Sorot
Harga yang Selalu Naik Mendadak
SEPEKAN menjelang Ramadan harga pangan sudah merangkak naik. Tidak hanya satu, berbagai jenis harga kebutuhan naik.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Dedy Herdiana
Oleh: Ferri Amiril, Wartawan Tribun
SEPEKAN menjelang Ramadan harga pangan sudah merangkak naik. Tidak hanya satu, berbagai jenis harga kebutuhan naik. Fenomena yang sudah biasa terjadi setiap tahun. Saat ini pemerintah menggandeng beberapa pihak untuk menyepakati harga agar tetap stabil sesuai yang telah disepakati hingga Lebaran nanti.
Sebuah pernyataan yang sama juga terjadi setiap tahun. Tapi pengalaman tahun-tahun sebelumnya berkata lain. Harga-harga terus merangkak bahkan melebihi batas kewajaran seperti hari biasa. Kesepakatan untuk menjaga harga tetap stabil banyak dilanggar. Operasi pasar yang hanya dilakukan sekali dua kali di beberapa titik juga tidak bisa mengantisipasi lonjakan harga menjelang Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya.
Alasannya seragam yakni kurangnya stok dan pasokan yang menyebabkan langkanya bahan pokok sehingga harga menjadi tinggi. Langkah lain yang sedang dilakukan adalah mendatangkan bahan pokok dari negara lain alias impor. Dua bahan pokok yang pasti datang di pekan pertama Ramadan adalah sapi dan bawang merah.
Langkah antisipasi untuk mengendalikan harga dengan berbagai skenario ini sudah dijalankan, mulai dari meminta kerja sama dengan pelaku usaha sampai menetapkan perusahaan pemerintah menjadi stabilisator harga-harga kebutuhan pokok. Jaminan harga pangan akan turun juga sudah dijanjikan pemerintah sepekan menjelang Ramadan.
Beberapa daerah sudah melaksanakan operasi pasar untuk mengendalikan harga terutama harga bawang yang sudah naik terlebih dulu. Dari informasi, rata-rata harga bawang merah di Jawa Barat Rp 42.800 per kilogram, harga bawang putih Rp 33.100 per kilogram. Kelangkaan pasokan menjadi alasan kenaikan harga bawang.
Sebuah contoh kecil yang terjadi di atas menggambarkan ancaman harga akan terus naik sudah ada. Keran impor yang dibuka pemerintah belum terasa. Konsumen terpaksa membeli bahan pangan dengan harga tinggi karena persiapan Ramadan sudah tinggal menghitung hari.
Konsumen tak bisa berbuat banyak dengan membeli bahan pangan yang tinggi karena persiapan Ramadan. Dari banyaknya pihak yang menyediakan hingga mengatur harga, jarang sekali yang menyediakan pos keluhan di pasar-pasar yang bisa langsung diakses oleh pedagang jika mereka ingin menyampaikan kritik atau masukan.
Konsumen yang tidak mengetahui naiknya harga biasanya akan sedikit mengeluh dengan hal itu. Namun mereka tidak diberi kesempatan menyampaikan keluhan dan terpaksa membeli bahan dengan harga tinggi. Konsumen lainnya dengan patokan harga yang dibawa dari rumah dan tidak sama dengan harga pasar juga biasanya protes. Protes hanya disampaikan kepada penjual dan selebihnya mereka akan pulang dengan hati kesal membeli bahan pangan yang mahal. Sedikitnya petugas pasar di lokasi menjadikan sosialisasi kenaikan harga yang turun naik terkadang tidak diketahui oleh konsumen.
Layanan konsumen di pasar membutuhkan sosialisasi merata yang bisa diakses langsung oleh konsumen. Terkadang surat edaran dari pemerintah terkait harga minimum dan maksimum bahan pokok juga belum banyak diketahui konsumen yang datang ke pasar. Atau hal penting lainnya seperti menuliskan daftar harga rata-rata setiap hari di pasar dan menyimpannya di tempat yang bisa dilihat konsumen ketika datang ke pasar.
Semua berharap skenario kali ini yang dilakukan pemerintah bisa menstabilkan harga hingga Lebaran nanti, pengawasan dari berbagai pihak dinanti. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (3/6/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ferri-amiril-wartawan-tribun_20160121_090356.jpg)