SOROT
Sudirman Said Galau
Dan, rasanya pas kalau penulis atau sidang pembaca bilang, wow!
Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Kisdiantoro
Oleh Dicky Fadiar Djuhud
Wartawan Tribun
MENYUSUL sepak terjang Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said belum lama ini yang melambungkan kegaduhan hingga lengsernya pimpinan Ketua DPR RI, Setya Novanto. Tak lama berselang, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin pun mengundurkan diri. Khusus Maroef, dia menyebut, mengundurkan diri dari posisinya di perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu seiring dengan habis masa jabatannya. Sedangkan pengusaha M Riza Chalid yang ikut tersandung kasus pencatutan nama Presiden RI Joko Widodo belum terdengar atau terlihat secara signifikan kabarnya.
Kali ini, Sudirman Said tengah dilanda galau di lain persoalan. Bukan tanpa alasan, kegalauannya kali ini tak ada kaitannya lagi dengan catut mencatut nama Presiden RI atau tentang seputar PT Freeport. Namun, menyangkut harga bahan bakar minyak (BBM).
Itu pula yang membuat Sudirman dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR Senin (25/1), menjelaskan alasan mengapa pihaknya tak mau buru-buru menurunkan harga BBM kembali. Meski harga minyak dunia merosot, bahkan hingga di bawah US$ 30/barel. Menurutnya, jika harga BBM diturunkan akan mengorbankan masyarakat.
Kenapa mengorbankan masyarakat? Mungkin, kali ini ada benarnya juga kegalauan bapak yang satu ini, lain dengan kegalauan sebelum-sebelumnya. Dan, rasanya pas kalau penulis atau sidang pembaca bilang, wow! Lantaran, benar juga, penurunan harga BBM tidak disertai dengan penurunan harga bahan pokok dan transportasi. Di sisi lain jika harga BBM kembali naik karena harga minyak dunia naik, harga bahan pokok dan transportasi mengikuti kenaikan tersebut.
Ya, para pakar memprakirakan harga minyak dunia akan terus turun dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, pemerintah siap jika harus menurunkan harga BBM pada bulan Maret 2016. Sebab, bulan Maret memang waktunya pemerintah mengevaluasi kembali harga BBM, yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Terakhir, pemerintah mengevaluasi harga BBM akhir Desember 2015 lalu.
Penegasan pemerintah siap menurunkan harga BBM pada bulan Maret 2016 dikemukakan oleh Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM Montty Giriana dalam edisi cetak Tribun Jabar, Senin (25/1). Menurutnya, harga BBM akan mengikuti perkembangan harga minyak dunia. "Kalau harga turun, mau gak mau akan kita turunkan (harga BBM) lagi," katanya.
Belum lekang teror bom di Sarinah, Jakarta yang menggegerkan, di sisi lain pemerintah punya dilema paling sulit. Dapat dibayangkan, kalau harga BBM turun terlalu dalam, perlu pertimbangan matang sematang-matangnya dan cerdas secerdas-cerdasnya. Pasalnya, nanti yang dikorbankan masyarakat kecil. Masyarakat kecil yang mana? Rasanya pertanyaan ini tak perlu dijawab, saya yakin dan tidak dalam keadaan galau sidang pembaca bisa memahaminya. Saya pun yakin, sidang pembaca lebih cerdas yang dimaksud dengan masyarakat kecil di sini siapa?
Yang jelas, ketika harga BBM turun, harga bahan pokok tidak turun semua. Kalau turun terlalu dalam, kasihan masyarakat bawah ketika terjadi kenaikan lagi. Artinya, jika pemerintah menurunkan harga BBM sekarang, lalu menetapkan kenaikan dikemudian hari saat harga minyak dunia kembali terangkat, maka ujung-ujungnya harga bahan pokok akan naik berkali-kali. Tentu, masyarakat dengan daya beli rendah akan sangat tertekan. Inilah yang membuat Sudirman Said galau, bagaimana dengan sidang pembaca? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dicky-fadiar-djuhud-versi-lebar_20150619_144531.jpg)