Sorot

Antara SJH dan GBLA

Panitia Besar (PB) PON XIX pun sudah menetapkan Stadion Si Jalak Harupat

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

STADION Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Gedebage Bandung memang megah. Sayang kemegahan itu tak sebanding dengan kualitas bangunan. Dinding retak di sana sini, tangga renggang dan fondasi ambles.

Itu pula yang membuat Komisaris Jenderal Budi Waseso menurunkan penyidik Bareskrim Mabes Polri untuk menyelidiki kejanggalan stadion yang dibangun dengan dana miliaran rupiah.

Proses penyelidikan itu yang membuat harapan bahwa Stadion GBLA bisa dipakai untuk laga-laga Persib dan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX pupus.

Tak mungkin menggunakan stadion yang sedang diselidiki penyidik Bareskrim dan kekuatan bangunannya diragukan. Terlebih kasus hukum tak mungkin dihentikan di tengah jalan.

Panitia Besar (PB) PON XIX pun sudah menetapkan Stadion Si Jalak Harupat (SJH) Soreang, Kabupaten Bandung sebagai lokasi pembukaan dan penutupan PON XIX.

Jelas itu terkait dengan pertimbangan kondisi Stadion GBLA yang maju mundur antara bisa dipakai atau tidak. Sejumlah persiapan sudah dilakukan untuk mempercantik Si Jalak Harupat.

Kedatangan Kabareskrim Komjen Pol Anang, yang menggantikan Buwas, disertai para penyidik ke Stadion GBLA, Rabu (10/2/2016), meniupkan angin segar.

Bareskrim akan melakukan mutual check O (MCO) atau penghitungan kuantitas pekerjaan sebelum mengeluarkan izin penggunaan GBLA dan menyerahkannya kepada Pemerintah Kota Bandung.

Penghitungan dan pengukuran ini diperlukan untuk memutuskan apakah bangunan Stadion GBLA kuat untuk menampung puluhan ribu penonton.

Memang idealnya, pembukaan dan penutupan PON XIX digelar di Kota Bandung, karena sebagian besar cabang olahraga dipertandingkan di Kota Bandung.

Tapi kita pun harus mempertimbangkan faktor safety (keselamatan). Apabila proses MCO beres dan izin dari Bareskrim keluar, dibutuhkan waktu untuk perbaikan Stadion GBLA.

Pasti perbaikan itu dilakukan siang dan malam, untuk mengejar waktu tersisa sekitar tujuh bulan. Apakah itu tidak mengandung risiko? Jelas, risiko itu tetap ada.

Bagaimana pula dengan keputusan PB PON yang menyatakan pembukaan dilakukan di Stadion SJH? Bagaimana dengan persiapan yang telah dilakukan? Bukankah Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) pun dikebut pengerjaannya demi memuluskan pembukaan PON di SJH?

Kalau PB PON kemudian memutuskan untuk memindahkan opening ceremony ke Stadion GBLA, berarti persiapan di Stadion Si Jalak Harupat mubazir.

Tapi sekali lagi, pertimbangan untuk memindahkan lokasi pembukaan PON XIX ke GBLA ini tidak mudah dan harus benar-benar dipikir matang.

Jangan sampai salah memutuskan. Mudah-mudahan keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk Jawa Barat. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Jumat (12/2/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved