SOROT
Dejan dan Bobotoh
Pelatih yang lahir di Belgrade, Serbia, 22 Januari 1969, ini pernah menjadi pelatih Pelita Bandung Raya. Di klub ini prestasi Dejan tidak buruk.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Kisdiantoro
Oleh Deni Ahmad Fajar
Wartawan Tribun
SEPERTI pelatih lain yang berlabuh ke Persib Badung, Dejan Antonic menyebut bobotoh sebagai salah satu faktor yang membuat dia menerima pinangan untuk menukangi klub berjulukan Maung Bandung tersebut. Mungkin Dejan sudah bosan menukangi tim zonder pendukung yang melimpah dan fanatik seperti bobotoh.
Pelatih yang lahir di Belgrade, Serbia, 22 Januari 1969, ini pernah menjadi pelatih Pelita Bandung Raya. Di klub ini prestasi Dejan tidak buruk. Di bawah komando Dejan, Pelita Bandung Raya pernah membuat Persib kerepotan dan gagal menang. Mungkin catatan ini yang membuat manajemen Persib kepincut meminang Dejan setelah Kang Djadjang Nurjaman diberi "tiket berlibur" ke Italia.
Celakanya menukangi Persib bukan perkara mudah. Bila gagal membuat Persib berprestasi, maka bersiaplah kehilangan pekerjaan. Dan Dejan merasakan hal itu sekarang. Kursi pelatih Persib kini sedang membara gara-gara Persib gagal tampil garang bak maung seperti diharapkan bobotoh.
Di bawah komando Dejan, Persib yang berjulukan Maung Bandung dan berlaga di Liga Super Indonesia, itu menjadi klub yang kehilangan daya pukaunya. Lihat saja di panggung Indonesia Soccer Championship, Persib baru menuai satu kemenangan dari lima pertandingan yang dimainkan. Sungguh catatan seperti itu tidak layak bagi Persib yang bertabur pemain bintang (di kompetisi sepak bola Indonesia).
Seperti klub-klub besar di Eropa sana, bersinar atau padamnya karier pelatih, tidak hanya ditentukan oleh manajemen dan pemilik klub. Beberapa pelatih besar harus kehilangan pekerjaan hanya karena tak tahan oleh "suara-suara" pendukung fanatik klub yang mereka tukangi, David Moyes misalnya, dia harus terusir dari Old Trafford karena pendukung Manchester United kadung tidak menyukainya. Dalam kasus Moyes, pendukung klub Setan Merah tersebut tidak terlalu salah, pasalnya mantan pelatih Everton yang mencoba melanjutkan kejayaan Alex Ferguson itu, gagal menunjukkan prestasinya di MU.
Pada kasus berbeda, Dejan kini sedang mengalami musim tidak nyaman seperti ketika Moyes berada MU. Bila bobotoh mulai "bersuara" dan bahkan bergerilya untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap Dejan, rasanya mereka ada benarnya. Bobotoh tentu tidak nyaman bebeakan mendukung tim yang kehilangan taji dan nama besarnya.
Gerakan bobotoh ini terbukti manjur. Buktinya manajemen Persib dan PT Persib Bandung Bermartabat berjanji akan melakukan evaluasi. Pada titik ini, nyata sudah bahwa suara bobotoh memiliki taji. Manajemen dan PT Bandung Bermartabat harus mengeluarkan jurus terbaiknya agar Persib kembali berjaya. Bila tidak, bobotoh tidak akan pernah diam. Mereka akan terus "bersuara" dan bergerilya. Bila itu yang terjadi, posisi Dejan benar-benar di ujung tanduk. ***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sorot-deni-ahmad-fajar-rabui-23-des_20151223_074354.jpg)