Sorot

Banjir Bandang

Kabar mengejutkan datang dari Garut pada Rabu dini hari. Wartawan Tribun Jabar mengabarkan Garut kota mengalami banjir bandang . . .

Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dedy Herdiana
dok. pribadi / facebook
Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar. 

Oleh: Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

HUJAN terus berjatuhan dari hampir semua langit yang menaungi Jawa Barat, tat terkecuali Kabupaten Garut. Durasinya tak seperti biasa. Selasa (20/9) siang hingga Rabu (21/9) dini hari, hujan terus turun.

Kabar mengejutkan datang dari Garut pada Rabu dini hari. Wartawan Tribun Jabar mengabarkan Garut kota mengalami banjir bandang dengan tingkat kerusakan yang tinggi. Rumah-rumah di bantaran Sungai Cimanuk banyak yang roboh dan terbawa aliran sungai. Gedung sekolah, rumah sakit, dan sejumlah fasilitas umum pun tak luput dari terjangan banjir. Bahkan, RSU dr Slamet dan Polsek Tarogong Kidul hingga pukul 01.00 WIB, kemarin, masih tergenang banjir.

Orang-orang di sana panik, berikhtiar sekuatnya menyelamatkan diri. Demikian dengan pasien di RS. Petugas bahu membahu mengevakuasi. Polisi berkerja memberikan panduan tempat yang aman untuk dilintasi kendaraan, dan menutup sejumlah jalur agar orang-orang tak terjebak banjir.
Pemerintah Garut memastikan banjir kemarin adalah banjir terparah yang terjadi sepanjang riwayat berdirinya Garut. Ketinggian banjir tak lagi hanya lima meter, tapi sampai delapan hingga sepuluh meter. Volumenya melebihi daya tampung sungai Cimanuk yang hanya mampu menampung ketinggian banjir hingga enam meter.

Kita semua prihatin dan berduka atas bencana banjir bandang yang menelan 20 orang tewas (data hingga Rabu siang) dan berharap tak akan terulang, baik di Garut maupun di daerah lain. Seperti dikisahkan banyak saksi, banjir bandang di Garut terjadi tiba-tiba dengan kecepatan tinggi (flash flood). Banjir didahului hujan lebat dalam durasi panjang. Inilah karakteristik banjir bandang. Meski demikian, apakah banjir bandang bisa diketahui tanda-tandanya, agar masyarakat selamat?

Dengan banyak disiplin ilmu, semisal ilmu geologi, ataupun tanpa dengannya, banjir bandang sudah bisa dideteksi jauh hari sebelum bencana itu datang. Mendeteksi dengan ilmu geologi, tanda akan datangnya banjir bandang bisa ditelisik dari seberapa besar kerusakan di daerah hulu, seberapa luas daerah resapan air yang hilang, apakah ada bendungan-bendungan kecil yang terjadi di perbukitan akibat longsor, dan sejumlah faktor geologi lainnya. Semua itu bisa dicek untuk melihat seberapa besar perubahan dan kemungkinannya terjadi bencana.

Secara awam, banjir bandang pun bisa dideteksi. Di antaranya dengan melihat seberapa banyak sampah yang menumpuk di sungai-sungai. Jika sampah banyak, akan mengurangi kemampuan sungai menampung aliran air karena ada pendangkalan. Seperti halnya yang terjadi di sungai Cimanuk, bisa dicek apakah pendangkalan terjadi karena warga membuang sampah ke suangi atau karena material longsor akibat kerusakan di wilayah hulu.

Tanda lainnya adalah banyaknya bangunan yang berdiri di daerah sekitar aliran sungai. Di musim kemarau, orang tak akan memikirkan dampaknya. Tapi saat musim penghujan, wilayah di sekitar aliran sungai mestinya dapat menampung atau menyerap air hujan sehingga tak semua menggelontor ke sungai. Itu mengapa dalam peraturan tata ruang ada pasal yang mengatur soal sepadan sungai. Sayangnya aturan itu banyak diabaikan. Di sejumlah tempat di daerah sekitar aliran sungai banyak ditemukan bangunan liar yang anehnya kian hari jumlahnya kian banyak.

Penebangan pohon di wilayah hulu juga menjadi penyebab banjir bandang yang bisa dideteksi. Pemerintah Garut mengatakan telah berupaya menanam banyak pohon. Jika banjir tetap terjadi, bisa jadi upaya itu masih kalah dengan masifnya oknum perusak lingkungan dengan menebang pohon. Banjir bandang adalah bencana, namun di dalamnya terselip hikmah bagi kita untuk peduli dengan lingkungan dan sesama. (*)

Naskah ini juga bisa dibaca di Tribun Jabar edisi cetak, Kamis (22/9/2016). Ikuti berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved