Sorot
Sol! Sol Sepatu!
MELIHAT tukang sol sepatu, sesaat teringat insiden sepatu yang masuk sejarah dunia di mana seorang wartawan.....
Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Oleh Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun Jabar
RASANYA lama sekali saya tidak melihat profesi yang satu ini. Tukang sol sepatu.
Melihat tukang sol sepatu, sesaat teringat insiden sepatu yang masuk sejarah dunia di mana seorang wartawan melempar sepatunya ke arah Presiden Amerika Serikat yang ketita itu dijabat oleh George Walker Bush. Insiden yang mendunia itu terjadi 15 Desember 2008.
Masih tentang insiden lempar sepatu. Setahun sejak insiden George Bush, insiden lempar sepatu terjadi pada PM Cina, Wen Jiabao di University of Cambridge Inggris pada 2 Februari 2009 dan Dubes Israel untuk Swedia, Benny Dagan di University Stockholm pada 4 Februari 2009.
Tulisan ini bukan mengulas masalah aksi lempar melempar sepatu, tapi renungan semata. Yang jelas, masih ada hubungannya dengan sepatu-sepatu juga. Ceritanya, begini.
Saat saya duduk di kursi plastik biru, di pinggir jalan depan pagar sebuah lembaga pendidikan di Bandung selatan.
Seorang tua, berjalan pelan karena memikul beban, dua kotak yang satu di kiri ada tulisan 'sol' dan kanan yang ada tulisan 'sepatu'.
Tak berapa lama dari balik sebuah mobil Panther silver yang terparkir sedari tadi muncul seorang anak berumur sekitar 10 tahun.
Anak itu, pemulung yang tengah beristirahat di bawah pohon, tak jauh dari mobil yang terparkir tadi. Ia tak mengenakan alas kaki, tapi di tangan kirinya menenteng sepasang sepatu bola.
Warnanya, putih agak kusam dengan corak garis hitam. Pikir saya, oh anak itu mau memperbaiki sepatu bolanya.
Terlihat dari mimik wajahnya yang serius sambil membungkukkan badan dan menyodorkan sepasang sepatu bola yang dibawanya kepada lelaki tua tukang sepatu.
Saat itu si lelaki tua sudah duduk di atas bangku kecil yang dikeluarkan dari salah satu kotak yang dipikulnya.
Terlihat lelaki tua tukang sol sepatu itu menanggapi anak kecil itu dengan serius. Ia melihat-lihat sepatu bola yang dibawa anak itu.
Dibolak-balik, satu-persatu tanpa banyak bicara. Tak berapa lama, terlihat lelaki tua dan anak kecil itu terlibat perbincangan serius.
Sambil sesekali melihat ke arah kiri dan kanan. Lalu lelaki tua itu mengeluarkan tiga lembar uang kertas Rp 1.000 dari kotak kanan yang bertuliskan 'sepatu'.
Si anak kecil masih terdiam dan ragu. Si lelaki tua beranjak dari duduknya sambil tangan kirinya menyodorkan tiga lembar uang seribuan tadi. Si anak kecil terlihat semakin ragu.
Anak kecil itu pun akhirnya menerima uang Rp 3.000 dari lelaki tua tersebut. Sambil mengibas-ngibaskan uang, anak kecil itu berlari ke arah wanita yang berada di gerobak kayu yang mungkin adalah ibunya.
Si lelaki tua tukang sol sepatu terlihat tersenyum dan cepat-cepat memasukkan sepatu merek Specs yang masih bagus dan terlihat masih layak pakai itu.
Ia pun berlalu dari hadapan saya yang masih terbengong-bengong menyaksikan adegan satu babak drama kehidupan yang berlangsung sekitar 30 menit.
Sementara, si anak kecil terlihat dengan wajah semringah melanjutkan mendorong gerobak yang ditarik seorang wanita yang mungkin juga adalah bukan ibunya.
Sedangkan, dari arah lain samar-samar terdengar lelaki tua tukang sol sepatu itu berteriak "Sol! Sol Sepatu!"
Kisah ini nyata, sarat makna dan perlu sedikit renungan diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang, DPR, pemerintah, LSM, Ulama dan siapa saja: Mohon dengan sangat jangan ikuti jejak tukang sol sepatu itu.
Yang tua, banyak pengalaman bukan berarti boleh-boleh saja membodohi anak kecil.
Ingat, ada Tuhan yang menggerakkan anak kecil itu membawa sepatu bola kepada lelaki tua si tukang sol sepatu. (*)'
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Sabtu (24/9/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dicky-fadiar-djuhud-versi-lebar_20150619_144531.jpg)