Teras

Irasionalitas Bola

SEPAK bola katanya ditemukan karena kegembiraan.

Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah. 

SEPAK bola katanya ditemukan karena kegembiraan. Saya percaya karena manusia secara alamiah selalu mempunyai cara untuk menemukan kegembiraan, di tengah kondisi segetir apa pun.

Mungkin awalnya ditemukan secara tak sengaja.

Berkat kecerdasan manusia, terutama kejelian melihat peluang, bola kemudian menjadi komoditi.

Unsur kegembiraan yang membuat semua orang terhibur, itulah yang dikemas dan kemudian dijual.

Bola, dengan kemampuan individu dan tim, benar-benar menakjubkan. Ia mendatangkan kegembiraan bukan hanya karena kita melihat piawainya kaki-kaki para pemain menggiring bola dan tim yang solid, tapi juga uang dan popularitas, dan tentunya gaya hidup.

Kita takjub dengan tendangan pisang David Beckham, sekaligus gaya rambutnya yang macho. Bahkan gosipnya yang selalu membuat penasaran.

Elena Di Cioccio, seorang presenter wanita dari sebuah televisi, terpaksa ingin membuktikan golden ballnya Beckham yang selalu dibanggakan istrinya, Vicoria, terlebih setelah melihat penampilan Becham dalam iklan underwear. Ia nekat merabanya.

Kepiawaian seorang pemain telah menjadikan dirinya bertarif mahal, dan selalu diburu para bos tim kesebelasan dalam pertaruhan jual beli pemain.

Begitu pula pelatih. Nama-nama beken pelatih ikut mengorbit bersama pemain, dan membuat kita terhibur ketika ada pelatih yang mampu menyulap tim yang ada di papan bawah atau papan tengah merangsek ke papan atas.

Gus Hiddink makin populer setelah membawa tim Korea Selatan berada di posisi keempat dalam Piala Dunia 2002.

Orang Asia, termasuk Indonesia, merasa terwakili dan otomatis terhibur, karena sebuah prestasi yang luar biasa bagi tim Asia bisa berada di peringkat empat, bersama tiga kesebelasan papan atas, Brasil, Jerman dan Turki.

Kosrel dan Turki yang mewakili negara-negara Arab memang jadi kejutan pada tahun itu.

Seperti Beckham yang mengundang sensasi, Moerinho pun mempunyai sensasi karena mulutnya yang pedas.

Terakhir kali ia didenda Rp 1 miliar oleh Federasi Sepak Bola Inggris (FA) karena menghina wasit saat The Blues ditekuk Southampton 1-3 di ajang Liga Premier Inggris awal bulan ini.

Mourinho bergembira ketika timnya jawara, tapi ia tak bisa menahan emosi saat timnya kalah. Akal sehat terkadang terselimuti kabut baik bagi yang menang dan terutama yang kalah.

Si kulit bundar memang sudah jadi sihir, tapi masyarakat sering lupa di balik layar ada tangan- tangan yang mengeruk untung.

Tapi itu hal yang biasa karena sebagian manusia diberi kemampuan untuk melihat peluang bisnis. Yang heran, ketika irasionalitas merasuki sepak bola. Kehebatan FIFA dalam mengorganisasi permainan ini, ternyata menyimpan misteri yang baru terungkap akhir-akhir ini.

Korupsi telah menjatuhkan sang legendaris presiden FIFA Sepp Blater. Artinya, dalam kemapanan, dalam kestabilan kekuasaan, selalu ada potensi korupsi.

Teori Lord Acton sudah lama mengingatkan, tapi manusia selalu lengah oleh kehebatan seseorang.

Irasionalitas yang lebih mengerikan ketika sepak bola menciptakan permusuhan abadi.

Pendukung kesebelasan Persib, bobotoh yang bermusuhan dengan pendukung Persija, The Jack, contoh irasionalitas paling sempurna.

Bagaimana mungkin seorang pemuda Jakarta yang tengah melintas di Jakarta mengenakan kaus oranye langsung digebuki.

Kendaraan leter D yang melintas di Tol menuju Jakarta ramai-ramai dilempari orang dengan batu saat hendak masuk wilayah Jakarta.

Tak sedikit warga yang tak tahu menahu tentang sepak bola harus mengurungkan niatnya ke Jakarta pada hari Sabtu dan Minggu hanya karena irasionalitas ini.

Agama diciptakan sebagai jalan untuk mendekat kepada sang Khalik, tapi juga bisa berubah menjadi alat untuk membenci sesama karena irasionalitas hinggap dan merasa diri paling benar.

Kini sepak bola dijadikan tim paling disayangi, dan jadi pembenaran untuk menganiaya pendukung lawan.

Manusia diberi pembeda dengan binatang, yaitu akal sehat. Tapi ia rela mengorbankan akal sehatnya demi sepak bola atau pun yang lainnya.

Manusia jaman dulu kita kutuk karena irasionalitasnya sebagai penyembah berhala. Di zaman moderen ini irasionalitas ternyata masih hidup.*

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (19/10/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.  

//

KEMENANGAN PERSIB SEMAKIN LENGKAP DENGAN DUA PENGHARGAAN DISABET ZULHAMhttp://bit.ly/1W0EBGiDengan dua gelar itu, Zulham berhak meraih hadiah Rp 300 juta.

Posted by Tribun Jabar Online on Sunday, October 18, 2015
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved