SOROT
PON Sudah di Depan Mata
Melihat waktu persiapan yang cukup panjang setelah PON Riau 2012, empat tahun harusnya pembangunan semua venue sudah kelar jauh-jauh hari.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Kisdiantoro
Oleh Oktora Veriawan
Wartawan Tribun
SEPEKAN jelang pembukaan PON Jabar 2016, 17 September, masalah terus datang bertubi- tubi. Serangan frontal diarahkan kepada belum rampungnya beberapa venue untuk menggelar pertandingan. Beberapa kontingen yang melakukan tes event menyebut masih ada kekurangan yang dirasakan, baik itu menyangkut kondisi arena maupun infrastruktur penunjang lainnya.
Melihat waktu persiapan yang cukup panjang setelah PON Riau 2012, empat tahun harusnya pembangunan semua venue sudah kelar jauh-jauh hari. Faktanya, hingga sepekan jelang pembukaan, beberapa venue belum rampung 100 persen, seperti akses menuju venue, tribun penonton, dan lain-lain. Arena pertandingannya pun masih banyak yang diprotes karena tak sesuai standar. Sebagian contoh lapangan softball dan baseball yang permukaan lapangannya keras dan belum ditumbuhi rumput, serta arena pacuan kuda di Kabupaten Pangandaran yang diprotes kontingen lain karena tak sesuai standar internasional.
Faktor cuaca pun membuat beberapa arena ikut terdampak. Persiapan yang tadinya sudah fix 100 persen, harus mengalah oleh faktor alam. Misalnya arena ski air di Bendungan Saguling yang terpaksa harus dipindah karena debit air yang terus menyurut. Sedangkan venue paralayang dan gantole di Sumedang terganggu akibat akses jalan menuju ke sana tertutup longsor.
Legalitas atlet pun bermasalah. Beberapa daerah saling berebut atlet dan sama-sama mendaftarkan atlet yang sama. Yang jadi korban sudah tentu si atlet itu sendiri karena dia terancam tak bisa tampil di PON.
PON tinggal sepekan dan mudah-mudahan seabrek problematika itu bisa segera terselesaikan dengan arif dan bijaksana. Sebagai rakyat Jabar, tentu kami tak ingin pesta olahraga empat tahunan itu amburadul. Mari berdoa agar pelaksanaan PON bisa berjalan baik dan lancar, karena setuju tidak setuju kesuksesan PON akan jadi kebanggaan rakyat Jabar.
Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, jauh-jauh hari sudah menargetkan catur (empat) sukses PON yaitu sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses ekonomi dan sukses administrasi. Sukses penyelenggaraan yaitu tidak menimbulkan kekecewaan bagi pesertanya. Sukses prestasi yaitu Provinsi Jabar harus jadi juara umum.
Sukses ekonomi yaitu penyelenggaraan PON harus jadi pemicu geliat perekonomian di Jabar. Sukses administrasi yaitu pelaksanaan PON XIX jangan menyisakan persoalan administrasi yang akan bermuara pada persoalan hukum, seperti kasus PON Riau jadi ladang korupsi bersama. Sistem administrasi PON XIX, harus dijalankan secara transparan dan akuntabel. Oleh karena itu, warga Jabar diajak untuk sama-sama mengawasi pembiayaan kegiatan PON XIX.
Selain anggaran untuk proyek pembangunan dan perbaikan venue pertandingan, serta akomodasi semua kontingen, pembiayaan PON yang dinilai fantastis adalah anggaran untuk opening dan closing ceremony yang menghabiskan Rp 90 miliar.
Dana luar biasa gede tersebut, digelontorkan untuk pengeluaran multimedia, penataan panggung, dan kembang api di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Termasuk persiapan selama hampir dua tahun yang melibatkan tiga ribu mahasiswa dan penari profesional.
Untuk seremoni pembukaan dan penutupan saja mencapai Rp 30 miliar termasuk dari anggaran Rp 90 miliar itu. Sementara total anggaran PON Jabar ini Rp 3,2 triliun yang dikeluarkan APBD Jabar. Sebagai rakyat mari kita awas uang rakyat tersebut.
Sebagai penutup, setiap gelaran olahraga multievent pasti problematika selalu saja ada. Jangan sampai masalah tersebut mempengaruhi para atlet yang akan tampil membela Jabar sehingga target juara umum direbut provinsi lain. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/oktora-veriawan-baju-merah_20160111_082544.jpg)