Sorot

Sumpah Pemuda dan Bonus Demografi

HARI ini kita memperingati 87 tahun Sumpah Pemuda.

Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Adityas Annas Azhari, Wartawan Tribun. 

HARI ini kita memperingati 87 tahun Sumpah Pemuda. Inilah puncak kesadaran para pemuda akan pentingnya bertanah tumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Delapan puluh tujuh tahun yang lalu, saat tanah ini masih dicengkeram penjajah Belanda, maka identitas nasional, dan harga diri bangsa adalah penting. Tekad pemuda untuk berkuasa di tanah sendiri, lepas dari cengkeraman kolonial adalah pilihan suci.

Persoalan justru terlihat setelah lepas dari cengkeraman kolonial. Berbagai persoalan yang melibatkan pemuda muncul dalam membangun negeri ini.

Adalah tidak mudah mengatur 250 juta jiwa yang ada di 17.000 pulau dengan sedikitnya 3.000 suku bangsa. Apalagi negeri ini juga menerima bonus demografi.

Apa itu bonus demografi? Bonus demografi adalah bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya.

Artinya negeri ini akan banyak memiliki usia produktif, yang umumnya kaum muda untuk berkiprah.

Pada tahun 2020 atau lima tahun dari sekarang, bonus demografi itu akan tiba secara nyata. Akan ada dua per tiga dari jumlah penduduk keseluruhan, yang berada pada usia produktif.

Bonus demografi ini bak pedang bermata dua, Bisa menjadi anugerah atau musibah. Bonus demografi menjadi anugerah jika usia produktif ini berkualitas dan terserap lapangan kerja sehingga punya tabungan yang dapat digunakan untuk investasi pembangunan ekonomi jangka panjang.

Namun, berkah ini bisa berbalik menjadi musibah, jika usia produktif ini tidak berkualitas dan tidak berproduktivitas. Bonus demografi ini bisa menjadi bencana dan berakibat fatal jika tidak dipersiapkan dengan baik kedatangannya sehingga dapat menjadi beban negara.

Untuk itulah pentingnya perencanaan bagi para pemuda dalam menjalani hidup. Hal ini penting karena tanpa perencanaan atau gagal merencanakan, maka sama artinya merencanakan gagal.

Akan jadi apa negeri ini jika pemudanya hanya menjadi tenaga tidak produktif, pengangguran, dan jauh dari kreatif.

Saat ini indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia terbilang masih rendah. Dari 187 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 108. Sedangkan di wilayah ASEAN, Indonesia berada di peringkat 5, di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.

Hal ini menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita bereskan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Untuk itu, peningkatan kualitas pemuda berlandaskan semangat sumpah pemuda adalah hal mutlak bagi pemuda Indonesia. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (28/10/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved