Sorot

Paris-Palestina

SERANGAN teroris secara masif kembali terjadi, Jumat (13/11/2015) malam. Kota Paris adalah sasarannya.

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

SERANGAN teroris secara masif kembali terjadi, Jumat (13/11/2015) malam. Kota Paris adalah sasarannya.

Setidaknya serangan dilancarkan di tujuh tempat, dalam kurun waktu hampir bersamaan yang menewaskan 153 orang.

Serangan diawali pukul 21.00 waktu setempat.

Seseorang membawa senapan serbu jenis AK47 (Avtomat Kalashnikova 1947, buatan Rusia) menembaki belasan orang di bar Le Carillon dan restoran Petit Cambodge di seberangnya.

Tercatat 11 orang tewas dalam serangan itu. Selang 50 menit kemudian, bom bunuh diri meledak di sekitar Stadion Stade de France saat laga persahabatan Prancis melawan Jerman.

Laga yang ditonton langsung Presiden Prancis, François Hollande, menewaskan 10 orang di lokasi ledakan tak jauh dari stadion.

Ketika seluruh warga Paris panik, serangan semakin menjadi-jadi, pukul 21.57. Dalam waktu bersamaan, teroris menyerbu empat lokasi sekaligus.

Di gedung konser musik Bataclan, tiga lelaki berpakaian hitam masuk ke gedung saat pertunjukan berlangsung.

Mereka menembakkan AK-47 di tangan mereka selama 10-15 menit dari atas panggung. Mereka lalu menyandera setidaknya 100 orang di dalam gedung. Sedikitnya, 112 orang tewas.

Serangan lainnya di restoran La Belle Equipe yang menewaskan 18 orang. Disusul serangan lainnya di Boulevard Voltaire dan Forlaine le Roi, yang menewaskan 6 orang.

Sementara dari kelompok teroris, tercatat delapan orang anggotanya tewas, baik itu ditembak petugas maupun yang meledakkan diri dengan bom high explosive yang dipasang di tubuh mereka.

Beberapa jam berselang, ISIS mengklaim bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan itu.

Mereka menyebut Prancis adalah negara sekutu yang jadi target utama penyerangan.

Hal ini terkait kebijakan Presiden Prancis, François Hollande, yang terus menggempur basis- basis ISIS di Irak dan Suriah, sejak 27 September 2015.

Malahan, ISIS sudah mengunggah video ancaman teror lanjutan.

Dalam video itu, seorang militan berjanggut mengatakan bahwa selama pasukan sekutu terus membom basis-basis ISIS, negara-negara sekutu tidak akan aman. Video tak bertanggal itu dirilis Sabtu (14/11/2015), melalui sayap media ISIS, yaitu Al-Hayat Media Center.

Seluruh dunia terkejut. Hampir seluruh pimpinan negara, termasuk Indonesia melalui Presiden Joko Widodo, ikut mengucapkan belasungkawa dan pengutukan atas serangan tersebut.

Namun saya sedikit merenung saat beberapa teman mengirim sebuah gambar di laman twitter, instagram dan facebook.

Dalam gambar itu tertulis, ‘Paris kena bom sekali saja, satu dunia heboh. Palestina, Irak dan Gaza kena bom setiap hari, satu dunia pura-pura tuli, buta dan bisu’.

Ya begitu lah adanya, termasuk Indonesia. Saat Paris di bom kemarin, Presiden langsung bereaksi cepat. Tapi janji untuk memerdekakan Palestina, belum terlihat aksi konkretnya.

Tak salah jika Rapat Kerja Nasional I/2015 Majelis Ulama Indonesia yang digelar 10-12 November 2015 di Jakarta, mendesak Presiden Joko Widodo untuk menunaikan janjinya dalam memperjuangkan bangsa Palestina.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan Pemerintah RI adalah segera membuka perwakilan RI di Gaza, Palestina.

Selain itu, MUI meminta Indonesia membuka kerja sama internasional yang lebih kuat lagi dalam penyelesaian Palestina. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (16/11/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved