SOROT
Wisata Banjir
Lalu mendapati minimnya drainase yang laik serta jarangnya tempat pembuangan sampah. Kenapa tidak sekalian saja kalau sudah begitu dibikinkan wisata
Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Kisdiantoro
Oleh Dicky Fadiar Djuhud
Wartawan Tribun
TERGELITIK ungkapan Bupati Kabupaten Bandung, Dadang Naser tempo hari. Kepada wartawan, ia mengungkapkan, bahwa dalam penanganan Citarum ada ego sektoral. Lantas yang cukup menggelitik, bupati bilang begini, "kalau sudah banjir begini semua nuding bupati".
Buat saya ungkapan itu menggelitik. Ungkapan tersebut secara tak langsung membuat saya terdorong untuk menuliskan judul di atas seperti itu.
Beribu maaf sebelumnya, terutama bagi saudara-saudara yang terdampak banjir khususnya di Kabupaten Bandung. Bukan tidak empati. Tak ada maksud apa-apa dari tulisan ini. Tulisan ini bisa dianggap sampah, sebagai unek-unek atau ungkapan kekesalan. Tapi, tidak begitu nawaitu-nya dari penulis.
Justru pada gilirannya, semata saya jadi teringat ungkapan Rachmat Nurcahyo dalam pelatihan program kreativitas mahasiswa gagasan tulis dan artikel ilmiah, di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta pada 2013. Menurutnya, ide gila! Tak ada penemuan yang mendobrak bila tidak ada ide gila. Meskipun masih dalam bentuk pikiran dan sulit diwujudkan, tumpahkan saja dalam tulisan. Setidaknya, apa yang saya lakukan saat ini agak selaras dengan apa yang dikemukakan Rachmat Nurcahyo.
Kalau sidang pembaca kurang begitu mengenal siapa Rachmat Nurcahyo, tapi tentu mengenal baik siapa itu Mark Zuckerberg, sang pendiri facebook. Ya, anak muda yang satu ini sudah banyak berjasa menghubungkan orang-orang dunia ini. Yang terbaru dari Mark, ia telah menyampaikan ide gilanya kepada publik untuk mengembangkan facebook ke depannya. Mark akan mengembangkan media sosialnya bukan hanya sebagai media sosial biasa saja.
Lalu, apa kaitannya dua orang yang disebut di atas dengan wisata banjir? Ah, tidak ada kaitannya. Hanya esensinya saja. Ketika saya mengemukakan wisata banjir karena perasaan kesal yang membuncah dan seakan tak pernah ada solusi dengan banjir yang kerap terjadi. Bahkan, salah satunya, sejumlah orang mengatakan banjir di Kabupaten Bandung sebagai banjir tahunan dalam beberapa tahun ini. Jika memang banjir tahunan, kenapa tidak dibuat wisata banjir? Begitu maksud saya. Ada yang mencibir, ada yang tersenyum nyinyir, ada yang geleng-geleng kepala entah apa maksudnya, dan sampai kepada ungkapan bahwa wisata banjir adalah ide gila. Nah!
Sekali lagi, ini hanya ungkapan yang terlintas begitu saja. Itu tadi, ide gila. Tapi, setelah dipikir-pikir. Kenapa tidak diwujudkan saja ide gila tentang wisata banjir itu? Minimal beberapa persyaratan utamanya menurut saya sudah terpenuhi. Dengan beberapa kejadian banjir yang terjadi, para ahli sudah memprediksi kapan datangnya banjir itu? Kalau pemerintah atau pemegang kebijakan adakalanya tak mau menerima kritikan. Jadi, sangat dimungkinkan ada pihak lain atau swasta yang bisa mewujudkan wisata banjir ini. Ditambah kebiasaan masyarakat yang sulit berubah membuang sampah atau malas membersihkan gorong-gorong.
Lalu mendapati minimnya drainase yang laik serta jarangnya tempat pembuangan sampah. Kenapa tidak sekalian saja kalau sudah begitu dibikinkan wisata banjir? Toh, semua persyaratan agar terjadinya banjir sudah terpenuhi. Mungkin, sebagai awam, tinggal membenahi beberapa hal seperti harga tiket penjualan wisata banjir, pengaturan rute darimana arah kemana, transportasi yang kelak digunakan, kuliner khas banjir, lokasi favorit dimana, dan lain-lain. Itu saja. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dicky-fadiar-djuhud-versi-lebar_20150619_144531.jpg)