TERAS

Polyphonic

JADI pejabat publik otomatis akan menjadi perhatian publik. Begitu juga tokoh publik.

Polyphonic
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

Oleh Cecep Burdansyah

JADI pejabat publik otomatis akan menjadi perhatian publik. Begitu juga tokoh publik. Pejabat publik bisa sekaligus sebagai tokoh publik ketika kinerjanya diapresiasi banyak orang, dan ia dijadikan contoh bagi yang lain. Tokoh publik belum tentu sebagai pejabat publik. Tokoh publik diakui prestasinya oleh publik karena manfaatnya yang dirasakan. Aa Gym contohnya. Tapi tokoh publik bisa juga kemudian menjadi pejabat publik. Gus Dur misalnya. Seorang ulama dan intelektual dari NU yang kemudian jadi presiden.

Tokoh publik yang sudah malang melintang dan diakui masyarakat biasanya prestasinya sering tak dipertanyakan lagi. Saking sudah jadi panutan, apa pun yang dikatakan pasti benar dan diikuti. Dalam dakwah kita punya Aa Gym, juga pernah memiliki sosok Zainuddin MZ. Dalam musik dangdut kita punya Rhoma Irama. Dalam sastra kita punya Pramoedya Ananta Toer.

Yang jadi pusat perhatian dari tokoh publik biasanya perilakunya. Maka tak heran ketika Aa Gym punya istri muda, gegerlah jagat publik, terutama kaum ibu. Begitu juga waktu Zainuddin MZ mendirikan partai politik. Pram, yang dikenal sebagai penulis antiborjuis, jadi bahan gosip juga ketika ia mau memenuhi undangan ke Amerika Serikat untuk mendapat tanda kehormatan dari Universitas Michigan. Padahal, baik Aa Gym, Zainuddin MZ, maupun Pram tak ada yang salah. Ketiganya punya hak, tak sedikit pun aturan yang dilanggar. Tapi begitulah nasib tokoh publik. Selalu jadi bahan gosip.

Pejabat publik pun demikian, bahkan lebih berat. Selain perilakunya yang jadi pusat perhatian, kinerja yang merupakan jantung dari pejabat publik menjadi taruhan. Apa yang dikerjakannya harus mengarah ke manfaat publik secara langsung. Jika sudah sesuai, itu pun jangan berharap mendapat sanjungan dari publik secara keseluruhan. Tapi dengarlah sebagai polyphonic.

Para pejabat publik di era sekarang, dalam perspektif Jurgen Habermas, sangat beruntung karena selain media konvensional melimpah, disertai maraknya sosial media. Dalam demokrasi deliberatif, percakapan semua warga menjadi memungkinkan. Siapa pun warga bisa memberikan masukan dan penilaian terhadap kinerja pejabat publik. Arena percakapan di ruang sosial media dan media konvensional, selain sebagai masukan, juga bisa jadi bahan pembanding. Seorang pejabat publik yang cerdas akan bisa membedakan penilaian yang tulus dan penilaian yang politis.

Memang gosip tak terhindarkan. Bukan saja di zaman sekarang ketika informasi bisa meluncur dalam hitungan detik, sejak dulu gosip sudah menjadi bagian hidup manusia. Gosip harus kita terima sebagai realita. Sikap yang elegan adalah bagaimana kita memperlakukan gosip tersebut. Kita juga jangan lupa, seringkali dalam gosip ada kebenaran. Desas-desus tidak selamanya jahat, terutama di arena yang penuh tekanan atau sarat basa basi.

Di era ketika informasi menjadi milik semua orang, kepiawaian menakar informasi yang berkualitas dan menimbang penilaian kritis itu menjadi amat mahal. Pejabat publik yang secara intelektual kurang cerdas akan gampang tersulut emosi. Lalu teriak-teriak menantang, menjadikan demokrasi ini mirip arena duel ala koboi, atau gladitaor, atau adu panco. Kalau demokrasi diartikan nyali untuk adu mulut, maka pejabat publik itu sudah kehilangan banyak waktu untuk membaca buku. Mungkin juga karena terlalu gemar bersolek di cermin mematut- matut dirinya bahwa dia seorang yang hebat.

Lalu apa manfaat demokrasi delibaterif itu? Salah satu contohnya gagalnya penempatan replika dinosaurus di Alun-alun Ujungberung, Bandung. Aneh memang. Mengapa harus patung dinosaurus? Apa hubungannya Kota Bandung dengan binatang purbakala itu? Warga tidak pernah mendapat penjelasan yang cukup. Apa cukup dengan alasan untuk membahagiakan warga berfotoria di situ lalu indeks kebahagiaan warga Kota Bandung naik? Duh, ieung.... (*)

Penulis: cep
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved