Sorot

Wasit dan Persib

RASA cinta bobotoh tidak akan luntur meski Persib Bandung menderita kekalahan telak dari lawannya.

Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR

Oleh Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar

RASA cinta bobotoh tidak akan luntur meski Persib Bandung menderita kekalahan telak dari lawannya.

Seperti dalam laga pembuka putaran kedua Indonesia Soccer Championship (ISC), Sabtu (10/9/2016), skuat Maung Bandung harus menelan kekalahan 0-3 dari Sriwijaya FC.

Namun bobotoh di Stadion Jakabaring, Palembang, maupun yang nonton bareng di Sidolig, Bandung, tetap bersikap loyal dan mampu menahan emosi kekecewaannya dengan tidak melampiaskan pada aksi anarkis.

Saat ditanya wartawan, mereka mampu memunculkan kekecewaannya dalam sikap yang positif dengan mencoba mengkritisi dan berharap ada evaluasi serius untuk menjaga kekompakan tim.

"Kalau tim dengan pemain hebatnya dua orang, tetap akan kalah oleh tim yang pemainnya merata tapi kompak. (Jadi) kita tidak melihat dari bagaimana hebatnya pemain, tapi harus merata dan kompak," ujar Yana Umar, dirigen Viking Persib Club yang merupakan salah satu bobotoh yang cukup dikenal saat dimintai tanggapannya, seperti dikutip Tribun Jabar, Minggu (11/9/2016).

Selain kurang baiknya komunikasi antarpemain pada laga pembuka, bobotoh yang melihat dari luar tim, juga menilai saat itu mental pemain Persib kurang baik.

Pelatih Persib Bandung, Djadjang Nurdjaman menilai kekalahan telak kali ini disebabkan dua faktor, yakni karena timnya melakukan kesalahan sendiri di awal laga dan karena kepemimpinan wasit yang sangat buruk.

Keputusan-keputusan wasit yang merugikan Persib itu membuat Atep dkk bermain tidak tenang dan emosi sepanjang pertandingan.

Kritikan terhadap kepemimpinan wasit pada laga itu juga keluar dari Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar.

Bahkan, Umuh yang punya niat merevolusi tata kelola perwasitan di Indonesia seusai Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, melayangkan surat keberatan kepada PT Gelora Trisula Semesta selaku operator ISC soal wasit.

"Semua juga tahu, permainan Persib jadi rusak dan emosional karena dikerjain wasit. Persib kalah 0-1 sebenarnya bisa membalas tapi karena emosi jadi hancur dan kacau. Pemain dari sana juga sepertinya sengaja memanfaatkan kelemahan kita," ujar Umuh di Bandara Husein Sastranegara, seperti dikutip Tribunjabar.co.id, Senin (12/9).

Bicara soal wasit, semua sepakat bahwa profesionalismenya akan berdampak pada kualitas cabang olahraga yang dihakiminya, begitu juga dengan persepakbolaan.

Wasit sepak bola yang benar-benar menjunjung tinggi profesionalisme dalam memimpin pertandingan, pasti akan mendapat reaksi positif dari semua pemain.

Pemain, ofisial, maupun penonton juga akan hormat dan menghargai semua keputusan wasit yang dilandaskan pada profesionalismenya.

Wasit yang jelek dalam memimpin pertandingan tentu akan merugikan tim yang kalah dan yang menang pun tentu kurang puas dengan hasil yang dicapai.

Namun kondisi itu seakan kerap terjadi di negeri ini.

Semua tentu sepakat perjuangan Umuh dan kelompoknya untuk merevolusi tata kelola perwasitan harus terwujud demi lahirnya profesionalisme wasit persepakbolaan Indonesia.

Khusus bagi Persib, yang tentunya Kang Djanur pun tahu, bahwa tidak ada salahya jika kritikan dari bobotoh soal kekompakan dan mental pemain menjadi catatan utama yang perlu digenjot dalam menghadapi laga kedua di putaran kedua ISC.

Setidaknya Pangeran Biru bisa tetap menunjukkan performa terbaiknya meski wasit belum profesional. Karena perjuangan untuk melahirkan wasit yang profesional itu pasti harus melalui berbagai rintangan termasuk waktu yang tidak sedikit. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (13/9/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved