Kamis, 30 April 2026

Sorot

Wisata Gerhana Matahari

Suasana seperti itu tak ditemukan saat fenomena serupa 33 tahun lalu.

Tayang:
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana
dok. pribadi / facebook
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

Oleh: Machmud Mubarok, Wartawan Tribun Jabar

FENOMENA alam Gerhana Matahari Total (GMT), 9 Maret 2016, seolah blessing in disguise, berkah yang tersembunyi, terutama untuk dunia pariwisata Indonesia.

Bayangkan saja, dua belas provinsi di Nusantara dilintasi GMT secara penuh menjadi magnet bagi kedatangan ribuan wisatawan mancanegara.

Dunia pariwisata pun riuh. Berbagai festival digelar di sejumlah daerah sejak beberapa hari sebelum gerhana terjadi. Pentas budaya dan musik menjadi penghibur sekaligus penarik minat bagi para turis asing.

Hotel-hotel dan penginapan sudah penuh dipesan sejak jauh-jauh hari. Terutama di daerah yang memiliki durasi gerhana matahari cukup lama, seperti Palu, Luwuk, dan Ternate.

Daerah-daerah itu pun menjadi tujuan para peneliti dan ilmuwan untuk mengetahui lebih mendalam lagi mengenai fenomena alam yang langka ini.

Promosi-promosi gratis disebarluaskan kepada para wisatawan. Promosi soal wisata, tak hanya daerah yang dilalui GMT, tapi juga daerah lain.

Media daring dan media sosial begitu deras mengalirkan informasi soal GMT ini, sehingga #GMT2016 menjadi topik pemuncak dunia.

Berapa banyak devisa yang mengalir untuk negara? Tentu sangat besar sumbangan dari momen ini. Berapa banyak pula warga yang ikut menikmati secara ekonomi dari fenomena alam ini? Pasti sangat banyak.

Hitung saja, berapa banyak warga yang kreatif memproduksi kacamata untuk melihat gerhana.

Mungkin kacamata-kacamata itu banyak yang tidak memenuhi syarat khusus dari sisi bahan, tapi lihatlah keriaan dan kemeriahan yang dirasakan oleh masyarakat.

Mereka turut bergembira dengan hadirnya gerhana matahari total di tanah Nusantara.

Suasana seperti itu tak ditemukan saat fenomena serupa 33 tahun lalu. Ketika itu, di masa Orde Baru, fenomena alam ini bukanlah anugerah, tapi justru hal yang menakutkan. Propaganda pemerintah begitu masif, bahwa gerhana matahari seolah "haram" dilihat.

Ancaman mata akan buta seketika, anjuran setengah perintah untuk masuk ke kolong ranjang atau meja, menjadi memori kelam masyarakat saat itu.

Tak ada kemeriahan, kegembiraan, seperti saat ini. Tak ada warga yang berbondong-bondong datang ke Bosscha di Lembang atau Imah Noong, untuk bersama-sama menyaksikan fenomena gerhana matahari ini.

Zaman itu, jangan harap bisa menemukan siswa-siswa SMA beraksi dengan teropongnya di sekolah masing-masing, memantau matahari "ditelan" Batara Kala. Hanya mitos-mitos menakutkan yang terekam oleh masyarakat.

Di balik itu semua, tentu kita harus menyadari, meyakini, dan memahami benar bahwa fenomena gerhana matahari merupakan sebagian tanda kekuasaan Sang Pencipta, Allah Swt.

Tak ada kekuatan yang mampu mengatur sedemikian rumit dan detailnya peredaran matahari, bumi, bulan, dan benda angkasa lainnya, selain kekuataan Allah Swt.

Sisi religiusitas ini yang harus semakin ditingkatkan, sebagai bentuk rasa syukur dari bangsa ini.

Kejadian ini juga sebagai momen untuk introspeksi atas perjalanan panjang sejarah Indonesia.

Perbanyak bersyukur, niscaya nikmat dan karunia Allah Swt akan semakin tercurah. Bersyukurlah. (*)

Naskah ini juga disajikan untuk pembaca di edisi cetak Tribun Jabar, Kamis (10/3/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved