Papan Nama Jalan Kota Bandung

Sukarno Jadi Soekaarano, Satu Contoh Salah Papan Nama Jalan Beraksara Sunda

Pemerhati aksara Sunda mengaku terkejut saat Tribun memperlihatkan foto papan nama aksara Sunda

Sukarno Jadi Soekaarano, Satu Contoh Salah Papan Nama Jalan Beraksara Sunda
BUKBIS CANDRA ISMET BEY
Kondisi papan nama jalan beraksara Sunda di Kota Bandung, Senin (15/1/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Penulisan aksara Sunda pada sejumlah papan nama jalan di Kota Bandung menyalahi aturan baku. Kesalahan penulisan itu menyebabkan rangkaian aksara Sunda ini memiliki bunyi dan arti lain saat dibaca, tidak seperti nama jalan yang seharusnya.

Kesalahan penulisan aksara Sunda terbaru terjadi pada papan nama Jalan Dr Ir Sukarno, yang baru diresmikan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, November 2015, menggantikan Jalan Cikapundung Timur. Dalam papan nama itu tertulis dalam huruf Latin "Jl. DR. Ir. Sukarno".

Namun, penulisan aksara Sunda yang tertera di bawah tulisan itu keliru hingga jika dieja kembali dalam huruf Latin akan berbunyi "JL RI SOEKAARANO". Selain terlalu banyak huruf vokal "A", gelar Dr presiden pertama RI ini pun tidak tertulis dalam nama jalan beraksara Sunda.

"Bahkan, ditemukan tabrakan dalam aksara nama pertama SA, yang dapat dibaca SO atau SE. Dalam naskah-naskah Sunda akuno jika ada tabrakan atau yang ganda seperti ini, bisa disebut koreksi, dalam kata lain dianggap hilang. Jadi, bisa kalau dibaca KAARANO saja," kata Ilham Nurwansah, pemerhati bahasa dan aksara Sunda yang juga alumnus Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda UPI Bandung, kepada Tribun, Sabtu (23/1/2016).

Ilham juga mengaku terkejut saat Tribun memperlihatkan foto papan nama aksara Sunda dari Jalan Homann dan Jalan Kebon Jukut. Jika ditulis dalam huruf Latin, aksara Sunda nama jalan tersebut masing- masing berbunyi "Nyala Hoang" dan "Jala Kebona Jukuta".

Belakangan diketahui, kesalahan penulisan aksara Sunda juga terjadi pada papan nama Jalan Lengkong Besar, Jalan Lengkong Kecil, Jalan Inggit Ganarsih, dan lain-lain.

Di bawah tulisan "Jl. Lengkong Besar" terdapat aksara Sunda yang jika dibaca akan berbunyi "Nyla LengngaA Ongnga E Ara". Dalam hal ini, aksara L dan R yang digunakan bukanlah dari aksara ngalagena atau yang biasa dipakai untuk konsonan, melainkan untuk rarangkén atau imbuhan.

Hal serupa terjadi pada papan nama di bawah tulisan "Jl. Lengkong Kecil" yang terdapat aksara Sunda berbunyi "Jala Lenagakonaga Kecila". Di bawah papan nama jalan "Jl. Balonggede", aksara Sunda yang ditulis berbunyi "Jala Baalonaga Gede".

Sebelum dicabut untuk diperbaiki, kata Ilham, papan nama Jalan Inggit Garnasih pun mengalami kesalahan penulisan. Aksara Sunda yang ditulis di bawah nama jalan tak bisa dibaca sebagai Jalan Inggit Garnasih, melainkan "Jala Inagagita Gaamaasiha".

Halaman
12
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved