Sorot
Perlu Solusi Lain
Persib Bandung akhirnya merasakan dua kekalahan beruntun di ISC A 2016 di tengah ambisi ingin memperbaiki diri
Penulis: Giri | Editor: Dedy Herdiana
Oleh: Sugiri U. A, Wartawan Tribun Jabar
HUKUMAN itu datang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Minggu (18/9/2016) malam. Persib Bandung akhirnya merasakan dua kekalahan beruntun di ISC A 2016 di tengah ambisi ingin memperbaiki diri setelah kalah telak 0-3 di kandang Sriwijaya FC pada pekan sebelumnya.
Itu merupakan hasil kontradiktif dari perbaikan yang telah dilakukan termasuk punya waktu lebih banyak menyambut putaran kedua. Di saat tim-tim lain bertarung di pekan pertama, Persib hanya menjalani uji coba sebagai bagian pemantapan strategi jelang tarung di kandang Sriwijaya FC. Hal itu terjadi karena pertandingan kandang melawan Pusamania Borneo FC diundur.
Bukan hanya mencatat dua kekalahan beruntun yang berujung belum mendapat poin di putaran kedua, hasil itu juga memperpanjang tak pernah menang. Pada laga terakhir, pasukan Djadjang Nurdjaman hanya mendapat satu poin dari hasil imbang tanpa gol melawan Arema Cronus.
Sebelumnya, Maung Bandung juga pernah tak meraih kemenangan dalam tiga laga beruntun. Kala itu, hasil dua imbang dan sekali kalah didapat ketika masih dipegang Dejan Antonic.
Sudah tiga kali tak menang dengan sekali imbang dan dua kali kalah, tren buruk Persib bisa lebih panjang. Pada laga selanjutnya, Persib akan menjamu Persiba Balikpapan. Jika gagal meraih poin penuh di kandang sendiri, ini akan menjadi hal yang sangat memalukan. Djadjang masih punya waktu mengembalikan timnya ke level yang diinginkan lantaran kompetisi diliburkan seminggu karena ada PON. Untuk itu, semua sisi harus diperbaiki. Kalah 0-1 atas Bali United menjadi penjelasan Persib memang belum optimal. Bukan hanya lini belakang yang harus diperbaiki setelah kebobolan empat gol dari dua laga, ujung tombak pun harus mendapat perhatian khusus. Tak bisa mencetak gol dalam tiga laga beruntun merupakan rekor yang tak patut dicatat.
Mungkin benar kata Djadjang, kekalahan Persib di kandang Bali United terjadi karena banyaknya pemain inti yang absen. Vujovic harus kembali ke negaranya karena sang ayah meninggal, Sergio terkena akumulasi kartu kuning, sedangkan Diogo cedera. Sebenarnya, Diogo akan diduetkan dengan Yanto di lini pertahanan, bukan Tony. Masalahnya, dengan mereka semua, Persib juga kalah 0-3 di kandang Sriwijaya FC!
Flores yang dianggap sebagai solusi di lapangan tengah juga tak bagus-bagus amat meski alasan belum beradaptasi bisa dikedepankan. Flores masuk starting eleven menggantikan peran Pugliara. Nama terakhir selalu dianggap Djadjang belum bisa mengeluarkan kemampuan terbaik sehingga perbendaharaan gol Persib seret.
Entah karena sudah membaca kekuatan tim lain di putaran kedua atau karena pesimistis, Djadjang menyebut target realistis Persib hanya finis di posisi keempat klasemen akhir. Target itu turun satu tingkat dari yang diharapkan manajemen. Jangankan mencapai posisi empat, Persib bisa saja keluar dari lima besar --sekarang di posisi sembilan -- jika tak benar-benar memperbaiki kemampuan diri dalam mencetak gol. Sebagus apa pun pertahanan, kemenangan tidak akan datang kalau gagal mencetak gol.
Untuk itu, Djadjang harus punya opsi lain, tak melulu mengandalkan satu striker di pertahanan lawan. Dengan formasi itu, nyatanya sisi sayap tak banyak membantu karena kerap bemain melebar. Maka, tak ada salahnya dua penyerang bermain bersama meski hanya sekadar test case. Atau, mungkin manajemen punya pilihan lain, misalkan mendatangkan pelatih anyar. (*)
Naskah ini juga bisa dibaca di Tribun Jabar edisi cetak, Rabu (21/9/2016). Ikuti berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sugiri-ua-baru-lagi_20150629_092819.jpg)