Sorot

Video Porno

Duh, nelangsa. Seorang ayah tega merusak masa depan anaknya dan menjadikan ia trauma seumur hidup.

Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dedy Herdiana

Oleh Kisdiantoro

Wartawan Tribun Jabar

FILM dewasa. Nama lain dari film ini adalah film biru atau video porno. Apa isinya?

Sesuai namanya, konten film ini adalah gambar bergerak tentang tubuh manusia atau perilaku seksual manusia secara terbuka dengan tujuan membangkitkan gairah seksual.

Bisnis haram ini mulai ada tak lama setelah ditemukannya media film tahun 1900-an. Mereka mulai bereksperimen membuat film dewasa dan menjajakan kepada khalayak.

Peredaran film ini awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Lalu setelah era internet datang, sekitar tahun 1990-an, metode pemasaran untuk mendulang uang pun berubah.

Produser merambah internet dengan membuat situs-situs bermuatan video porno. Luar biasa. Media ini mengantarkan film- film dewasa itu ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Teknologi terus berkembang. Film dewasa yang semula hanya bisa dinikmati kalangan terbatas karena memerlukan media pemutar atau sebuah komputer meja pengakses internet, kini leluasa bisa ditonton siapapun, orang dewasa maupun anak-anak, melalui telepon pintar (smartphone).

Sebuah ujian yang berat bagi setiap orang untuk menghindari iming-iming tayangan pronografi. Apalagi kini koneksi internet pun bisa dilakukan di banyak tempat, tak harus di kamar atau tempat tersembunyi.

Di alun-alun, taman, kafe, dan tempat lain, orang bisa mengakses internet.

Mengenai dampak buruk internet, Kementerian Komunikasi dan Informasi menyisir banyak situs bermuatan pornografi, kemudian memblokirnya.

Nyatanya, sejumlah situs masih bisa diakses. Film-film yang sudah ter-download pun tetap menyebar, dari satu handphone ke handphone lain.

Termasuk salah satunya menyasar handphone yang dimiliki pria berinisial ET, warga Desa Karamatmulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, yang sudah beristri dan memiliki anak perempuan.

Bak mengonsumsi heroin atau ganja, pria ini selalu ketagihan menonton film porno.

Saking tak kuat menahan hasrat untuk melakukan adegan seperti yang ia tonton, ET kemudian memaksa anak kandungnya untuk melayaninya.

Duh, nelangsa. Seorang ayah tega merusak masa depan anaknya dan menjadikan ia trauma seumur hidup.

Tak bisa dibayangkan betapa menderitanya, gadis belia berseragam sekolah, selama dua tahun dipaksa dan diancam diusir dari rumah jika tak mau melayani ayahnya.

Meski sang ayah, pekan lalu, telah ditangkap dan mendekam di tahanan, itu tak bisa mengembalikan kecerian sang puteri.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa orang bertindak tidak normal setelah berulang kali menonton film porno?

Ternyata, dalam sebuah penelitian menonton film atau video porno berdampak buruk bagi kesehatan otak.

Ahli bedah bedah syaraf Donald L Hilton Jr, MD, dalam sebuah seminar mengatakan, otak bagian tengah depan secara fisik mengecil.

Dampaknya, orang yang suka menonton film porno akan mengalami perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol.

Ini yang membuat orang-orang yang kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya. Kecanduan pornografi juga menimbulkan gangguan memori, berpikir lemah, suka berbohong untuk menutupi rasa malunya, sulit berkonsentrasi, produktivitas menurun, dan otak sesak dengan gambar porno.

Dan dampak yang kasat mata adalah membuang-buang waktu.

Yakinlah, film porno sedikit pun tak memberikan manfaat positif. Itu mengapa setiap agama melarangnya dan memerintahkan setiap umat untuk berpakaian sopan dan tak mengumbar aurat.

Perjuangan besar bagi setiap orang tua untuk mengawasi anak-anak dalam memakai smartphone dan jaringan internet. Sebab, salah pencet pun bisa muncul tayangan pornografi. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Selasa (29/12/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved