Sorot

Kontemplasi

MERUPAKAN waktu yang tepat untuk menyingkirkan puing sekaligus bongkahan dosa.

Penulis: Agung Yulianto Wibowo | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
ISTIMEWA / DOKUMENTASI PRIBADI FACEBOOK
Agung Yulianto Wibowo, Wartawan Tribun Jabar. 

SATU di antara anugerah itu adalah kembali diberi kesempatan untuk menyapa bulan suci Ramadan. Kesempatan, karena belum tentu tahun depan bisa menyapanya lagi.

Kesempatan, karena merupakan waktu yang tepat untuk menyingkirkan puing sekaligus bongkahan dosa, dan merekonstruksi diri menjadi lebih baik.

Lebih baik cara berpikir, bertutur, bersikap, dan berkarya.

Ramadan disambut dengan euforia melalui caranya masing-masing. Seperti di Desa Jayagiri, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, yang menggelar perang lumpur, Tribun Jabar, Minggu (5/6/2016).

Warga berloncatan ke kolam hingga penuh sesak. Perang lumpur selalu dimulai dengan acara ngubyak balong, yakni menangkap ikan dengan tangan kosong.

Mulai ikan lele, kancra, gurame, nila, tambak, hingga nilem.

Warga tak hanya mendapat ikan secara gratis, tetapi juga disediakan door prize bagi yang berhasil menangkap ikan yang sudah dipasangi pita khusus.

Tak pelak, dalam waktu singkat, air kolam menjadi berlumpur dan berwarna cokelat pekat. Ini pertanda perang bisa dimulai.

Lumpur beterbangan, tak peduli siapa yang lebih dulu melempar. Meski seluruh tubuh penuh lumpur, tak ada yang marah.

Apalagi dendam, saat acara berakhir.

Namun, setiap menjelang Ramadan, selalu ada anomali yang cukup mengganggu, yaitu fakta adanya kenaikan harga, terutama daging sapi dan daging ayam.

Harga daging sapi, hingga Minggu (5/6/2016) masih terpantau di kisaran Rp 120 ribu hingga Rp 130 ribu per kg.

Padahal beberapa hari sebelum Ramadan, Presiden Jokowi sudah menginstruksikan secara lisan agar harga daging sapi di kisaran Rp 80 ribu per kg.

Tapi yang ada, hanya sidak pihak terkait, dan rencana operasi pasar. Hanya itu. Karena di bulan puasa, sebaiknya kita sabar menemui hal sama yang terjadi setiap tahun.

Pada bulan suci ini, jadi momen tepat untuk berkontemplasi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kontemplasi adalah renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh.

Sebelum salat Jumat pada pekan lalu di sebuah masjid di Antapani, seorang ustaz mengingatkan kepada jemaah tentang apa yang membatalkan puasa, dan apa yang menghilangkan pahala puasa.

Sebaiknya di bulan suci ini benar-benar dimanfaatkan umat Islam untuk beribadah.

"Kalau mau beli baju baru atau belanja, sebaiknya sebelum puasa. Pada saat puasa, kita lebih khusyuk, karena sudah tidak berpikir belanja atau baju baru lagi. Kita harus lebih banyak merenungkan diri," ujarnya.

Kolaborasi kesadaran akan kerendahan dan kesalahan diri dengan keyakinan pada Sang Pencipta, mampu menghasilkan kontemplasi yang sempurna.

Perenungan diri bisa membentuk manusia yang lebih beradab, santun, dan memanusiakan manusia, seperti perang lumpur, yang tak menyisakan dendam pada saat acara berakhir.

Bulan suci ini juga jadi kesempatan umat Muslim menampilkan wajah Islam yang tegas, damai, dan toleran. Semoga pada bulan suci ini kita mampu meraih kesempurnaan dalam berkontemplasi.

Marhaban ya Ramadan.. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (7/6/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved