Teras

Bebegig

Betulkah sistem yang menjerat anak-anak muda itu? Betulkah Dayamanti tidak tahu bahwa permainan suap-menyuap itu dilarang?

Bebegig
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

Oleh: Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar

SEORANG idealis, doktor ilmu filsafat lulusan dari peguruan tinggi ternama di Amerika Serikat, tubuhnya hancur berkeping-keping berserakan di rel kereta setelah dihantam ular besi. Sang istri, yang terus murung di kamarnya, diyakinkan oleh ayahnya bahwa suaminya mendapat musibah tertabrak kereta, bukan bunuh diri.

Carmen Villa tidak membantah ayahnya, tapi ia tidak percaya. Upayanya agar suaminya tidak pergi dengan memegang erat-erat tangannya ternyata gagal. Ia tahu bukan pertengkaran yang membuat suaminya pergi meninggalkannya, tapi karena keluarganya, karena perilaku dan kebiasaan elite di negaranya yang membuat suaminya tidak tahan hidup. Ia yakin suaminya bunuh diri.

Sang idealis itu bernama Antonio Samson. Istrinya, Carmen Villa, wanita yang dikenal cantik di Filipina, anak seorang pengusaha paling berpengaruh di negara itu, Don Manuel Villa. Mereka adalah tokoh- tokoh yang sangat hidup yang digambarkan sastrawan Francisco Sionil Jose dalam novelnya The Pretenders yang terbit 1962 dan sudah lama diterjemahkan oleh Hartoyo Andangjaya dengan judul Tokoh-Tokoh Munafik.

Sang penulis menggambarkan potret sosial Filipina dalam masa peralihan pasca-Perang Dunia II. Mirip dengan di Indonesia. Seperti dikemukakan oleh Daoed Joesoef dalam salah satu esainya yang bagus yang termuat dalam buku 10 Wacana Tentang Aneka Masalah Kehidupan Bersama, perubahan sosial tidak selalu bergerak ke arah yang lebih baik. Artinya, bisa saja sebaliknya. Dan yang paling berbahaya dan harus diwaspadai itu adalah hal-hal yang laten.

Tony, begitu istrinya memanggil suaminya yang amat dicintainya itu, mungkin tidak menduga cita-citanya yang ia bayangkan semenjak kuliah di Amerika Serikat dan selalu ia umbar ke kawan sekamarnya, Lawrence Bitfogel, bakal menabrak hal-hal yang laten itu. Sekembalinya dari studi di AS ia mengabdi di sebuah perguruan tinggi di negaranya. Namun ia kaget dengan perilaku rekannya, termasuk dekan di kampusnya. Perilaku menjiplak sudah hal biasa.

Tapi itu tak seberapa dibanding hal-hal laten yang ia temukan kemudian. Perilaku koruptif para pengusaha dengan para politikus di negerinya itulah yang paling menekan, dan itu tak lain sang mertua: Don Manuel Villa. Kawan-kawannya, dari kalangan intelektual, seperti jurnalis, yang seharusnya menjadi anjing penggonggong, ikut dalam pusaran korupsi. Tercabik-cabiknya tubuh Antonio Samson tak lain adalah simbol betapa tercabiknya harapan anak muda Filipina dalam perubahan sosial tersebut. Anak muda yang idealis harus tersingkir dalam pergulatan sosial melawan pengusaha seperti Don Manuel Villa yang mengaku terus terang sebagai “orang-orangan”.

Filipina tidak begitu jauh dari Indonesia. Itu soal jarak. Sedangkan persoalan sosial tak punya jarak. Di Indonesia tak sedikit anak muda yang idealis jadi bahan cibiran. Akhirnya secara perlahan menyesuaikan diri, lalu terjebak dalam labirin dan sulit keluar karena berhadapan dengan, menurut istilah Sionil Jose, para minotaurus, yaitu makhluk setengah manusia setengah lembu jantan dalam labirin yang siap membinasakan siapa saja yang masuk labirin. Persis seperti di Filipina, keadaan ini berlangsung pasca-Perang Dunia II, terutama sekali begitu munculnya orde pembangunan yang dipimpin Soeharto.

Tapi siapa Don Manuel Villa alias minotaurus di Indonesia, tidak begitu jelas, kecuali kita mungkin bisa meraba-meraba dari deretan nama-nama yang ada di buku Richard Robinson Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme Indonesia dan buku Jeffrey A. Winters Oligarki. Jika Antonio Samson memilih tercabik sebagai simbol ketidakberdayaan menghadapi minotaurus, di Indonesia anak muda di lingkaran elite berkarakter seperti kapas yang mudah disapu angin.

Lihat siapa yang tak sedih melihat butiran air mata Julia Prasetyarini yang merngalir deras begitu keluar dari ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu, 7 September lalu. Ekspresi wajahnya yang sangat memelas terpampang jelas di media massa. Siapa pun akan menaruh kasihan melihat rona kesedihan staf mantan anggota Komisi V DPR RI Damayanti Wisnu Putranti itu. Perannya yang hanya sebagai staf harus ikut terseret pada pusaran korupsi. Ia divonis hukuman empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta.

Ratapan pun terungkap dari mulut Damayanti Wisnu Putranti, terdakwa kasus suap proyek jalan di Maluku dan Maluku Utara. Simak ratapannya kepada hakim Tipikor saat membawakan nota pembelaan di pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 7 September. “Mohon agar hak politik saya tidak dicabut karena saya masih ingin mengabdi ke masyarakat. Saya menyesal telah menerima dari Abdul Khoir. Saya sudah mengembalikan semuanya ke KPK. Saya adalah korban dari sistem yang ada selama ini. Saya baru setahun menjadi anggota dewan. Jadi, saya tidak tahu permainan politik Komisi V DPR.”

Betulkah sistem yang menjerat anak-anak muda itu? Betulkah Dayamanti tidak tahu atau tidak sadar bahwa permainan suap-menyuap itu sudah ada aturannya yang melarang? Betulkah orang sekelas Angelina Sondakh, yang pernah dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2001 dan wajahnya sering tampil di televisi sebagai tokoh muda antikorupsi, tidak tahu suap-menyuap sebagai perilaku korupsi? Lalu, sekelas Akil Mochtar dan Irman Gusman, sebagai pimpinan lembaga negara, juga tidak tahu jika suap- menyuap bertentangan dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi?

Sebelum mereka terlilit masalah hukum, publik sering melihat mereka begitu percaya diri, ada yang tampil santun, ada yang tampil arogan, ada yang tampil mengesankan tegas berwibawa, juga cerdas. Penampilan tersebut berubah drastis begitu mereka diringkus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan kadang kita terenyuh ikut prihatin, membayangkan nasib anak dan istrinya. Namun begitu mereka menyalahkan sistem, nalar mereka menunjukkan kecacatannya. Sistem hanyalah kambing hitam untuk tidak mau mengakui rapuhnya integritas.

Mungkin saja ada yang memandang Antonio Samson sebagai pecundang karena mengakhiri hidup di rel kereta api, tapi mungkin itu jalan terhormat di saat ia sulit keluar dari labirin tapi menolak ikut pusaran korupsi. Baginya, masuk penjara berarti kehilangan integritas, dan hidup yang sudah kehilangan integritas tidak layak dilakoni. Ia menolak menjadi “orang-orangan” seperti yang dinikmati sang mertua. Di Indonesia, orang-orangan, yang di tanah Sunda disebut bebegig, lebih menjadi pilihan hidup. (*)

Naskah ini juga bisa dibaca di Tribun Jabar edisi cetak, Senin (19/9/2016). Ikuti berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: cep
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved