SOROT

Pariwisata Pascagerhana

Salah satu yang membuat negeri ini melonjak kunjungan wisatanya adalah momen gerhana matahari total

Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR
Adityas Annas Azhari, Wartawan Tribun. 

Oleh ADITYAS A A
Wartawan Tribun

ORANG berwisata ke suatu lokasi itu banyak alasannya. Ada yang tertarik dengan cerita mistis di daerah itu, terpesona keindahan alam, terpikat ramah tamah penduduknya, ketagihan kuliner, terkagum pada warisan budaya, tertantang untuk menaklukkan alamnya, atau sekadar ingin bernostalgia. Ada juga wisata yang mengadalkan event di suatu negara.

Salah satu yang membuat negeri ini melonjak kunjungan wisatanya adalah momen gerhana matahari total (GMT) pada 9 Maret 2016. Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) mencatat sekitar 5.000 wisatawan mancanegara berbondong-bondong ke Indonesia untuk menyaksikan langsung GMT itu.

Paling tidak, ada 10 kota yang menjadi sasaran para turis yaitu Palembang, Kepulauan Bangka Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, dan Halmahera. GMT ini menjadi anugerah bagi sektor pariwisata Indonesia, karena diharapkan banyak turis terkesan, lalu memberitahukan rekannya atau saudaranya untuk datang ke Indonesia.

Para pemimpin negeri ini sudah sadar, bahwa pariwisata adalah sektor yang paling "seksi" untuk mengeruk pundi-pundi pemasukan negara. Apalagai negeri ini memiliki alam nan indah, ragam budaya yang memikat, aneka kuliner lezat, dan penduduk yang diklaim ramah tamah. Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, bahkan mengatakan pemerintah fokus membangun sektor pariwisata, karena sektor ini paling cepat menciptakan lapangan kerja.
Tidak heran jika Presiden Jokowi menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara dapat diraih hingga akhir masa kepemimpinannya. Jokowi pun membuka kebijakan bebas visa bagi 174 negara. Pemerintah juga telah menetapkan 10 destinasi wisata unggulan Indonesia yakni Danau Toba-Sumut, Tanjung Kelayang-Belitung, Tanjung Lesung-Banten, Pulau Seribu-DKI, Borobudur-Jateng, Bromo-Jatim, Mandalika-Lombok, Morotai-Maluku utara, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Labuan Bajo Komodo-NTT. Di sepuluh destinasi wisata itu akan dikembangkan infrastruktur dasar, jaringan internet, dan air.

Namun bagaimana pun upaya fisik dilakukan pemerintah untuk menggenjot sektor wisata, faktor sumber saya manusia (SDM) lah yang paling penting. SDM di sini bukan hanya mereka yang bekerja di sektor wisata, namun masyarakat secara keseluruhan.

Apa artinya obyek wisata yang indah, namun masyarakatnya "memeras" atau menipu turis. Para turis tentu tidak nyaman jika masyarakat malah mengerumuni, meminta-minta, atau memaksa turis membeli barangnya. Belum lagi jika di objek wisata banyak pengemis atau gelandangan.

Turis pun merasa tidak nyaman jika objek wisata yang indah, namun kotor. Perilaku masyarakat yang jorok dengan membuang sampah dimana saja, dapat membuat turis kapok datang lagi.

Tantangan wisata Indonesia pascagerhana ini bukan sekadar infrastruktur, tapi adalah membuat masyarakat sadar wisata. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved