Sorot

Haji yang Mencerahkan

MENUNAIKAN ibadah haji adalah impian bagi setiap Muslim yang beriman kepada Tuhannya, Allah.

Haji yang Mencerahkan
dok pribadi
Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh: Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

MENUNAIKAN ibadah haji adalah impian bagi setiap Muslim yang beriman kepada Tuhannya, Allah. Untuk memenuhi rukun Islam kelima, seorang Muslim diwajibkan memiliki cukup bekal, baik harta maupun bekal kesehatan. Tanpa keduanya, seseorang tidak diwajibkan untuk melaksanakan haji.

Dengan persiapan yang panjang, sampai bertahun-tahun karena masa tunggu pemberangkatan di Jawa Barat bisa lebih dari 10 tahun, para jemaah calon haji di Jawa Barat, mulai diberangkatkan. Pada Senin (8/8), sebanyak 444 jemaah haji kloter pertama Jawa Barat asal Garut diberangkatkan. Setelah menginap di asrama haji Bekasi, hari berikutnya diterbangkan ke tanah suci. Kemudian pada Selasa (9/8), calon jemaah haji Kota Bandung yang tergabung dalam kloter 3 diberangkatkan dari Markas Polda Jabar. Selanjutkan akan disusul pemberangkatan calon jemaah haji dari daerah-daerah lain di Jawa Barat.

Suasana saat pemberangkatan sangat mengharukan. Banyak sanak keluarga yang menitihkan air mata, haru, karena keluarganya mendapatkan kesempatan dipanggil Allah, untuk menemui-Nya, beribadah haji. Mereka mendokaan agar semua prosesi ibadah haji berjalan lancar dan tak terdengar adanya tragedi terowongan Mina atau lainnya yang bakal membuat keluarga di kampung merasa cemas. Mereka juga mendoakan haji yang dikerjakan adalah haji yang mabrur, haji yang diterima oleh Allah, dan haji yang dapat mencerahkan bagi pelaku dan lingkungannya.
Ibadah haji adalah ibadah yang diperintahkan oleh agama yang dianut orang-orang Muslim, karena ada banyak faidah kebaikannya dan berpahala surga. Maka, seharusnya ibadah haji akan menjadikan pelakunya menjadi orang yang bertambah keimanannya, bertambah baik perangainya, dan menjadi contoh baik bagi lingkungannya.

Keberangkatan lebih dari 200 ribu calon jemaah dari Indonesia pada 2016 adalah keuntungan bagi negeri ini. Mengapa? Karena akan semakin banyak orang-orang yang akan menjadi solusi atas persoalan yang tengah menjangkiti bangsa ini, terutama persoalan mental atau penyakit hati, kinerja rendah, malas, korupsi, mengotori lingkungan, mudah marah, mudah terprovokasi, dan cepat bertindak anarkistis.

Namun pada kenyataannya ibadah haji yang mereka lakukan tak banyak mengikis penyakit- penyait itu. Banyak pelaku korupsi, asusila, tindakan brutal, memprovokasi, dan hal-hal negatif lainnya, dilakukan oleh orang-orang yang begelar haji. Bahkan di negeri ini, sejarah mencatat, menteri agama yang satu di antara tugasnya adalah mengurusi penyelenggaraan haji, divonis hakim dengan hukuman enam tahun penjara karena dinilai terbukti secara sah melakukan korupsi yang mengakibatkan negara mengalami kerugian Rp27 miliar. Sang menteri didakwa melakukan penyimpangan atas jabatannya pada masa periode kerja penyelenggaraan ibadah haji 2010-2011 dan 2012-2013.

Mengapa ibadah haji yang menjadikan pelakunya dipanggil Pak Haji atau Bang Haji, tak berdampak pada perbaikan lingkungan?

Ada banyak penyebabnya. Di antaranya, bisa jadi karena ongkos atau bekal yang digunakan untuk ibadah haji berasal dari sumber yang tidak halal, hasil korupsi atau menipu. Lalu, proses keberangkatannya pun dilakukan dengan cara curang, misal menyuap penyelenggara agar keberangkatannya tidak perlu mengantre. Calon jemaah haji mestinya menyadari dan paham bahwa keberangkatannya ke tanah suci adalah untuk beribadah, maka bekal dan caranya pun harus baik.

Penyebab lainnya bisa jadi karena niat berhaji bukan karena beribadah kepada sang pencipta, melainkan karena ingin dipuji, ingin dipanggil Pak Haji, ingin dihormati tetangganya, atau karena niat pesugihan, mencari harta kekayaan. Maka, hajinya pun menjadi bengkok dan menghamba pada setan.

Akhirnya, ayo kita doakan saudara-saudara kita yang pada tahun ini berhaji, semoga hajinya menjadi haji yang mabrur, haji yang diterima Allah dan membawa kebaikan bagi lingkungannya. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved