SOROT
Atasi Masalah dengan Masalah
Perjuangan memang belum selesai. Masih ada 17 laga di putaran kedua yang harus dijalani.
Penulis: Giri | Editor: Kisdiantoro
Oleh Sugiri U. A
Wartawan Tribun
PUNYA reputasi bagus di mata bobotoh, peran Djadjang Nurdjaman mendapat ujian berat di ISC A 2016. Menangani Persib Bandung dengan komposisi bukan pilihannya merupakan masalah yang harus diselesaikan untuk mendapat hasil terbaik. Berada di dapur tim dalam sembilan laga terakhir, Persib finis di posisi tujuh putaran pertama. Bukan posisi yang diinginkan mengingat Persib selalu dikaitkan dengan nama mentereng dan sejarah panjang apik yang sudah ditorehkan.
Perjuangan memang belum selesai. Masih ada 17 laga di putaran kedua yang harus dijalani.
Ada rasa optimistis, tapi harus realistis. Mematok target tinggi dengan kekuatan tak memadai hanya akan menyakiti diri sendiri. Untuk itu, pelatih sudah meng-up grade kekuatan. Seperti kontestan lain, Djadjang mendatangkan pemain baru. Seluruh kuota pemain asing diisi. Diogo Ferreira sudah bergabung untuk menambah stok pemain bertahan meski bisa ditempatkan di gelandang. Marco Flores segera bergabung untuk mengorek sisa-sisa ketajaman Sergio van Dijk yang selama ini belum terlayani dengan baik. Flores dan Sergio pernah menjadi partner saat sama-sama membela Adelaide United di Aleague. Persoalannya, apakah kehadiran Diogo dan Flores benar-benar menjadi solusi atau malah tambahan persoalan.
Diogo digadang-gadang bisa ditempatkan sebagai stopper dan gelandang bertahan. Djadjang sudah mencobanya di dua posisi itu saat Persib mengalahkan Progresif FC dengan skor 5-0. Pujian mengalir kepadanya walau lawan lebih banyak bermain di area sendiri.
Dengan statusnya sebagai pemain asing dan dianggap untuk solusi, Diogo yang mustahil dijadikan pemain cadangan, akan memakan korban. Di stopper, dia akan mengusik duet Vladimir Vujovic-Yanto Basna yang sudah klop. Kolaborasi keduanya menjadi bagian penting tak bobolnya gawang I Made Wirawan dalam tiga laga terakhir. Basna yang awalnya bersaing dengan Purwaka Yudhi seakan mendapat berkah. Purwaka harus menepi agak lama akibat cedera sehingga Diogo didatangkan karena lini belakang juga ditinggal Hermawan.
Masalah muncul karena dengan usia yang masih muda dan mampu menanggung beban, Basna harusnya tetap diberdayakan. Bisa saja dia akan mengalami pelandaian jam terbang kalau Diogo ditempatkan di sana. Artinya, Basna akan terbunuh seiring berjalannya waktu.
Opsi lain, jika dimainkan di gelandang bertahan, posisi Kim Kurniawan yang masih bisa digoyang akan hilang. Sama seperti duet Vujovic-Basna, Kim juga bisa saling menutupi dengan Hariono di wilayah kerjanya. Saat Djadjang menegaskan tak mau coba-coba komposisi, duet Kim-Hariono yang muncul.
Kasus Diogo mungkin sedikit berbeda dengan Flores, meski jika yang diganti adalah Juan Carlos Belencoso, harusnya striker yang dicari. Sebagai sesama playmaker, Flores akan "saling bunuh" dengan pemain Argentina lainnya yang lebih dulu bergabung, Robertino Pugliara. Nama terakhir dianggap tidak menjalankan tugasnya dengan baik karena gagal assist dan umpannya sering tak sampai sasaran meski sudah mencetak tiga gol. Ukuran assist sebenarnya bisa dimentahkan untuk menyatakan Robertino tidak berbuat untuk tim. Alasannya jelas, assist hanya terjadi jika umpan seorang pemain diselesaikan pemain lain menjadi gol. Padahal, berdasarkan statistik di situs ISC A, akurasi tembakan pemain depan sangat minim sehingga berbanding lurus sedikitnya gol yang tercipta. Barangkali, dari sekian usaha striker ada yang hasil umpan Robertino.
Namun, Flores bisa saja disandingkan dengan Robertino. Ini mungkin jadi solusi lain seperti saat Firman Utina dan Makan Konate main berbarengan. Sayangnya, jika Basna tetap menjadi tandem Vujovic dan Diogo dijadikan gelandang bertahan, maka Kim dan Hariono menghilang dari lapangan. Maka, inilah jalan mengatasi masalah dengan masalah.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sugiri_2_20151016_100713.jpg)