Kesehatan

Kamu Harus Tahu, Sehat Mana Menjadi Vegetarian atau Pemakan Segala?

Menjadi vegetarian tidak selalu menjamin kesehatan, kata Ahli Gizi Jaime Mass, pendiri Jaime Mass Nutritionals.

shutterstock
Sepasang kekasih makan siang. 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Vegetarian telah lama dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, hewan, bahkan kesehatan tubuh dan jiwa mereka. Tapi karena pola makan mereka tidak melibatkan daging, hal itu cenderung melawan mayoritas orang yang adalah pemakan segala (daging dan tumbuhan).

Sayangnya, sekarang ini, banyak orang lebih mencintai daging dibanding sayur atau menyeimbangkan antara asupan sayur dan daging. Dan ini bukannya tanpa konsekuensi. Kita tahu, bahwa terlalu banyak makanan berlemak terutama lemak jenuh, berpotensi meningkatkan berbagai penyakit berbahaya seperti jantung, kanker, stroke dan diabetes.

Peneliti dari University of Southern California menemukan orang-orang dengan pola makan kaya protein hewani, empat kali lebih mungkin untuk meninggal akibat kanker dibandingkan dengan mereka yang makan daging dalam jumlah sedikit atau sedang.

Dengan mengurangi asupan daging, keju, dan telur, dan menggantinya dengan sayuran berkualitas tinggi, kacang-kacangan, dan biji-bijian, tubuh Anda akan terima kasih. Hanya saja, pastikan tubuh Anda mendapatkan semua nutrisi dalam jumlah sesuai yang dibutuhkan.

Menjadi vegetarian tidak selalu menjamin kesehatan, kata Ahli Gizi Jaime Mass, pendiri Jaime Mass Nutritionals.

"Ini tentang bagaimana Anda memilih jenis makanan. Vegetarian yang mengonsumsi kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, biji-bijian, lebih sehat dari vegetarian yang mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan seperti muffin, pasta, dan kue. "

Jadilah sadar atas apa yang Anda masukkan ke dalam tubuh Anda. Vegetarian tidak identik dengan kesehatan yang baik.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu dalam jurnal PLoS ONE, di mana tim peneliti Austria membandingkan omnivora dengan herbivora mengungkapkan, "Vegetarian berada dalam keadaan kesehatan yang paling buruk dibandingkan dengan kelompok diet lainnya," tulis para penulis.

Perlu dicatat, penelitian ini adalah penelitian yang sangat terbatas dalam hal bagaimana cara peneliti membandingkan antara pola makan satu dengan pola makan lainnya.

Bahkan, para peneliti mengakui ada kesalahan kecil yang terjadi dalam penelitian mereka yang melibatkan 1.000 relawan ini dan mengatakan, bahwa hasil penelitian tidak mewakili seluruh pemakan daging atau vegetarian di seluruh dunia.

"Setiap kali Anda menghindari jenis makanan tertentu, tentu ada risiko Anda kehilangan nutrisi tertentu yang ada di dalam makanan tersebut. Ini bisa sama berbahayanya dengan jika Anda terlalu berlebihan mengonsumsi suatu jenis makanan," kata Massa.

Vegetarian perlu fokus pada upaya mendapatkan cukup protein dalam menu sehari-hari mereka, sedangkan seoranng vegan, yaitu mereka yang sama sekali tak menyentuh produk hewani hingga turunannya, seperti susu, telur, dan sebagainya, perlu memprioritaskan zat besi, kalsium, vitamin B12, dan seng. Vitamin D dan suplemen asam lemak omega-3 mungkin juga diperlukan untuk mempertahankan gaya hidup yang aktif.

Intinya, kedua kelompok pola makan, baik pecinta daging maupun yang tidak makan daging dan produk hewani lainnya, harus yakin mereka mengasup protein, karbohidrat, vitamin dan lemak sehat serta nutrisi lainnya dalam jumlah seimbang sesuai kebutuhan tubuh.

Pola makan flexitarian karnivora atau semi vegetarian yang lebih mengutamakan buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian mungkin adalah yang terbaik untuk mengadopsi gaya hidup sehat. (Medical Daily/Kompas.com)

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved