SOROT
Déjà vu Persib
Persib yang mendapatkan dukungan penuh dari sekitar 60 ribu bobotoh bermain agresif.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Kisdiantoro
Oleh Oktora Veriawan
Wartawan Tribun
DÉJÀ vu secara harfiah adalah pernah melihat atau pernah merasa. Maksudnya adalah mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Tanggal 3 April 2016 lusa, déjà vu akan kembali dirasakan skuat Persib dan bobotoh seantero dunia.
Tapi déjà vu yang diharapkan sudah tentu adalah pengalaman gembira yang dirasakan seperti tanggal 18 Oktober 2015. Di minggu malam tersebut, semua bobotoh berpesta di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tepat pukul 22.00, Persib memastikan gelar juara turnamen Piala Presiden. Di partai final, Persib sukses menumbangkan Sriwijaya FC dengan skor 2-0.
Persib yang mendapatkan dukungan penuh dari sekitar 60 ribu bobotoh bermain agresif. Hasilnya, pertandingan baru berlangsung enam menit, Achmad Jufrianto, mengubah papan skor. Tendangan bebasnya berhasil memperdaya kiper Sriwijaya FC, Dian Agus, setelah sebelumnya membentur pagar hidup.
Isi stadion kembali bergemuruh jelang turun minum. Lewat umpan silang Atep yang disambut Makan Konate dengan tendangan memutar badan. Bola keras tendangannya sebenarnya terkena mistar gawang, bola lalu mengenai tubuh bagian belakang Dian dan langsung masuk ke gawang. Sampai peluit dibunyikan kedudukan 2-0 untuk Persib tetap bertahan.
Seketika euforia kemenangan terjadi di dalam Stadion Senayan dan di beberapa kota di Jawa Barat. Para pemain dan bobotoh larut dalam kegembiraan. Di Kota Bandung, bobotoh berkonvoi mengelilingi sejumlah ruas jalan. Bandung pun menjadi lautan biru. Para bobotoh meneriakkan berbagai macam yel. "Persib Juara, Persib Juara, Persib Juara" dan "Halo Halo Bandung" terus berkumandang.
Dewi Fortuna memang selalu berpihak kepada Maung Bandung jika main di Jakarta di era tahun 90-an dan era milenium. Persib adalah klub yang rajin memenangkan laga final di berbagai ajang ketika bertanding di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Pada tanggal 17 April 1994, Persib berhasil menjuarai Piala Presiden setelah mengalahkan PSM Ujungpandang dengan skor 2-0 lewat gol yang disarangkan Yudi Guntara dan Sutiono. Déjà vu terulang di tanggal 30 Juli 1995, di mana Persib berhasil merebut gelar juara Liga Indonesia I setelah di final mengalahkan Petrokimia Putra dengan skor 1-0 lewat gol Sutiono. Laga final terakhir yang dimenangi Persib di Senayan adalah di partai final Piala Presiden 2015.
Tapi cerita kelam pun pernah dialami Persib. Dua dari lima partai final di Senayan harus berakhir dengan kekalahan Persib. Tanggal 27 Februari 1992, Persib menyerah dari PSM Ujungpandang dengan skor 1-2 di final Divisi Utama Perserikatan. Déjà vu kekalahan terjadi lagi pada tanggal 1 November 1992 setelah Persib menyerah 0-2 dari Pelita Jaya di partai final Piala Utama II.
Sudah tentu bobotoh tak mau Déjà vu kekalahan seperti dua partai final di tahun 1992 terulang kembali, Minggu lusa. Dan kini di partai final Piala Bhayangkara, Persib harus melawan Arema Malang. Harapan tinggi disematkan kepada seluruh pemain agar bisa bermain penuh semangat, bermain dengan determinasi tinggi, dan yang paling utama adalah maen pake hate. Insya Allah, déjà vu kemenangan akan menjadi milik Persib lagi, amin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/oktora-veriawan-baju-belang-bertopi_20150727_074435.jpg)