SOROT

Efek Psikologis Awan Gelap

Pemandangan awan gelap yang bergerak cepat ini membuat suasana sekitar juga menjadi sedikit gelap.

Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR
Ferri Amiril Mukminin, Wartawan Tribun 

Oleh Ferri Amiril

Wartawan Tribun Jabar

JIKA Anda yang kebetulan sedang berada di luar ruangan tentu akhir-akhir ini sering melihat jenis awan terlihat gelap dan rendah, bergelantungan berat di udara, dan bergerak sedikit cepat dengan suasana dingin yang begitu terasa. Pakar cuaca memprediksi hal tersebut akan turunnya hujan dalam waktu yang cepat dan akan berlangsung tidak sebentar.

Pemandangan awan gelap yang bergerak cepat ini membuat suasana sekitar juga menjadi sedikit gelap. Jarum di jam baru menunjukan pukul 14.00 WIB misalnya, tapi suasana sekitar sudah seperti petang menjelang malam.

Para pakar cuaca menyebut kejadian ini dengan cuaca ekstrem atau cuaca buruk. Banyak orang sudah memiliki tips menjaga kesehatan menghadapi cuaca ekstrem, namun tidak sedikit juga yang kurang mempersiapkan diri menghadapi efek psikologisnya.

Cuaca buruk yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB itu terus berlanjut hingga petang dan menyambung hingga malam hari, tentu hal ini menyebabkan suasana gelap akan bertahan lama dari biasanya. Hal ini akan memberikan efek bagi psikologis tubuh seperti cepat lelah, mengantuk, bahkan menimbulkan kecemasan, sedih, hingga depresi.

Efek yang paling terkenal dari perubahan cuaca pada suasana hati adalah suatu kondisi medis yang disebut Seasonal Affective Disorder (SAD). Kendati dampak psikologis ini, sering ditemui di negara-negara yang mengalami musim dingin, tapi perubahan cuaca secara ekstrim dalam beberapa kasus turut mempengaruhi kondisi psikologis seseroang.

Menurut Wikipedia, gangguan afektif musiman ini juga dikenal sebagai winter depression, winter blues, summer depression, summer blues, or seasonal depression. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV), SAD dikenal bukan lagi sebagai gangguan mood yang unik, tetapi sudah mengarah pada "a specifier of major depression".

Orang yang menderita SAD menjadi sangat lelah dan merasa tertekan sepanjang musim atau cuaca ekstrem terjadi.

Biasanya ketika terkena sinar matahari, tubuh kita akan menghasilkan banyak Vitamin D3, dan karena itu tubuh kita biasanya menghasilkan lebih banyak zat yang disebut Serotonin. Serotonin adalah bahan kimia yang ditemukan di otak dan itu sangat penting untuk suasana hati anda. Oleh sebab itu, pada saat tidak memiliki cukup cahaya atau kekurangan Serotonin maka dapat menyebabkan depresi.

Awan gelap, hujan, cuaca buruk diprediksi para pakar akan meningkat pada Januari dan Februari ini. Tentu gejala SAD akan menerpa sebagian besar warga Jawa Barat. Kondisi murung ketika cuaca mulai gelap dan turun hujan menurut penelitian, sangat wajar dan manusiasi ketika kita rasakan. Kekesalan memuncak ketika kita mengagendakan aktivitas dan saat itu hujan turun juga menjadi hal yang banyak dialami. Solusinya dengan memperbaiki agenda aktivitas dengan melihat prakiraan cuaca di media cetak, atau online. Hal tersebut akan cukup membantu dalam mengantisipai cuaca buruk yang akan terjadi.

Ketika kecemasan itu datang terdapat beberapa alternatif untuk mencegahnya mulai dari obat-obatan, makanan yang cukup mengandung Serotonin (ditemukan pada jamur, buah-buahan dan sayuran), terapi cahaya yang cukup setiap hari. Dari prediksi cuaca yang terjadi akhir-akhir ini pada pagi hari menjelang siang biasanya sinar matahari masih bisa kita dapatkan. Medis menyarankan untuk beraktivitas di atas sinar matahari agar asupan vitamin untuk tubuh kita tetap cukup. Mengonsumsi makanan berlemak agar kalori tubuh tetap terjaga juga sangat disarankan, disamping seringnya berkumpul bersama teman dan keluarga.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved