, dan terakhir Rp 1,5 miliar.
Di sisi lain, aktivitas di padepokan pun dicurigai ada penyimpangan. Untuk itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengkaji ajaran dan amalan yang dilakukan padepokan tersebut. MUI menilai ada bacaan-bacaan salat dan wirid yang tidak sesuai.

Untuk itu, sebagai muslim segala perilaku kita tentu saja wajib mencontoh Nabi Muhammad Saw. Demikian pula dalam mengelola harta pribadi. Jangankan punya harta berlebih apalagi melipatgandakannya, menyimpan harta sedikit saja Rasul khawatir. Karena Rasul sangat tahu bagaimana beratnya mempertanggungjawabkan harta di akhirat kelak. Apalagi jika harta itu ditimbun, tidak dizakatkan, tidak dibelanjakan di jalan Allah, seperti untuk infak dan sedekah, tentu sangat berat pertanggungjawabannya saat dihisab di hari pembalasan.

Karena itu, saya sanksi jika yang menitipkan ke padepokan atas nama keimanan. Pasalnya, mereka yang ke sana justru ingin menggandakan uang, ingin ada balasan, dan pamrih. Sebaliknya orang beriman seperti disebut dalam Alquran dan Hadis justru menginfakan harta di jalan Allah Swt secara ikhlas. Jadi kalau memang sudah kuat imannya, datang saja ke mesjid, pesantren, majelis taklim, atau panti asuhan, lalu berikan sebagian harta kita tanpa embel-embel apa pun. Itu saja. (*)

Penulis: Darajat Arianto
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved