SOROT

Untuk Palestina

Deden menunjukkan solidaritas terhadap Palestina itu dengan mengikatkan bendera tiga warga Palestina di tubuhnya seusai pertandingan.

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

Oleh Machmud Mubarok
Wartawan Tribun Jabar

ADA yang menarik dari ungkapan kegembiraan penjaga gawang tim Jabar seusai menjadi juara cabang olahraga sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 Jabar. M Natsir atau akrab disapa Deden menyatakan medali emas yang diperolehnya, selain untuk rakyat Jawa Barat, juga dipersembahkan untuk rakyat Palestina. Deden menunjukkan solidaritas terhadap Palestina itu dengan mengikatkan bendera tiga warga Palestina di tubuhnya seusai pertandingan.

Tentu aksi Deden ini cukup unik. Sebagai sebuah pekan olahraga bertaraf nasional, biasanya isu kedaerahan yang paling mengemuka. Tak heran, adu prestasi ini kadang berubah menjadi adu jotos atas nama gengsi kedaerahan.

Ketika tim sepak bola Brasil yang dimotori striker lincah Neymar sukses menjadi juara Olimpiade Rio 2016, Neymar pun mempersembahknya untuk rakyat Brasil. Karena inilah untuk pertama kalinya Brasil yang dikenal sebagai jago sepak bola dunia bisa menjuarai Olimpiade.

Tapi Deden berbeda. Ia justru membawa isu internasional di kancah nasional ini. Ini menunjukkan isu olahraga merupakan media yang sangat cair, fleksibel, tak kenal batas apapun. Ia melintasi batas negara, perbedaan suku, bangsa, dan bahasa. Atas nama solidaritas, siapapun bisa mengklaim mewakili simpati dan empati terhadap sesuatu. Bahkan isu politik pun kadang- kadang terselip juga di tengah euforia kemenangan di arena olahraga ini.

Semua itu sah-sah saja, terserah dari keyakinan dan pandangan sang atlet. Tentu Deden berpandangan demikian, karena dilandasi prinsip keagamaan dan dilatarbelakangi keprihatianannya terhadap sejarah suram yang seolah abadi yang diderita warga Palestina. Yang penting, pandangan itu tidak bertentangan dengan hak atlet lain dan pandangan masyarakat.

Sebetulnya, bentuk "persembahan" medali emas ini sudah dilakukan di pertengahan berlangsungnya PON XIX. Ketika Garut diterjang banjir bandang Sungai Cimanuk, sejumlah atlet Jawa Barat, terutama yang berasal dari Garut, langsung berempati dengan mempersembahkan medali mereka untuk korban banjir Garut. Bahkan ada pula beberapa atlet cabang olahraga yang memasang pita hitam di lengan sebagai tanda berduka cita.

Ya, tak hanya Palestina yang bisa menarik simpati atlet. Peristiwa di tingkat lokal pun bisa menginspirasi seseorang untuk mendedikasikan prestasinya sebagai bentuk keprihatinan.
Apalagi jika bencana itu menelan korban jiwa dan meninggalkan korban hidup yang harus bertahan di pengungsian. Penderitaan korban bencana itulah yang dirasakan pula oleh warga yang lain, yang hidup aman tenteram, dan diwujudkan dalam bentuk solidaritas.

Untuk Palestina, untuk Garut, untuk Sumedang, dan untuk mereka yang sampai hari ini masih dibekap penindasan, kezaliman, kebodohan, kemiskinan, dan penderitaan, kita dedikaskan detik- detik hidup ini. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved