Sorot

Inspirasi Bripka Seladi

Sambilan itu memiliki dampak positif, karena menciptakan kebersihan lingkungan di sekitarnya.

DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR
Agung Yulianto, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh: Agung Yulianto, Wartawan Tribun Jabar

INSPIRASI bisa dari mana saja dan dari siapa saja. Seperti dari Bripka Seladi, anggota Polres Malang yang sehari-hari menjabat sebagai petugas administrasi di Satlantas.

Demi mendapatkan uang sampingan, pria berusia 57 tahun ini nyambi menjadi pengumpul sampah. Sambilan itu memiliki dampak positif, karena menciptakan kebersihan lingkungan di sekitarnya.

Delapan tahun Seladi melakoni pekerjaan ganda ini. Empat tahun pertama, dia memulung sendiri sampah yang hendak dipilahnya.
Bapak tiga anak ini berkeliling kawasan dengan memakai sepeda ontel. Sepeda ontel itu yang menjadi kendaraannya sejak menjadi polisi pada 1977.

Pukul 05.00 WIB, dia berangkat dari rumahnya di Jalan Gadang Gang 6, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, ke Mapolres Malang Kota.
Dia mengikuti apel, kemudian bertugas mengatur lalu lintas.

Setelah mengatur lalu lintas, ia berdinas di Kantor Satpas, mengurusi ujian pencari SIM dan mengurusi administrasi sampai lepas jam dinas. Seusai lepas jam dinas dan berganti baju, dia menggowes mencari sampah.

Kini Seladi telah memiliki tempat pengumpulan sampah di sekitar Stasiun Kota Baru Malang. Dari tempat itu, setiap hari terangkut satu mobil pikap sampah yang dibelinya dari hasil sampah.

Pendapatan dari sampah menambah penghasilan ekonomi di rumahnya, sekitar Rp 25.000-Rp 50.000 per hari, jika dihitung per hari.
Pendapatan dari sampah terkumpul seminggu sekali setelah sampah terjual.

"Yang penting halal, ikhlas, dan terus ikhtiar dalam melakoninya. Tidak usah peduli omongan orang. Saya tahu, pasti ada yang mencibir. Kalau ada yang begitu akan saya jawab, 'Saya bisa menjadi seperti kamu, tetapi apa kamu bisa seperti saya'," katanya.

Senin (23/5), Seladi diundang makan siang oleh Ketua DPR, Ade Komarudin. Seladi hanya mengambil sayuran saat makan siang.
Ade bersyukur masih ada petugas negara yang memilih kejujuran bekerja dibanding pilihan lainnya.

Menurut dia, hal itu mengajarkan nilai-nilai kejujuran, terutama kerja keras, dan etos kerja sebagai polisi.

Kisah Bripka Seladi, menjadi paradoks atau anomali, atau apalah, di tengah gencarnya pemberitaan media tentang perilaku korupsi, suap, dan arogansi aparat.

Menjadi tak biasa, karena selama ini etalase media menyoroti berbagai kasus suap, korupsi, dan kasus kejahatan lain, yang terus terjadi setiap hari.

Semoga kisah Seladi, menjadi renungan bagi nurani kita semua, tentang makna tugas dalam hidup. Apalagi sebagai abdi negara, yang melayani kepentingan publik.

Ketua KPK, Agus Rahardjo mengatakan, Seladi, seharusnya menjadi perhatian negara. Bisakah kita menjadi seperti Seladi? (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (25/5/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved