SOROT
Anak Jalanan Kiaracondong
Pemandangan perempuan yang menggendong bayi yang selalu tertidur saat mengemis ini sudah terjadi cukup lama.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Kisdiantoro
Ferri Amiril
Wartawan Tribun
TERUNGKAPNYA bayi yang diberi obat penenang sebelum diajak berkeliling mengemis di jalanan Ibu Kota Jakarta, menambah panjang deretan permasalahan kota besar selain transportasi, banjir, dan hal lainnya.
Pemandangan perempuan yang menggendong bayi yang selalu tertidur saat mengemis ini sudah terjadi cukup lama. Tidak hanya di Ibu Kota saja, di Bandung pun hal itu masih terlihat di beberapa perempatan jalan. Banyak orang berpendapat ketika melihat bayi itu yang terlihat kuat tertidur pulas meski hari sedang terik, atau sedang diguyur hujan. Mengundang simpati, rasa iba, dan tentu mereka yang tak tega dengan mudahnya akan memberi sumbangan atau uang receh kepada perempuan yang menggendongnya. Hal itu menjadi tujuan utama modus lama ini.
Hasil penyelidikan juga sangat mengejutkan di mana si bayi ternyata diduga disewakan per hari. Berarti ibu yang selalu menggendong bayi di perempatan jalan belum tentu ibu dari si bayi. Pengungkapan menyebut harga sewa bayi dan balita per hari ada yang sampai Rp 200 ribu.
Balita dan anak yang masih terlihat di Kota Bandung terlihat di perempatan Kopo-Lingkar Selatan. Seorang balita laki-laki dan kakak perempuannya selalu berjoget kompak di lokasi ini sambil mengemis. Menjelang malam di Simpang Jamika-Lingkar Selatan beberapa balita juga sering basah kuyup mengemis seperti tak mengenal lelah. Dari kejauhan tampak beberapa perempuan dewasa mengamati sambil menggendong bayi di pelataran toko yang telah tutup.
Mungkin hal ini juga terlihat di persimpangan jalan lainnya. Hanya saja yang terungkap kali ini baru di ibu kota.
Jauh hari sebelum pengungkapan bayi yang diberi obat penenang untuk mengemis, sekelompok anak muda di Bandung yang menamakan diri Asosiasi Pencinta Anak Jalanan, dengan suka rela memberi pelajaran dasar, sampai membersihkan tubuh mereka untuk diajarkan salat dan mengaji.
Tempat mereka berkumpul sangat sederhana, bisa di atas tumpukan rel bekas, atau digelar tikar begitu saja di jalan buntu yang cukup jauh dari keramaian. Rutinnya relawan muda ini datang, membuat anak jalanan di sekitar Kiaracondong seperti sudah terbiasa dengan kewajiban mereka. Mereka sudah tahu jika Minggu siang merupakan agenda belajar. Belasan anak jalanan pun datang dari berbagai penjuru. Meninggalkan kegiatan mereka sehari-hari sejenak, dengan pakaian yang seadanya mereka mulai semangat diberikan ilmu.
Pengajaran disampaikan dengan cara sederhana dan menyenangkan bagi anak-anak. Seperti sains dengan membuat telepon dari kaleng dan benang, membuat kolase, melukis, melipat origami, ngaji Iqra, hafalan surat pendek, doa sehari-hari, cerita sahabat nabi, dan dongeng boneka tangan.
Dengan rutinnya bertemu, ada semangat baru dari anak jalanan ini untuk kembali sekolah meski terkadang kendala dari para orang tua mereka yang memang sangat sulit berubah. Satu hal yang membuat relawan muda ini gembira adalah kebiasaan ngelem yang sudah lama ditinggalkan.
Mereka berharap dari hal kecil yang dilakukan di Kiaracondong bisa menjadi pemicu semangat besar seperti pengungkapan obat penenang untuk bayi yang dilakukan di Jakarta Selatan. Negara melindungi anak, negara harus selalu hadir untuk melindungi anak. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ferri-amiril-wartawan-tribun_20160121_090356.jpg)