SOROT
Karst Citatah
Sifat batu gamping yang regas dan penuh dengan retakan membuat air bisa dengan mudah meresap.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Kisdiantoro
Oleh Arief Permadi
Wartawan Tribun
SETELAH ditambang, batu gamping dibakar dan dijadikan serbuk. Warga biasa menyebutnya dengan nama kapur tohor. Namun, kalangan industri mengenalnya dengan nama tepung kalsium karbonat (CaCO3).
Ada banyak manfaat dari tepung kalsium karbonat ini. Mulai untuk pembuatan kosmetik, pasta gigi, gula putih, cat tembok, bahkan baja. Nilai ekonomisnya jangan ditanya. Hanya dari kawasan karst Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saja, uang yang bergulir berikut nilai investasinya mencapai triliunan rupiah.
Secara garis besar, ada dua lapisan yang terdapat di bukit-bukit karst, termasuk di kawasan Citatah. Bagian atas adalah batuan gamping, ini yang biasa ditambang. Lapisan kedua di bawah gamping adalah tanah lempung pekat berwarna hitam yang tentu saja kedap air.
Sifat batu gamping yang regas dan penuh dengan retakan membuat air bisa dengan mudah meresap. Posisinya yang berada di atas lapisan lempung membuat bukit-bukit kars menjadi tempat penyimpanan air tanah yang sempurna dan alamiah. Tempat penyimpanan air tanah inilah yang belakangan hilang menyusul tak terkendalinya penambangan di kawasan kars di Indonesia, termasuk di Citatah.
Eksploitasi gamping di Citatah, konon sudah dimulai sejak tahun 1960-an. Namun, karena masih dilakukan dalam skala kecil dan dengan alat-alat yang sederhana, kerusakan yang timbul juga tak seberapa. Eksploitasi baru terasa mengkhawatirkan tahun 1990-an ketika dinamit mulai semakin marak dipergunakan selain alat-alat berat. Penambangan menjadi tak terkendali, dan bahkan sempat tak terawasi, bahkan hingga kini.
Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) mencatat ada 13 titik eksploitasi tambang di gugusan karst Citatah. Di masing-masing titik, tingkat kerusakannya bervariasi. Namun, rata-rata sudah mencapai 50 persen.
Bekas eksploitasi bisa terlihat di hampir di setiap gunung di karst Citatah. Kerusakan terparah ada di Gunung Bende. Tingkat kerusakannya mencapai 60 persen lebih, sementara di Gunung Karang Panganten, Hawu, Pabeasan, dan Gunung Bencana, tingkat kerusakan antara 35 hingga 50 persen.
Kerusakan ini belakangan mulai memicu hilangnya sejumlah mata air di kawasan tersebut. Beberapa bukit kapur musnah, dan semakin terancamnya kelestarian kawasan situs Gua Pawon yang diyakini sebagai salah satu situs tertua di dunia ini.
Dengan semua pengaruh buruk yang satu persatu mulai terlihat itu, memang tak ada lagi pilihan selain menghentikan dengan segera penambangan gamping ini sebelum terlambat.
Namun, seperti diungkap Ketua Himpunan Pengusaha, Pekerja, dan Masyarakat Tambang (HP2MP), Taufik E Sutaram, pikirkan juga dampak sosial dan ekonomi yang akan terjadi saat penambangan benar-benar dihentikan. Nilai investasi tambang di kawasan ini bisa mencapai ratusan miliar rupiah setiap bulannya, dan itu berarti bukan persoalan mudah.
Saat yang sama, di sisi lain, kerusakan akan terus bertambah. Tanpa upaya penyelamatan yang segera dan terukur dengan segala dampak serta antisipasinya, kasrt Citatah pasti akan hilang.
Benar bahwa di satu sisi, investasi tambang di kawasan ini jumlahnya luar biasa besar. Tapi karst ibaran kendi yang berisi air kehidupan. Membiarkannya hancur sama artinya dengan membuka jalan menuju kematian. Penanganan harus segera sebelum tak ada lagi yang bisa diselamatkan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/arief-permadi-besar_20150721_085709.jpg)