Teras

Sihir

SUARANYA amblas dan ia sempat mengurung diri.

Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Harian Pagi Tribun Jabar. 

DALAM pengertiannya yang sejati, politik adalah jalan pedang untuk mengabdikan diri kepada kepentingan umat manusia. Begitulah kita belajar dari alam pikir Yunani.

Namun seiring dengan dinamika zaman, pengertian politik telah bermetamorfosis. Imperium Romawi mengajarkan kepada kita bagaimana politik yang semula sebagai jalan suci kemudian menjadi penuh nafsu, yang tak jarang berlumur darah.

Rupanya, para dinasti Romawi melihat di dalam politik bukan hanya ada pengabdian, tapi ada sihir yang membius.

Bahkan sihir ini barangkali yang lebih terlihat secara kasat mata, sementara pengabdian sekadar normatif saja.

(lihat juga VIDEO: Ngeri! Gajah Kesasar, Ngamuk, Warga Siliguri Lari Kocar-kacir)

Sihir politik hanya bisa terlihat oleh orang yang tidak melibatkan diri dalam kancah kekuasaan.

Ia bisa melihatnya dengan terang dan jelas, dan bisa mengingatkan kepada seseorang yang tengah tersihir.

Jean-Jacques Rousseau (1712–1778) mengakui, ia menuliskan pandangan-pandangan filsafat politiknya dalam Social Contract karena merasa bukan politisi sehingga tidak merasa punya beban berat untuk menulis apa pun.

Karena bukan orang yang sedang terkena sihir, ia bisa mengingatkan orang-orang yang terkena sihir kekuasaan. Berkat tulisannyalah Prancis kemudian bertransorfmasi, membendung orang- orang yang gampang tersihir agar kembali ke jalan suci.

Setelah kekuasaan hanya sempat dinikmati oleh dua orang yang punya nama legendaris, Soekarno dan Soeharto, Indonesia dibukbak oleh gerakan reformasi agar politik dikembalikan ke marwah sucinya.

Seseorang hanya boleh menjadi presiden dan kepala daerah hanya dua kali.

Namun, seperti air yang selalu punya jalan untuk mengalir, meskipun disumbat dari berbagai arah, politik pun demikian licin.

Para petarung di kancah kekuasaan menembus benteng konstitusi dengan mewariskan kekuasaan pada keluarga.

Anak dan istri mencabut pedang setelah suami atau ayahnya tuntas merampungkan dua periode.

Maka berlangsunglah dinasti politik. Jika di Romawi kekuasaan langsung diserahkan ke anggota keluarga, di alam demokrasi anggota keluarga secara halal dan sah menerima kekuasaan karena ia unggul dalam mekanisme pemilihan umum.

Apa yang harus dipersoalkan? Bukankah demokrasi mengharamkan diskriminasi? Bukankah Amerika Serikat sebagai negara kampiun demokrasi pun telah memberikan contoh yang sama?

Soal etika dan moral cukup ada di buku-buku pelajaran dan dibahas di ruang kelas.

Kekuasaan memang sihir. Amien Rais, yang sempat menuai kekaguman banyak orang karena sikap heroiknya menjelang Soeharto tumbang, pada akhirnya terkena sihir juga.

Ia didukung banyak tokoh untuk maju dalam pertarungan pemilihan presiden 2004.

(lihat juga VIDEO: Seperti Ini Atraksi Barongsai Tonggak di Area Plaza Trans Studio Mall Bandung)

Saya masih ingat, dalam salah satun kampanyenya di Dadaha, Tasikmalaya, ia berpidato di tengah lautan pendukungnya dan mengatakan, "Saya tinggal selangkah lagi menuju kursi presiden."

Mungkin benar ia tinggal selangkah lagi, yaitu menunggu hari pencoblosan. Tapi dalam suaranya yang lantang dan eforia pendukungna terasa nada kemenangan. Ia begitu percaya diri.

Saya terharu dan sedih karena sang idola di alam reformasi itu ternyata tak menyadari bahwa politik penuh kekuatan sihir. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana apabila ia kalah.

Dan kenyataannya, suaranya amblas dan ia sempat mengurung diri.

Di masa-masa genting ketika para petarung politik dari masa lalu bertebaran, muncul pula para petarung baru. Politik memang membutuhkan orang-orang baik. Maka datanglah jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Siaful Djarot, Arya Bima dan wajah baru lainnya. mereka membawa harapan baru untuk tidak meniru para pemain lama, yang menemnpatkan politik tak lebih dari ajang mencari pekerjaan di sebuah korporasi. Mereka adalah harapan agar politik kembali ke marwahnya.

Jokowi rupanya kena sihir juga dan nasib cukup beruntung. Solo ia tinggalkan untuk memenuhi tugas partai yang melepasnya ke DKI. Jakarta pun ia tinggalkan karena partai memintanya jadi pemimpin nasional.

(lihat juga VIDEO: Detik-detik 2500 Seragam Batik Karya Siswa Santo Aloysius Bandung Masuk MURI)

Demi tugas partailah ia berjibaku bertarung di kancah politik dan ia bertuntung dalam petarungan ke pertarungan nasib baik selalu memihaknya.

Namun ia lupa dengan tugas suci politik, menuntaskan pengabdiannya pada warga yang telah memilihnya, baik di Solo maupun di Jakarta.

Dari perspektif tersebut saya sulit memahami nalar Wali Kota Bandung mengapa ia harus repot- repot bertanya kepada warga Kota Bandung di media sosial, apakah ia perlu ikut bertarung di kancah politik memperebutkan DKI 1 atau tidak.

Ia memang sedang galau karena, menurutnya, banyak suara yang mendukungnya ke Jakarta. Manusia memang wajar mengalami kebimbangan.
Tapi jika politik dipahami sebagai jalan mengabdi pada warga, maka pertanyaan sejatinya diajukan pada nuraninya sendiri, apakah ia harus meninggalkan warganya yang telah memilihnya atau bertarung mengalahkan Ahok demi sebuah karier politik yang lebih mentereng.

Tapi itulah sihir. Bisa melemahkan daya nalar. Siapa pun bisa kena, tanpa pandang bulu. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (29/2/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved