Ilmu dan Teknologi

Dosen Kelahiran Kediri Sebut Indonesia Sudah Saatnya Punya Saluran Internet Sendiri

Mantan Asisten Profesor di Japan Advanced Institute of Science and Technology, School of Information Science Jepang ini optimis . . .

microsoft.com
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Pengguna internet di Indonesia sangat tinggi, bahkan makin banyaknya produk smartphone murah menambah banyak pengguna internet. Sudah saatnya Indonesia bisa mewujudkan bisa mempunyai saluran internet sendiri dan tidak bergantung dengan negara lain.

Dosen Telkom University (Tel-U), Dr Eng Khoirul Anwar optimis Indonesia bisa memiliki channel (saluran) sendiri agar tidak “bertabarakan” dengan saluran milik negara atau perusahaan lain. “Memiliki saluran sendiri sangat berguna agar masyarakat Indonesia dapat mengaplikasikan internet dalam kehidupan sehari-hari atau internet of things,” katanya dalam rilis yang diterima Tribun, Minggu (28/8/2016).

Internet of Things, atau dikenal juga dengan singkatan IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Kemampuannya seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata.

Hal ini dijelaskan oleh Khoirul di sela-sela acara The 22nd Asia-Pacific Conference on Communications yang diselenggarakan di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta- Kamis-Jumat (25-27/8). Bertema “Advancement of Science, Technology, and Applications in Communications for Humanity”, konferensi yang diselenggarakan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Chapter Indonesia ini diikuti oleh 401 peneliti dari 23 negara.

“Masalahnya, apakah koneksi internet di Indonesia sudah siap? Karena jika kita lihat di berbagai negara, problem koneksi ini sudah dapat diselesaikan, tetapi di Indonesia masih ketinggalan,” kata penemu konsep dua Fast Fourier Transform (FFT) yang di kemudian hari dipakai dalam teknologi 4G LTE itu.

Mantan Asisten Profesor di Japan Advanced Institute of Science and Technology, School of Information Science Jepang ini optimis Indonesia dapat mengembangkan saluran sendiri yang tidak terganggu atau bertabrakan dengan saluran lainnya.

Pria kelahiran Kediri, Jawa Timur itu mencontohkan saluran yang ditemukan oleh para peneliti dari Stanford University yang kemudian disebut dengan Stanford University Channel dan dijadikan model oleh banyak negara.“Saya kira kita akan mampu membuat seperti itu meski tentu harus kita akui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesakan. Saya sendiri masih terus melakukan penelitian untuk mendisain device (alatnya) selain juga meneliti tentang salurannya,” katanya. (tif)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved