SOROT
Cruyff
Cruyff telah pergi. Tapi catatan tentang dirinya abadi.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Kisdiantoro
Oleh Deni Ahmad Fajar
Wartawan Tribun
BERITA duka itu datang dari Barcelona, Spanyol. Legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff, meninggal pada 24 Maret 2016 di usia 86 tahun. Mantan pemain bintang di timnas Belanda, tim Ajax Amsterdam, dan Barcelona ini menyerah kepada kanker yang menggerogoti paru-parunya. Pesepakbola legendaris itu berpulang di negeri yang jauh dari kampung halamannya, di Amsterdam, Belanda. Dunia pun berkabung.
Cruyff telah pergi. Tapi catatan tentang dirinya abadi. Sehari setelah berita kepergiannya, media- media berlomba menggali semua sisi kehidupan dan (tentu) prestasinya di lapangan hijau bersama tim Oranye Belanda, Ajax Amsterdam, dan Barcelona. Kepiawaiannya melahirkan permainan yang indah sekaligus memukau di lapangan hijau melahirkan banyak prestasi. Lelaki yang lahir 25 April 1947 dan memiliki nama lengkap Hendrik Johannes Cruyff, ini adalah peraih Ballon d'Or tiga kali, yaitu di 1971, 1973, dan 1974.
Sumbangsih Cruyff kepada Timnas Belanda juga tidak diragukan, dia adalah salah satu pemain andalan Belanda di ajang Piala Dunia dan Piala Eropa. Penampilannya yang gemilang ketika membela Belanda di Piala Dunia 1974, membuat dia dianugerahi Golden Ball sebagai pemain terbaik di Piala Dunia yang digelar di Jerman (Barat) itu. Walau gagal merebut gelar juara dunia karena ditumbangkan tim Panser Jerman 1-2, Belanda sukses menempatkan dirinya sebagai negara kuat sepak bola.
Kiprah dan sukses Cruyff berlanjut ketika berkarier sebagai pelatih. Di Barcelona, nama Cruyff bersinar sebagai pemain dan pelatih. Sebagai pemain Barcelona, Cruyff tiga kali mengangkat Piala Liga Champions. Kejayaan Cruyff di klub raksasa Spanyol itu berlanjut ketika dia menempati posisi pelatih. Cruyff membawa Barcelona merebut gelar juara Liga Champions tahun 1992.
Di bawah asuhan Cruyff, Barcelona menjadi juara La Liga empat kali berturut-turut, mulai musim 1990-1991 hingga 1993-1994.
Pengaruh Cruyff kepada pemain dan pelatih juga tidak bisa dibantah. Peletak dasar sepak bola menyerang atau total football (sebelum diperkenalkan kepada dunia oleh Rinus Michel) ini, dipuja dan dihormati rekan dan "musuh-musuhnya", termasuk kapten Timnas Jerman, Franz Beckenbauer. Pep Guardiola, Frank Rijkaard, Hristo Stoikov, Michael Laundrup, Eric Cantona, hingga Arsene Wenger, adalah orang-orang yang mengakui pengaruh Cruyff pada kariernya sebagai pemain dan pelatih sepak bola.
Kini dunia telah kehilangan Cruyff. Berbagai acara untuk menghormati salah satu pemain dan pelatih terbaik dunia ini, disiapkan, termasuk untuk menggelar pertandingan sepak bola khusus untuk menghormati pemain tinggi-kurus yang brilian ini. Cruyff pergi tidak dalam kesunyian, berbagai penghormatan mengiringi kepergiannya.
Saya jadi teringat pada legenda-leganda sepak bola di Tanah Air yang telah berpulang dan meninggalkan jasa dan prestasinya untuk sepak bola Indonesia. Mereka pada umumnya pergi dalam kesunyian, tidak banyak penghargaan atau penghormatan mengiringi kepergiannya. Pada titik ini, saya jadi teringat pada Risnandar Soendoro, mantan pemain andalan Persib dan timnas Indonesia yang berpulang pada 3 Maret 2016. ***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/deni-ahmad-fajar_20150615_151507.jpg)