TERAS

Cup Ah!

Di Indonesia tak sedikit orang cerdas. Di antara yang sedikit, pasti ada yang mempunyai karakter seperti chuptzpah.

Cup Ah!
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

Oleh Cecep Burdansyah

BANGSA Isarel adalah bangsa kecil, tapi berhasil menjadi bangsa yang disegani, termasuk oleh Amerika Serikat, karena mereka mempunyai kata chuptzpah. Scott Thompson, seorang pengusaha dari AS yang selama ini merasa paling hebat dalam bisnis rintisan, memaparkan pengalaman menarik dengan orang yang dianggapnya “junior” yang datang dari negara kecil, tapi kemudian ia mengakui si “junior” itu turun dari planet lain.

Mereka yang membaca buku Start-Up Nation yang ditulis duet Dan Senor dan Paul Singer pasti menyimak pengalaman Scott Thompson yang dibuat terkaget-kaget oleh para “junior”. Anak-anak muda yang disepelekan itu tak pernah peduli dengan penilaian orang lain, termasuk mereka yang sudah malang melintang di dunia apa pun dengan berlumur keberhasilan. Bagi mereka, hanya ada satu kata: chuptzpah.

Ilmuwan Yahudi Leo Rosten menyebutkan, bahasa modern Ibrani meminjam kata chuptzpah dari bahasa Jerman-Slavia. Artinya: empedu, saraf tembaga, nyali tanpa rasa gimir sedikit pun, kelancangan dibubuhi keangkuhan. Bagi orang Israel, sudah menjadi kebiasaan apabila mahasiswa menantang profesornya, pegawai menantang bosnya, sersan bertanya langsung ke jenderal untuk menggugat bahkan tak bersepakat, petugas rendahan mengkritik pemerintah, mata menyorot tajam kepada lawan bicara tak peduli siapa dan apa status yang disandang orang di hadapannya. Kebiasaan itu menjadi milik bangsa, bukan milik orang per orang. Kebiasaan yang sulit hidup di negera mana pun, apalagi di negeri ini.

Di Indonesia tak sedikit orang cerdas. Di antara yang sedikit, pasti ada yang mempunyai karakter seperti chuptzpah. Tapi saya yakin itu bukan kebiasaan yang dimiliki banyak orang, sebuah masyarakat, sebuah bangsa. Ada kebiasaan yang dilakukan oleh elite bangsa ini, pejabat eksekutif, legislatif, yudikatif, CEO korporasi, yaitu kebiasaan buruk korupsi dan perangai kita tetap saja santun ketika berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Lepas dari penjara mereka bisa berkibar lagi di masyarakat, jadi apa saja, sesuka mereka memilih, dan kita tak berani menantang masa lalu buruknya. Padahal apa yang diperbuat oleh napi koruptor itu telah menyengsarakan rakyat. Sebuah perangai yang merongrong kebijakan publik yang seharusnya dilawan keras.

Chuptzpah bagi bangsa Israel bukan pembangkangan atau tantangan politik untuk menggulingkan seseorang dari jabatan, lalu merebutnya. Bukan soal kekuasaan. Tapi menantang dan menguji kemapanan sebuah bisnis atau sistem jasa layanan untuk menciptakan yang baru. Bukan pula soal urusan dengan pribadi. Urusannya hanya dengan pemikiran yang berujung inovasi.

Scott Thompson melukiskan pertemuan dengan mereka seperti ini: “Tak seorang pun mengirims SMS, sibuk sendiri, atau tertidur. Intensitas makin meningkat ketika dibuka sesi diskusi. Setiap pertanyaan menembus tajam. Saya mulai gugup. Tidak pernah sebelumnya saya mendengar begitu banyak penyelidikan tidak biasa, berturut-turut. Dan mereka ini bukan rekan setingkat atau penyelia. Mereka adalah karyawan junior. Mereka tidak terintangi dalam menantang dan logika di balik cara kerja kami di PayPal selama bertahun-tahun. Saya tidak pernah melihat sikap yang sedemikian bersungguh-sungguh, tidak terintimidasi, dan tidak terpecah perhatian. Saya berpikir sendiri. Siapa bekerja untuk siapa ini?”

Saya memastikan tradisi chuptzpah bukanlan tradisi yang sekejap bisa tumbuh dalam diri seseorang, seperti halnya Sangkuriang yang berambisi membuat perahu dalam semalam. Ia berakar dari masa silam, dari kepedihan yang dialami sebuah bangsa. Lalu berlatih secara perlahan sejak dini.

Kita mempunyai masa lalu yang kelam, ketika belum bernama Indonesia, mengalami kepedihan bagaimana rasanya diinjak oleh bangsa yang merasa superior. Di antara mental yang lembek dan takluk, ada beberapa orang yang bermental rintisan. Tirto Adhi Soerjo dan Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja berkolaborasi merintis penerbitan koran harian yang dikelola oleh pribumi dan menantang kebijakan penguasa. Saat itu nama Indonesia belum ada dan Tirto layak mengklaim sebagai Jawa dan Bupati Cianjur sebagai Sunda dan untuk apa mendirikan koran yang resikonya sangat berbahaya. Namun keduanya melampuai imajinasi para pendiri bangsa yang hidup di kemudian hari, dan seharusnya mental rintinan inilah yang menjadi inspirasi bangsa kita. Mereka membangun yang belum ada, sebuah koran yang menyalak terhadap penguasa.

Sekarang, di era digital, kita sering mendengar bagaimana anak-anak muda merayakan era digitalisasi dan mengklaim lebih memilih membuka perusahaan “rintisan”. Tapi seringkali yang muncul adalah perusahaan toko online, atau sekadar ikut-ikutan sebagai mode, yang hanya menjadi konsumen tanpa memahami logika bahasa digital, supaya masuk kategori Generasi Y. Anehnya, anak muda yang mencoba membuat usaha rintisan berbasis aplikasi pun mendapat rintangan dari orang-orang yang takut periuk nasinya nangkub. Menyedihkan sekali ketika anak-anak muda yang mencoba ngigelan zaman membuat aplikasi layanan transportasi Go-Jek dan Taksi Grab mendapat perlawanan fisik, dan setingkat menteri pun takluk terbelenggu oleh peraturan, bukannya mengubah peraturan agar hukum punya peran sebagai arsitek perubahan.

Kalau ini yang terjadi, tak lebih sekadar mode, seperti bebek digiring oleh penggembala, jauh dari apa yang disebut chuptzpah.

Bangsa kita berlimpah orang-orang jenius. Beberapa hari lalu, Google Doodle memasang gambar ilmuwan Indonesia dari ITB, Samaun Samadikun, seorang guru besar ilmu elektronika, sebagai penghormatan. Sekitar tahun 1996 saya sempat mewawancarai Samaun di ruangannya yang kecil. Lelaki sepuh yang tampak sangat disiplin dalam berbicara dan kuat logikanya itu mengatakan, masa depan dunia ada dalam benda kecil, yang ia sebut chip. Saya terlalu dungu untuk bisa memahami benda ajaib dan “masa depannya” itu. Sekarang saya baru bisa mengerti, dan memahami mengapa ia menyebut “masa depan dunia”, bukan “masa depan Indonesia”. Barangkali ia sudah tahu untuk merebut masa depan tidak cukup sekadar kejeniusan, tapi harus ditopang oleh nyali, sikap yang menantang, untuk melapangkan jalan bagi sesuatu yang baru melewati apa saja yang sudah ada dan mapan.

Chuptzpah, bagi orang-orang jenius Israel, adalah kata ajaib untuk berkomitmen merebut masa depan. Saya ingat orang Sunda sering mengucapkan “cup ah!” kepada lawan bicaranya untuk berkomitmen pada janji yang diucapkannya. Tapi sejauh mana kita peduli pada masa depan, lalu mengucapkan “cup ah” untuk sesuatu yang belum ada menjadi ada yang manfaatnya besar bagi banyak orang? (*)

Penulis: cep
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved