Teras
Istanbul
SEPERTI saya tersedot oleh tulisan sastrawan Sunda Syarief Amin tentang kampung halamannya...
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Oleh Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar
“SETIAP kali aku memikirkan tentang keempat penulis ini bersama-sama, aku seperti diingatkan bahwa yang memberikan ciri khas sebuah kota bukan hanya topografi atau bangunan- bangunannya, melainkan jumlah keseluruhan dari setiap perjumpaan tak disengaja, setiap kenangan, huruf, warna dan citra yang berdesakan di dalam ingatan warga kotanya setelah mereka hidup bersama di jalan yang sama setelah lima puluh tahun. Saat itulah aku mulai mengkhayalkan bahwa aku pun mungkin pernah secara tak sengaja dengan keempat penulis melankolis ini pada suatu saat pada masa kanak-kanakku.”
Paragraf tersebut ditulis penulis Turki peraih Nobel Sastra Orhan Pamuk dalam bukunya, Istanbul; Kenangan Sebuah Kota, halaman 158.
Seperti saya tersedot oleh tulisan sastrawan Sunda Syarief Amin tentang kampung halamannya yang ia beri judul Lembur Kuring dan buku lainnya mengenai kenangannya pada Kota Bandung, Keur Kuring di Bandung, para penulis hebat yang mendedikasikan hidupnya untuk sepenuhnya menulis selalu bagaikan cahaya pelangi yang mengundang pesona dan betah mengikuti kerlap- kerlipnya.
Dalam kalimat tadi, Pamuk sedang kesengsem pada empat penulis Turki yang menurutnya melankolis.
Mereka adalah penyair Yahya Kemal; penulis sejarah yang di negerinya dikenal berintegritas, Resat Ekrem Kocu; penulis memoir Abdulhak Sinasi Hisat; dan penulis novel Ahmet Hamdi Tanpynar. Kebetulan keempatnya hidup melajang.
Bagi seorang penulis,.....
Selengkapnya, naskah ini bisa dibaca di edisi cetak, Tribun Jabar, Senin (18/7/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-teras-edisi-senin-18-july-2016_20160718_083912.jpg)