Sorot
Pray for Swiss van Java
BERDUKA untuk Garut. Selasa, 20 September 2016, akan menjadi catatan kelam bagi kota yang terkenal dengan dodol dan dombanya ini.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dedy Herdiana
Oleh: Oktora Veriawan, Wartawan Tribun Jabar
BERDUKA untuk Garut. Selasa, 20 September 2016, akan menjadi catatan kelam bagi kota yang terkenal dengan dodol dan dombanya ini. Sekitar pukul 11 malam, Sungai Cimanuk, yang membelah Kota Garut, mengamuk. Banjir bandang menerjang apa saja yang dilaluinya.
Sangat miris melihat kondisi kota yang dulu dijuluki Swiss van Java yang kini porak poranda dipenuhi lumpur. Lalu siapa yang harus dipersalahkan, apakah Sungai Cimanuk? Sudah tentu manusia yang menyebabkan bencana ini datang. Karena tangan-tangan rakus manusialah, seperti pembukaan lahan baru, penebangan hutan, dan pembangunan tak terkendali di hulu, menjadi penyebab datangnya bencana.
Dulu orang Belanda tak ujuk-ujuk membangun Kota Garut. Banyak pertimbangan hingga akhirnya memutuskan membangun peradaban di sana. Awalnya pusat Kabupaten Garut berada di Limbangan sekitar tahun 1811. Dikarenakan produksi kopi di Limbangan menurun drastis, Gubernur Hindia Belanda, Jenderal Daendels, memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke arah barat. Rencana itu dilanjutkan oleh gubernur selanjutnya, Raffles.
Singkat cerita, Pemerintah Hindia Belanda membentuk tim khusus yang ditugaskan untuk mencari daerah yang pas untuk pusat pemerintahan. Akhirnya tim khusus menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan ibu kota. Selain tanahnya subur, banyak ditemukan sumber air bersih yang mengalir ke Sungai Cimanuk yang membelah daerah tersebut. Pemandangan di sekitar daerah tersebut sangat indah dikeliligi oleh gunung-gunung besar yang masih rimbun, seperti Gunung Cikuray, Papandayan, Guntur, dan Talagabodas.
Maka sejak tahun 1813 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana kota, seperti alun-alun dengan babancongnya, masjid, pendopo, fasilitas wisata, stasiun, hotel dan lain- lain. Pada 1 Juli 1813, wilayah tersebut resmi ditetapkan sebagai Kabupten Garut.
Julukan Swiss van Java mulai populer sekitar awal abad ke-20 karena pemandangan Garut persis dengan Swiss, di mana iklimnya sejuk, ada sungai besar (Sungai Cimanuk), dan gunung-gunung tinggi. Saat itu, Garut dikenal sebagai tujuan wisata yang paling menarik di dunia. Banyak orang besar datang ke Garut untuk berlibur, salah satunya komedian terkenal Charlie Chaplin.
Menurut Encyclopedie van Nederlands-Indie (Ensiklopedia Hindia-Belanda) terbitan tahun 1917, disebutkan Garut adalah salah satu tempat terindah di Jawa dengan iklim nyaman dan lingkungan yang sangat indah.
Kini Swiss di Jabar itu telah luluh lantak oleh tsunami kecil. Fasilitas umum dan sosial hancur. Ribuan warga mengungsi dan puluhan jiwa tewas. Rasa empati dan simpatik mulai mengalir. Semua bersatu dengan satu tujuan memulihkan kembali Swiss van Java.
Namun seperti biasanya, di saat warga berduka, masih ada saja orang yang “latah” memanfaatkan situasi. Memang mereka berdalih ingin membantu, tapi ada niatan politik terselip di dalamnya. Dengan tampil di depan, orang-orang ini ingin mencapai tujuan politiknya dengan memanfaatkan simpati warga. Apalagi ke depan, ada Pilpres 2019, Pilgub Jabar 2018, dan pilkada serentak 2017. Tolong hentikan niat picik tersebut. Mari bersama-sama memulihkan Garut, tanpa menonjolkan Ini Aku! (*)
Naskah ini juga bisa dibaca di Tribun Jabar edisi cetak, Jumat (23/9/2016). Ikuti berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/oktora-veriawan-di-prambanan_20160205_084830.jpg)