Cerpen Toni Lesmana
Cerpen R
RAKIN sudah bugil. Berlari-lari dalam kamar. Berlari gelisah dalam kepungan tulisan huruf R yang memenuhi tembok kamarnya. Kamar yang hijau.
RAKIN sudah bugil. Berlari-lari dalam kamar. Berlari gelisah dalam kepungan tulisan huruf R yang memenuhi tembok kamarnya. Kamar yang hijau. Catnya hijau. Gorden jendela hijau. Lampu yang tergantung hijau. Hijau seperti balon yang meletus dalam lagu anak-anak. Kepala Rakin gundul seperti balon. Di bawah lampu hijau, kepalanya benar mirip balon hijau. Namun kepala Rakin tak meletus padahal sepanjang malam berulangkali dibenturkan pada huruf-huruf R di tembok.
R dalam kamar bukanlah inisial nama Rakin. Tapi Rasa. Rasa adalah gadis yang telah menculik dan mencekik Rakin dengan cinta. Setiap malam Rakin menulis satu huruf R di tembok, dengan pensil atau pena atau spidol atau cat atau darah. Satu huruf setiap malam. Malam yang hijau. Huruf yang ditulisnya setelah ia selesaikan sebuah puisi dalam setiap malamnya. Puisi untuk R.
Malam-malam Rakin selalu hijau. Sebab hijau adalah rindu. Rakin juga sudah berencana untuk memenuhi tubuhnya dengan tato huruf R, namun niat itu belum terlaksana karena dia masih takut terhadap jarum. Sejak kecil, dia takut terhadap jarum, sejak memegang keyakinan jarumlah yang menjadi penyebab balon hijau meletus.
Ini adalah malam ketujuh Rakin berlari bugil dalam kamar semenjak mendengar kabar kepergian Rasa ke luar negeri. Rasa, gadis penjual jamu keliling pujaannya, gadis ayu yang selalu berbaju warna hijau itu ikut dalam rombongan besar TKW.
Rakin dihantam badai kehilangan. Setiap malam melucuti pakaian dan berlari dalam kamar. Sebagai penyair, Rakin benar-benar sudah mati. Kata-kata sudah dibawa pergi Rasa. Lha, apa artinya penyair tanpa kata-kata yang baru dan segar, seperti sindir Buloh Kribo, teman karib yang selalu meludahi puisi-puisinya.
Hampir pagi, ponsel Rakin yang terbaring di depan laptop bututnya bergetar hebat. Rakin baru saja hendak membentur-benturkan kepala gundulnya pada tembok. Dia mengangkat kepala gundulnya yang hampir menyentuh huruf R.
"Aku melihat Rasa di pasar!" sebuah pesan singkat. Pesan singkat dari Buloh. Buloh memang doyan menulis di pasar. Pesan singkat itu yang segera meledak dalam dada Rakin. Aneh, kabar Rasa ke luar negeri itu dari Buloh, kok sekarang bilang Rasa di pasar. Tapi yang terpenting adalah kabar terakhir.
Rasa masih di sini. Di pasar. Pasar di kota ini mirip pemakaman.
Rakin menyambar kolor, celana buntung, dan kaus oblong. Sepatu. Sebelum pergi, masih sempat mengetik selarik puisi di layar laptopnya yang kosong melompong.
R, sebelum menjadi penyair aku adalah pelari
kukejar kau ke pasar, ke pusar dunia
pusara segala aksara
Rakin meninggalkan pintu kamar yang terbuka. Berlari dalam gang gelap. Gang yang teramat panjang dan berliku. Rumah-rumah berdesakan, seperti pantat-pantat dalam mobil angkutan kota. Rakin berlari menerobos lenguh subuh yang berhamburan dari jendela-jendela kamar. Gang benar-benar dipadati sampah desah yang basah. Gang laknat.
Seperti mata kucing. Mata Rakin hijau menyala. Melesat. Lurus. Berbelok. Kanan. Menikung. Kiri. Kiri. Kiri. Seminggu tak tidur tapi Rakin masih gesit dan lincah. Melompati erang seseorang yang meregang dalam dekap seorang banci. Menghindari pisau seorang pemabuk yang berkelahi dengan angin dingin. Gang panjang dan gelap dan basah.
Di mulut gang, Rakin terpana oleh lambaian tangan. Rasa berdiri di tepi jalan. Rok mini, baju ketat. Kenapa ada banyak Rasa berjajar di tepi jalan. Melambai-lambai. Seksi. Tapi Rakin tak mau tertipu. Seminggu tak tidur, mata mungkin sudah mabuk kantuk. Rasa ada di pasar, bukan berjajar di jalan. Rasa tak pernah melambai. Selalu menunduk seperti asyik menikmati sepasang balon di dadanya sendiri.
Rakin melesat lagi di trotoar. Ke timur. Ke arah matahari terbit. Ke arah pasar. Pasar adalah tempat matahari terbit. Itulah kenapa Buloh yang kribo menggilai pasar. Buloh tak pernah main-main. Semoga Buloh menjaga Rasa di pasar. Menjaga dengan mata. Sebab, jika menjaga dengan tangan, celakalah. Tangan seorang kritikus lebih liar dari tangan pencuri. Bisa habis Rasa.
Trotoar keras dan terang. Sepatu Rakin rakus seperti tikus. Melahap jarak. Lampu-lampu jalan menyerbu kilat kilap keringat di kepala gundul. Rakin terus berlari. Sesekali terpeleset menginjak tubuh-tubuh gelandangan. Menginjak mimpi manusia-manusia kardus.
Jalan selalu sibuk. Rakin menyeberang. Tak mau menunggu. Jerit rem dan gaduh tubrukan di belakang punggungnya. Alun-alun masih hancur bekas ledakan bom yang dipasang anak-anak kecil. Anak-anak kecil yang marah karena tak bisa lagi bermain dengan gratis. Anak-anak kecil yang nakal dan beringas. Bom dipasang seenaknya. Masjid Agung ikut hancur, kubahnya terlontar jauh dan jatuh di atas sebuah mal. Mal yang kemudian menjadi laku dan diserbu orang-orang sebab tempat jatuhnya kubah diyakini sebagai tempat yang penuh berkah. Mal yang buka 24 jam. Selalu penuh dan sibuk.
Tubuh Rakin mandi keringat. Di bekas reruntuhan Alun-alun dan Masjid Agung terlihat ada banyak tangan yang melambai. Rasa. Rasa dengan baju compang-camping. Melambai dan menadahkan tangan. Rasa berkerumun. Rakin disergap labil. Rasa, begitu banyak Rasa. Tapi Rasa tak pernah menengadahkan tangan. Rasa selalu menyediakan sebuah tempat untuk para pembeli jamu membayar dan mengambil sendiri kembaliannya. Tangan Rasa hanya untuk meracik, menuang, dan menyajikan jamu. Tangan yang lembut dan harum.
Sebuah pesan singkat masuk lagi. Ponsel bergetar hebat di saku celananya. Getaran yang membatalkan tangan yang hendak membalas lambaian. Hampir saja.
"Cepatlah! Sekali lepas, tak akan tertangkap!" Rakin seakan melihat kepala kribo Buloh nongol dan sepasang mata belonya melotot dari layar ponsel.
Cepat Rakin menepuk-nepuk kedua kaki. Seakan memberi isyarat untuk lebih kencang lagi berlari. Hanya tinggal satu perempatan lagi. Kaus oblong sudah kuyup. Rakin berlari di trotoar sedang keringat berlari di tubuhnya.
Perempatan yang lampu lalu lintasnya selalu berwarna hijau. Perempatan yang macet. Macet. Macet gara-gara mal penuh berkah berkat kubah. Mal yang megah itu berdiri pongah di sana. Mal yang transparan sehingga seluruh isinya nampak jelas. Jalanan menjadi tempat parkir. Orang-orang berdesakan. Di trotoar, jalan. Berebut ingin masuk ke dalam mal. Ingin berbelanja berkah. Sudah banyak korban jatuh gara-gara perkelahian yang cenderung menjadi pertempuran. Aparat dan pejabat juga tak mau kehabisan berkah. Mereka bahkan lebih buas. Sesekali terdengar suara salak tembakan. Jerit dan teriakan.
Rakin melesat. Matanya semakin hijau. Hijau redup. Rakin melompat ke atas mobil. Berlari dan melompat di atas mobil-mobil yang kaku. Tepat di tengah perempatan dalam kepung empat warna hijau di empat tiang lampu lalu lintas, Rakin tiba-tiba terhenti.
Rakin limbung. Rasa ada di mana-mana. Orang-orang yang berdesakan di jalan, yang berkelahi di pintu mal, yang bertempur di dalam mal. Orang-orang itu adalah Rasa.
Rasa berteriak di jalan. Rasa memukul Rasa. Rasa menembak Rasa. Rasa melempar Rasa dari atas kubah.
Rasa ada di mana-mana. Semua Rasa mendadak diam dan bersamaan menatap Rakin. Mereka melambaikan tangan. Lambaian tangan Rasa di mana-mana.
Rakin berlari di tempat, di atas sirene mobil polisi.
Rasa mengepalkan tangan. Rasa membidikkan senapan. Rasa melempar.
Rakin memukul-mukul kepala gundulnya. Tidak, mereka buka Rasa. Tangan Rasa selalu lembut. Sesekali tanpa sengaja, Rakin suka menyentuh tangan Rasa jika menerima gelas yang disodorkan. Halus sekali. Tangan-tangan yang mulai kasar dan beringas itu tentunya bukan tangan Rasa.
Rakin semakin cepat berlari di tempat. Kakinya hampir tak terlihat. Lantas melesat meninggalkan ratusan mungkin ribuan Rasa yang kembali berdesakan, berkelahi, bertempur. Ribuan Rasa yang rakus berbelanja berkah.
Patung pahlawan di pertigaan. Pintu pasar sudah terlihat. Lengang. Selengang langit dari garis-garis pajar. Patung juga berubah menjadi patung Rasa, bukan lagi patung pahlawan yang membawa obor, tapi menjadi patung Rasa yang menggendong bakul jamu dan mengangkat tinggi-tinggi gelas jamu. Rakin tak menghiraukannya, sekalipun pinggul patung itu sedikit menggodanya, bergoyang-goyang persis gerak khas pinggul Rasa.
Rakin sudah berlari di dalam pasar. Pasar yang remang dan sepi. Kepala gundul nyelonong sepanjang los pasar yang kosong. Jongko-jongko melompong mirip layar laptop Rakin sepanjang tujuh hari tujuh malam. Kepala gundulnya menyundul ke sana-kemari. Seisi pasar dijelajahi. Nihil. Hanya kekosongan yang menakutkan. Mirip sebuah rumah hantu.
Kumis tikus muncul di mana-mana. Cericit.
Rakin merinding. Di mana Rasa. Di mana Buloh.
Tangannya cepat merogoh ponsel. Gesit memijit. Pulsa habis. Panik. Ponsel dibanting. Pecah. Kring. Dering ponsel di mana-mana. Keping-keping ponsel berdering. Rakin semakin panik. Sepasang matanya kini hijau tua. Seperti lumut.
Tikus-tikus memburu serpih dan keping ponsel. Memburu dering. Rakin mengusir tikus, memungut setiap dering. Dikumpulkannya di atas telapak tangan. Didekatkan ke kuping. Dering makin nyaring. Dering membanjiri isi kepalanya.
Kini Rakin mendengar dering dalam kepalanya. Kepalanya yang gundul berdering. Kupingnya berdering. Matanya berdering. Hidungnya berdering. Bibirnya berdering. Giginya berdering. Lidahnya berdering.
Seluruh tubuh Rakin berdering. Rakin membenturkan kepala ke tiang listrik. Dering berhenti.
"Nah, gitu dong diangkat!" Buloh berkaok-kaok mirip gagak. Rakin meringis. Buloh berteriak dari dalam kepalanya.
"Woy, aku sudah di pasar! Di mana Rasa?" Rakin berteriak-teriak sambil terus berlari. Mengelilingi pasar. Tak ada kribo Buloh. Tak ada senyum Rasa.
"Aku juga di pasar. Pasar yang ada di kepalamu! Ayo tebak, di manakah Rasa berada? Ha-ha- ha!" Buloh berkaok lagi. Diakhiri tawa panjang yang kasar penuh dahak.
Rakin memegang kepala. Menarik-narik kepala gundulnya, seperti ingin mencopotnya dari leher. Seperti ingin mencabut kepala gundul yang semakin licin oleh keringat. Rakin sibuk sendiri ingin melucuti setiap bagian tubuhnya. Namun yang lolos hanya kaus oblong, celana buntung, kolor dan sepatu. Rakin bugil. Bugil lagi. Berlari. Mencari Rasa. Di pasar. Pasar yang sepi. Yang mati.
R, sebagai penyair aku telah mati tapi sebagai pelari aku abadi!
Rakin meneriakkan kata-kata. Memekik. Memanggil-manggil Rasa. Melengking-lengking. Menggelinding. Sepasang kakinya berlari lagi. Sepasang matanya kini sehijau tahi kebo memandang bulat hijau yang merangkak di langit. Matahari hijau seperti balon yang meletus dalam lagu anak-anak.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cerpen-r_20160730_211325.jpg)