SOROT
Save Bandung Zoo
KELUHAN soal kondisi Kebun Binatang Bandung kembali ramai jadi pemberitaan di berbagai media.
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Kisdiantoro
Oleh Dedy Herdiana
Wartawan Tribun
KELUHAN soal kondisi Kebun Binatang Bandung kembali ramai jadi pemberitaan di berbagai media. Terutama setelah dukungan terhadap petisi "Selamatkan Kebun Binatang Bandung!" (SaveBandungZoo Project) di www.change.org, sejak 3 minggu lalu hingga Rabu (10/5) siang, mencapai 1.547 pendukung yang menandatangani. Mereka masih membutuhkan 953 tanda tangan lagi untuk mencapai 2.500.
Petisi ini akan dikirim ke Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Pemerintah Kota Bandung, dan Yayasan Taman Margasatwa Taman Sari. Komunitas Save Bandung Zoo sebagai pencetus petisi berharap bisa membuat Wali Kota segera turun tangan membenahi pengelolaan kebun binatang yang dipegang Yayasan Marga Satwa.
Dalam petisi, mereka mengungkapkan Kebun Binatang Bandung saat ini jauh dari fungsinya sebagai sarana rekreasi dan pendidikan serta menjadi wadah yang kondusif dalam riset, penelitian, dan konservasi alam, khususnya hewan. Dituliskan pula, kebun binatang tidak mampu menyediakan sarana dan prasarana yang baik bagi hewan maupun bagi pengunjung.
Ridwan saat dikonfirmasi wartawan pun langsung berkomentar. "Intinya pengelolaan Kebun Binatang Kota Bandung, jelek," katanya seperti dikutip Tribunjabar.co.id, Selasa (10/5). Ia berkomentar demikian, karena menurutnya sejak awal menjabat Wali Kota, pihak Kebun Binatang sudah dipanggil untuk menanggapi keluhan-keluhan dari warga, namun hingga kini belum ada perubahan yang signifikan.
Soal penurunan kualitas, warga juga banyak yang menyebutkan kondisi sekarang lebih buruk dibanding dulu. Seorang teman mengatakan sekitar tahun 1990, di kebun binatang itu masih ada gajah dalam kandang. Pengunjung bisa melihat tingkah laku gajah di dalam kandang besar dan ada terowongan kecil. Namun sekitar 10 tahun kemudian, gajah itu tak ada lagi, diganti oleh gajah tunggang yang harus bayar bagi yang ingin menaikinya. Begitu juga jerapah, sekitar tahun 2008 jika tidak salah ingat kata teman saya masih ada, tapi kini sudah tidak ada lagi.
Meski kondisi semakin menurun, pengunjung ke kebun binatang ini tidak pernah sepi, apalagi saat liburan sekolah. "Tahun 2014 jumlah pengunjung 670 ribu orang, jadi wajar tahun 2015 ingin satu juta pengunjung," ujar Sudaryo, Humas Kebun Binatang Bandung seperti dikutip Tribunjabar.co.id setahun lalu. Anehnya, peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun ini tidak juga menghasilkan perbaikan yang signifikan di kebun binatang satu-satunya di Bandung. Padahal, jika melihat tiket masuknya seperti dikutip dari Tribunjabar.co.id edisi Jumat (25/12/2015), dibanderol Rp 20.000 per orang mulai usia 3 tahun ke atas. Sedangkan kebun binatang di Jakarta, Taman Margasatwa Ragunan, seperti dilansir ragunanzoo.jakarta.go.id, tiket masuknya untuk dewasa hanya Rp 4.000 dan anak-anak Rp 3.000. Kenapa harga tiketnya bisa berbeda jauh? Padahal sejauh penelusuran informasi yang didapat, lahannya lebih luas dan hewannya lebih banyak di Ragunan.
Apakah Kebun Binatang Bandung ini akan benar-benar bisa menjadi tempat sesuai fungsinya sebagai tempat rekreasi, berfungsi sebagai tempat pendidikan, riset, dan tempat konservasi untuk satwa terancam punah? Semua ini bisa terjawab bila semua pihak yang berwenang dan mereka yang peduli duduk bersama dengan niat tulus untuk menjadikan sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dedy-herdiana-wartawan-tribun-jabar_20160101_142730.jpg)