SOROT
Meracuni Bangsa Sendiri
Belum tuntas dengan bahaya pornografi dan narkotika, bangsa ini dipaksa berjuang melawan "racun" lain, obat palsu, vaksin palsu.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar
DI banyak kesempatan, di sekolah, di musala, di kelurahan, karang taruna, acara pertunjukan budaya, dan sejumlah kegiatan berbasis massa, mereka yang perhatian dengan urusan generasi muda, selalu mengingatkan agar kawula muda mampu menyeleksi "gempuran" bangsa asing yang tak lagi berupa serangan bersenjata, yang hendak melumpuhkan kaum muda, menjadi generasi yang bodoh dan ketergantungan kepada bangsa lain.
Gempuran bangsa asing itu biasanya dikaitkan dengan masalah pornografi dan narkotika. Dua hal itu kebanyakan produksi dari luar negeri. Maka, untuk keduanya banyak pakar dan pemerintah berdiskusi hingga merumuskan langkah menangkalnya. Untuk pornografi yang bisa merusak generasi bangsa dengan cara 'meracuni' mentalnya sehingga menjadi malas, tidak kreatif, hingga berujung pada tindakan kriminal, semisal melakukan aksi pelecehan seksual, pemerintah melalui Kementerian Informasi dan Komunikasi melakukan pemblokiran situs-situs porno dan mengajak anak-anak muda untuk bijak dalam bermedia sosial.
Sedangkan narkotika yang bahayanya bisa menjadikan mental generasi bangsa rusak dan lumpuh hingga akhirnya berdampak pada perilaku menyimpang yang jauh lebih merusak ketimbang efek pornografi, pemerintah gencar melakukan razia, tes urine, dan sosialisasi bahaya narkotika.
Wajar jika pemerintah cuek dengan tudingan dunia internasional yang mengkritik hukuman mati bagi terpidana kasus narkoba, sebab dampak narkoba sungguh mengerikan.
Upaya menghindarkan anak-anak Indonesia dari dua "racun" melumpuhkan dan mematikan itu terus dilakukan dengan hasil yang masih jauh dari harapan. Sebab, kasus-kasus yang pangkalnya dari masalah pornografi yang narkotika kisahnya tak pernah surut, banyak anak muda diborgol karena pelecehan seksual setelah menonton film porno atau pesta sabu. Belakangan ada "guru spiritual" yang dipuji banyak artis juga diborgol gara-gara sabu.
Belum tuntas dengan bahaya pornografi dan narkotika, bangsa ini dipaksa berjuang melawan "racun" lain yang bahayanya sama mematikan dengan nartkotika. Selasa (6/9), polisi dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggerebek lima gudang obat palsu di Balaraja, Banten dan ditemukan 42 juta butir obat palsu berbagai merek, antara lain Carnophen, Trihexyphenydyl, Heximer, Tramadol, dan Somadryl.
Bagi masyarakat umum, obat palsu itu tak beda dengan obat asli karena bentuknya serupa. Padahal setelah diteliti adalah palsu. Apa dampaknya jika mengonsumsi obat-obat paslu itu?
Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, obat palsu itu mengandung zat berbahaya. Salah satu obat yang dipalsukan adalah antinyeri merek Tramadol, yang jika disalahgunakan, dapat menimbulkan efek halusinasi dan efek negatif. Orang yang mengonsumsinya menjadi lebih berani dan bisa berbuat kriminal. Atas temuan obat palsu itu, sejumlah daerah di Jabar pun dibuat sibuk, menyisir sejumlah tempat dan menyebar imbauan kepada masyarakat untuk waspada peredaran obat palsu.
Obat palsu, sebelumnya ada vaksin palsu, menjadikan perjuangan bangsa ini memproteksi generasi bangsa kian berat. Gempuran untuk merusak mereka, tak lagi dari bangsa asing, tapi datang dari bangsa sendiri. Demi keuntungan, orang melupakan bahwa yang mengonsumi obat palsu atau vaksin palsu adalah generasi yang kelak akan mengelola negeri ini. Jika mental rusak, mereka akan tumbuh menjadi generasi lemah dan tak memiliki keberanian menjadi pemenang. Jadilah bangsa ini menjadi bangsa yang sakit karena 'diracun' oleh bangsa sendiri. (*)