SOROT

Jet Darat Rp 320 Miliar

Pria asal Solo, kelahiran 22 Januari1993 ini, Kamis (18/2) sore, mengukir sajarah sebagai orang Indonesia pertama yang bisa mencicipi formula one (F1)

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Kisdiantoro
dok. pribadi / facebook
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

Oleh Oktora Veriawan
Wartawan Tribun

ADA kebanggaan bagi kita rakyat Indonesia ketika ada atlet yang berhasil juara di kancah internasional. Sebagai contoh, saat Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma berhasil menyabet medali emas cabang bulutangkis di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Saat itu, mayoritas rakyat Indonesia terharu, kalau bisa dikatakan menangis, saat lagu Indonesia berkumandang untuk pertama kalinya di olimpiade.

Sudah dari dulu, rakyat Indonesia patut berbangga dengan prestasi bulutangkis. Sampai saat ini, memang belum ada cabang olahraga lain yang prestasinya menyamai bulutangkis. Tapi usaha ke arah itu, sudah mulai ditunjukkan atlet-atlet Indonesia.

Salah satunya adalah Rio Haryanto. Pria asal Solo, kelahiran 22 Januari1993 ini, Kamis (18/2) sore, mengukir sajarah sebagai orang Indonesia pertama yang bisa mencicipi formula one (F1). Rio secara resmi menjadi salah satu pebalap formulai one (F1). Dia resmi dikontrak tim F1 dari Inggris, Manor Racing, untuk musim balap 2016.

Eits tunggu dulu. Tak mudah bagi Rio untuk menjadi pebalap tim medioker di lintasan jet darat ini. Manor Racing meminta mahar 15 juta euro atau sekitar Rp 320 miliar kepada Rio. Beberapa pebalap yang tadinya akan bergabung dengan tim Manor racing, banyak yang membatalkan diri karena menganggap mahar tersebut sangat kemahalan. Bos Mercedes, Toto Wolf, menilai harga yang harus dibayarkan Rio ke Manor cukup mahal. Pebalap jebolan Akademi Renault, Oliver Rowland, juga sempat mengungkapkan betapa mahalnya kursi Manor.

Menanggapi hal ini, manajer Rio, Piers Hunnisett, punya pendapat lain. Menurut pria kelahiran 1966 itu, harga 15 juta euro yang diminta Manor sebenarnya tidak mahal. Apalagi bila dibandingkan dengan tim lain yang membandrol satu kursinya hingga 20 juta euro.
Untuk balapan musim ini, Manor butuh 100 juta euro. Karena itu, tim asal Inggris itu butuh tambahan dana dari Rio. Dana-dana ini akan digunakan untuk membeli dan mengembangkan mesin Mercedes yang dipakai pada musim ini.

Hampir enam bulan, Rio mencari sponsorship, dan akhirnya PT Pertamina (persero) siap menjadi sponsor. Tapi Pertamina tak bisa memenuhi keseluruhan mahar itu. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akhirnya janji memberikan sumbangan yang nilainya cukup fantastis Rp 100 miliar yang akan diberikan setelah ada pengesahan APBN oleh DPR.

Mendengar itu, saya hanya bisa geleng kepala. Memang wajar jika pemerintah membantu pemudanya berprestasi di dunia, tapi dengan bantuan sebesar itu apakah tak terlalu berlebihan. Hanya untuk satu atlet (pebalap), pemerintah harus menggelontorkan dana itu. Bayangkan jika uang sebesar itu bisa digunakan untuk pembinaan atlet usia muda, tentu akan banyak manfaatnya.
Kemenpora sendiri berpendapat, dengan hadirnya Rio di pentas F1 maka nama Indonesia akan harum di mata dunia. Bukannya saya pesimistis, tapi memang faktanya tim yang akan diperkuat Rio, bukanlah tim F1 yang sudah punya prestasi, semisal Ferrari atau Mercedes McLaren.

Mudah-mudahan masih ada jalan lain untuk membantu Rio agar bisa berkiprah di F1. Saya bangga ada anak bangsa yang bisa menjadi bagian dari persaingan di lintasan jet darat. Tapi sekali lagi, mudah-mudahan pemerintah lebih bijak dalam memakai uang rakyat. Dengan power- nya, saya yakin Pemerintah dan Kemenpora bisa mencari solusi lain untuk membantu keuangan Rio di F1. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved