Teras
Teras: Aub
BAGI orang-orang akademis, pepatah tersebut mungkin disebut sebagai pepatah....
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
“HIRUP mah kudu aub jeung batur,” begitulah pepatah dalam Bahasa Sunda.
Bagi orang-orang akademis, pepatah tersebut mungkin disebut sebagai pepatah yang mengandung kearifan lokal.
Arti kalimat tersebut, kurang lebih, hidup itu harus bergaul dengan orang lain, jangan mengisolasi diri.
Maknanya sebetulnya sangat sederhana, selain sebagai individu, manusia adalah entitas sosial. Tak bisa lepas dari orang lain.
Bahkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, satu sama lain saling tergantung.
Sederhananya, seberlimpah apa pun kita dengan uang, ketika di dalam perjalanan ban mobil kita pecah, kita tak bisa mengerjakan sendiri.
Itu makna sederhananya. Makna lahir karena dalam memenuhi kebutuhan lahir kita betul-betul tergantung pada keberadaan orang lain.
Dalam ekonomi, transaksi ada karena kita butuh barang atau jasa yang kita perlukan tapi kita tak bisa memproduksinya.
Makna lebih luasnya, aub jeung batur tidak sekadar berbasis lahiriah, tapi juga batin dan intelektual.
Karena berbasis dua dimensi itulah, maka pepatah hirup kudu aub jeung batur itu mensyaratkan kita tidak sekadar bergaul dengan orang lain secara fisik, tapi juga dengan karya orang lain, misalnya buku, karya seni, teknologi, dan sebagainya.
Kita boleh saja menyendiri, tapi apabila kita tiap hari menghabiskan waktu untuk membaca, berarti kita aub jeung batur.
Membaca memang pasif, tapi kita mendapat pengalaman literer, yaitu aktif secara emosional dan intelektual. Kita diajak untuk terharu, gembira, sedih.
Kita diajak juga untuk kritis, menyelami seluruh gagasan yang tertuang dalam teks bacaan.
Aub jeung batur juga mengindikaskan kita harus ludeung, berani, dan siap baik lahir maupun batin.
Dalam pergaulan, dalam interaksi dengan orang lain, dengan teknologi, dengan bacaan, selain banyak manfaat, juga mengandung bahaya.
Di situlah tantangan bagi orang yang teuneung dan ludeung.
Dia akan bisa membedakan mana peluang dan mana ancaman. Peluang akan dimanfaatkan sebaik-baiknya, ancaman akan diatasi, tapi tidak dengan jalan menghindari dari kancah pergaulan.
Dalam tradisi filsafat Yunani, kita mengenal sosok Socrates sebagai orang yang suka bergaul.
Setiap hari ia selalu mencari pemuda, mengajak berdialog segala macam hal, mempertanyakan segala sesuatu untuk tidak begitu saja diterima, tapi harus ditelisik, dipikirkan.
Ia sosok yang mengajak orang-orang untuk aub dalam setiap persoalan untuk dicari penjelasannya, bukan untuk dihindari. Dia layak disebut cendekiawan.
Sungguh ironis, di milenia ketiga, sebuah organisasi yang mengaku sebagai himpunan para cendekiawan, yaitu Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, mengusulkan kepada pemerintah agar memblokir Google dan Youtube.
Ini menunjukkan kebodohan yang luar biasa. Hanya karena orang sering mengakses hal-hal yang berbau porno di Google dan Youtube, maka langsung mengidentikkan kedua mesin pencari itu sebagai situs porno. Jauh dari kecendekiaan.
Untuk memahami perbedaan Google dan Youtube dengan situs porno, kawan saya yang ahli dalam teknologi informasi memberikan ilustrasi yang sederhana.
Ibarat kita pergi ke pasar pusat penjualan CD, lalu di situ ada satu pedagang yang menawarkan atau menjual CD porno, apakah pusat penjualan CD itu harus ditutup?
Anehnya, para cendekiawan yang menghimpun dalam organisasinya itu membuat kita tertawa.
Kita tidak tahu apakah permintaan pemblokiran itu karena tidak memahami demokrasi, tidak memahami teknologi informasi, atau karena kepeleset saja.
Saya teringat pada Gus Gur ketika ICMI berdiri.
Dia termasuk yang diajak untuk bergabung, tapi menolak.
Tak terbayang apabila beliau masih hidup. Pasti dia akan tertawa, dan gaya tertawanya yang selalu saya rindukan. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (13/6/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-pemimpin-redaksi-tribun-jabar_20150720_180143.jpg)