Sorot
Hidup Persib!
PERSIB tak pernah juara lagi sejak Liga Indonesia jilid perdana.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TROFI Piala Presiden. Itulah persembahan teranyar dari skuat Persib era kepelatihan Djadjang Nurdjaman.
Inilah trofi keempat dari skuat Maung Bandung setelah berhasil menaklukkan Sriwijaya FC di laga final, Minggu (18/10/2015) malam.
Persembahan gelar keempat ini terasa sangat spesial karena laga final digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.
Bukan persoalan stadion itu markasnya Persija Jakarta, seteru abadi Persib.
Bukan juga persoalan stadion tersebut sebagai “tempat sakral” bagi The Jak Mania.
Tapi itulah laga final yang mengingatkan kita, 20 tahun lalu saat Persib juara Liga Indonesia pertama, musim 1994/1995.
Era keemasan Persib telah kembali. Begitu beberapa pengamat sepak bola membandingkan skuat Persib 1994/1995 dengan skuat Persib asuhan Djadjang.
Tidak salah penilaian tersebut karena Persib saat itu dan saat ini tidak jauh berbeda dari segi nama dan kualitas permainan.
Memang sejak berakhirnya masa keemasan Persib 1994/1995, tak ada lagi skuat Persib yang tangguh.
Buktinya sederhana saja. Persib tak pernah juara lagi sejak Liga Indonesia jilid perdana.
Sejak itu hingga tahun 2012, Persib hanya besar dan ditakuti namanya saja.
Namun dari segi kualitas permainan, Persib seperti maung ompong.
Namun cerita berbeda diukir Djadjang. Sempat diragukan banyak orang untuk menangani tim sebesar Persib karena jam terbang sebagai pelatih dirasa kurang, namun stigma negatif tersebut dimentahkan Djanur.
Dia merekrut pemain sesuai kebutuhan tim. Musim pertamanya bersama Persib, dia sudah mempersembahkan gelar juara. Bersama Persib, Djanur berhasil menjuarai turnamen pramusim Celebes Cup II 2012.
Seperti Jose Mourinho, Louis Van Gaal dan Juergen Klopp, di mana di musim pertama mereka menangani tim besar memfokuskan diri membentuk karakteristik permainan, begitu pula yang dilakukan Djanur.
Ia tak bisa meraih gelar juara LSI di musim perdananya melatih Persib, namun karakteristik permainan Persib sudah terbentuk di mana Persib menjadi tim yang tangguh bertahan dan cepat dalam menyerang.
Kejelian manajemen mempertahankan Djanur dan beberapa pemain lama, terbukti.
Di musim kedua melatih Persib, trofi yang ditunggu 19 tahun lamanya, akhirnya diraih Maung Bandung.
Juara Indonesia Super League (ISL) menjadi trofi paling prestisius.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijya, Jakabaring, Palembang, 7 November 2014 ini, Persib mengalahkan Persipura Jayapura melalui drama adu penalti 7-5.
Selain juara Celebes Cup, ISL 2014 dan Piala Presiden 2015, gelar lainnya Persib di era kepelatihan Djanur yaitu Piala Wali Kota Padang tahun 2014.
Di final, Persib menang 2-0 atas Persiba Balikpapan.
Ucapan selamat, tentu bukan diarahkan untuk Djanur semata.
Ucapan selamat pun harus diberikan kepada manajemen, dan yang paling utama adalah seluruh pemain Persib karena merekalah yang merasakan peperangan di dalam lapangan hijau.
Tak lupa acungan dua jempol kepada seluruh bobotoh yang telah memberikan spirit tambahan buat skuat Persib.
Untuk seluruh yang mencintai Persib, selamat atas gelar juara Piala Presiden.
Orang bilang “Hidup itu adalah pilihan dan hidup itu adalah perjuangan. Maka bagi seluruh bobotoh, hidup itu hidup Persib”. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (19/10/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
KEMENANGAN PERSIB SEMAKIN LENGKAP DENGAN DUA PENGHARGAAN DISABET ZULHAMhttp://bit.ly/1W0EBGiDengan dua gelar itu, Zulham berhak meraih hadiah Rp 300 juta.
Posted by Tribun Jabar Online on Sunday, October 18, 2015
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/oktora-veriawan-baju-belang-bertopi_20150727_074435.jpg)