TERAS

Kusrin

Di negeri ini sepertinya banyak orang bertalenta seperti Kusrin, hanya saja lingkungan, terutama negara, kurang mendukung

Kusrin
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah 

Oleh Cecep Burdansyah, Wartawan Tribun Jabar

Orang yang kreatif, gigih, dan pantang menyerah adalah orang-orang sukses
Kusrin orang yang kreatif, gigih, dan pantang menyerah
Kusrin... nyaris gagal jadi orang sukses

KUSRIN nyaris saja mematahkan hukum penalaran silogisme. Tapi kita tidak tahu, mungkin saja masih banyak orang seperti Kusrin yang nasibnya tak sebaik Kusrin. Kesuksesan seseorang memang selalu jadi misteri, tidak selamanya hukum penalaran silogisme dengan premis-premis seperti yang sering dikampanyekan oleh para motivator atau pakar manajemen sumber daya manusia bisa terbukti kebenarannya. Andaikan Kusrin tidak menjadi perhatian media, mungkin pemerintah pusat, Kementerian Penrindustrian, tetap abai.

Karena tidak menerima begitu saja premis-premis yang selalu didengungkan para pakar manajemen sumber daya itulah, seorang penulis Malcolm Gladwell meneliti rahasia orang-orang sukses yang kini nama-namanya sudah top sebagai orang-orang berhasil, mulai kalangan pebisnis, politisi, selebritas, sampai para aktivis. Dari penelitiannya, seperti terungkap dalam bukunya yang terkenal, Outliers, kesuksesan seseorang itu tidak cukup dengan kreatif, gigih, dan pantang menyerah. Ada faktor lain yang tak kecil kontribusinya: lingkungan.

Maksud Gladwell tentu saja lingkungan dalam arti luas. Bisa orang-orang di sekitar lingkungan terdekat, seperti keluarga, sahabat, lingkungan desa, masyarakat yang lebih luas, hingga mereka yang mempunyai kebijakan di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan negara. Kita tahu kisah Steve Jobs. Ia mendapat kawan yang sangat mendukung. Namun ketika mendirikan perusahaan, para petinggi perusahaan balik melawan Jobs hingga ia terusir. Ia nyaris putus asa. Namun tanpa Jobs, pasar ternyata tidak merespons produk Apple. Artinya, lingkungan mendukung Jobs. Dan Jobs kembali dipanggil untuk membesarkan Apple hingga akhirnya namanya tak bisa dipisahkan dari Apple. Keputusannya untuk hengkang dari bangku kuliah tidak sia-sia. Tapi semua itu tak akan ia peroleh andai lingkungan tidak mendukung.

Muhamad Kusrin (36), warga Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, termasuk orang yang beruntung karena dalam dirinya mengalir DNA seperti kreatif, gigih, dan pantang menyerah. Keterbatasan pendidikan yang hanya tamat sekolah dasar tidak membuat otaknya kuled. Kemiskinan yang memaksanya harus melanglang Jakarta sekadar jadi kuli bangunan tidak membuatnya meratapi nasib berkepanjangan. Kegagalan beberapa kali karena dicurangi karyawannya tidak memadamkan api kegigihannya. Pelan-pelan tapi pasti ia terus merayap, hingga karyanya bisa dijual di toko-toko dengan merek yang ia buat sendiri. Sampai akhirnya hukum positif menghentikan langkahnya.

Ya, negaralah yang telah menghentikan langkah Kusrin. Polisi tidak salah karena melaksanakan kewajibannya berdasarkan regulasi yang dibuat negara. Berdasarkan Pasal 120 ayat (1) jo Pasal 53 ayat (1) hurup b UU RI No.3/2014 Tentang Perindustrian dan Permendagri No. 17/M-IND/PER/2012, Perubahan Permendagri No. 48/M-IND/PER/8/2010 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap Tiga Industri Elektronika Secara Wajib. Regulasi ini tentu saja baik karena dasar pikirannya adalah untuk melindungi konsumen dari produk elektronik yang membahayakan keamanan konsumen.

Persoalannya, selain negara wajib melindungi konsumen, negara pun wajib melindungi bahkan mengembangkan warganya yang mempunyai talenta seperti Kusrin. Lalu apa artinya para pejabat dan pakar ekonomi selalu berkoar tentang ekonomi kreatif kalau orang-orang seperti Kusrin dibunuh dengan hukum positif? Lalu apa artinya ada Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koordinator Sumber Daya Manusia kalau tidak bisa memetakan kesulitan dan hambatan yang dihadapi orang-orang kreatif seperti Kusrin? Seharusnya pemerintah mulai tingkat desa hingga tingkat Kementerian Perindustrian bisa mendeteksi masalah yang dihadapi Kusrin, yaitu bagaimana caranya memperoleh status SNI. Jangan menunggu dulu digerebek polisi lalu disorot media baru Menteri Perindusrian turun tangan. Jangan hanya menikmati empuknya kursi menteri tapi tak mau berkeringat.

Di negeri ini sepertinya banyak orang bertalenta seperti Kusrin, hanya saja lingkungan, terutama negara, kurang mendukung. Struktur lebih mudah membunuh kultur. Begitulah hidup. Semua hal harus punya kisahnya, seperti halnya pewarna rambut yang pernah disambut sinis, televisi produk Kusrin bermerek Maxreen, Veloz, dan Zener harus punya cerita sebelum betul-betul diterima pasar. (*)

Penulis: cep
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved