Sorot
Menjadi Sahabat Anak
SIKAP Jokowi ini untuk merespons beberapa peristiwa kekerasan seksual....
Penulis: Darajat Arianto | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
PRESIDEN Joko Widodo menyatakan bahwa kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia telah masuk kategori kejahatan luar biasa.
Sikap Jokowi ini untuk merespons beberapa peristiwa kekerasan seksual yang mengemuka di sejumlah tempat. Aksi solidaritas pun muncul sebagai wujud keprihatinan terhadap kekerasan seksual yang dialami anak-anak.
Respons dan sikap masyarakat hingga pemimpinnya seperti demikian merupakan wujud kegeraman yang amat sangat.
Pasalnya, anak-anak yang harusnya dijaga dan dilindungi justru menjadi korban kekerasan orang yang usianya lebih tua.
Bukan hanya hilang masa depannya, beberapa anak bahkan kehilangan nyawanya. Kebiadaban menjadi kata yang tepat disematkan pada para pembuat kejahatan terhadap anak.
Sebaliknya, seringkali orang tua justru sibuk dengan aktivitasnya.
Orang tua juga sering mengatakan bahwa kesibukannya khususnya yang berkaitan dengan penghasilan tiada lain adalah untuk anak-anaknya juga.
Sayangnya, akibat kesibukan, banyak anak-anak yang perilakunya berubah dan baru disadari orang tuanya ketika sudah menyimpang jauh.
Untuk itulah, para orang tua sudah seharusnya tersadarkan dan mulai memikirkan kembali kondisi anaknya.
Orang tua bukan hanya orang tua kandung, tapi juga mereka yang memiliki andil mengasuh, menjaga, dan membimbing seorang anak.
Orang tua semestinya berpikir bahwa anak bukan sekadar mutiara keluarga tapi juga adalah aset bangsa.
Ketika anak berbuat baik dan bermanfaat bagi masyarakat luas, tentu orang tua dan keluarganya akan bangga.
Sebaliknya, jika anak berbuat tercela, tentu akan membuat malu orang tua dan keluarganya.
Oleh karena itu, salah satu cara yang ampuh adalah menempatkan diri kita sebagai sahabat anak.
Sahabat yang berarti orang dekat, bisa menjadi tempat bercerita, berkeluh kesah, dan juga menumpahkan segala masalah.
Dengan menempatkan sebagai sahabat, orang tua bisa menjaga kondisi dan juga perilaku anak- anaknya.
Pasalnya, perilaku anak bisa terkontrol secara baik.
Sahabat menjadi penting bagi kehidupan seseorang. Bagi umat Muslim, istilah sahabat adalah orang yang percaya dan taat kepada Nabi Muhammad Saw.
Mereka percaya dan yakin kepada Rasulullah dan beriman hingga akhir hayatnya.
Dari sahabatlah, kehidupan Rasulullah Saw banyak diketahui sehingga menjadi panutan umat Muslim seluruh dunia.
Demikian pula bagaimana kisah-kisah Nabi terakhir ini dalam memperlakukan anak-anak.
Sejumlah kisah menunjukkan Rasulullah Saw sangat menyayangi anak-anak.
Tak ada salahnya orang tua saat ini mencontoh Nabi dalam hubungan dengan anak-anak, sehingga patut diteladani.
Rasulullah Saw sangat lembut dan memahami perilaku anak-anak, sering menyapa anak kecil dengan hangat, dan sering mengajak anak-anak bermain.
Nabi Muhammad Saw juga berempati ketika anak-anak yang mengalami penderitaan, seperti anak yatim yang ditinggal ayahnya yang mati syahid.
Melihat kisah-kisah Nabi Saw, sudah saatnya orang tua bersikap lembut terhadap anak, menjadi pendengar yang baik bagi mereka, lemah lembut, dan menjadi tempat bercerita.
Dengan demikian, diharapkan anak-anak merasa nyaman dan tenang baik saat bersama orang tuanya maupun saat di luar rumah.
Dengan pola hubungan yang erat, diharapkan perilaku anak lebih terkontrol dan orang tua pun menjadi teladan bagi anaknya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/darajat-arianto-sorot-senin-16-mei-2016_20160516_103635.jpg)