TERAS

Intervensi

Peradaban terus berlanjut hingga ke ruang keluarga setelah dunia kian datar dan geografi sudah tak berarti

Penulis: cep | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah. 

Oleh Cecep Burdansyah

BERKUMPUL di ruang keluarga sambil nonton televisi, membaca surat kabar atau majalah, sudah jadi kebiasaan bagi umat manusia di zaman modern ini. Apalagi, sejak revolusi teknologi informasi, kebiasaan itu ditambah dengan memainkan gawai. Hal itu biasanya dilakukan di akhir pekan apabila sedang tidak bepergian ke mana-mana. Dan itulah saat menyenangkan bercengkerama dengan keluarga.

Sejak revolusi mesin cetak Johannes Gutenberg, peradaban manusia tidak bisa lepas dari informasi, terutama buku dan surat kabar. Sejak itulah umat manusia mengalami intervensi secara mendalam dalam kehidupannya. Ia bisa dengan mudah mengakses apa yang tidak diketahuinya, sekaligus membuat catatan-catatan penting untuk disebarluaskan. Temuan-temuan ilmu dan teknologi makin marak, sejarah gagasan beranak pinak kian berkembang. Bagi kita yang menyambutnya dengan perasaan optimistis, itulah intervensi kreatif dalam sejarah hidup manusia.

Peradaban terus berlanjut hingga ke ruang keluarga setelah dunia kian datar dan geografi sudah tak berarti bagi makhluk yang bernama informasi. Apa pun yang terjadi di belahan dunia yang jauh dari tempat kita bercengkerama bisa mendadak muncul di hadapan kita. Breakingnews. Sebuah informasi mendadak mengintervensi keasyikan di ruang keluarga.

Teringat pada penulis Prancis Jean Baudrillard yang menulis bahwa manusia modern dikepung oleh aneka produk kapitalis melalui sebuah media. Tampaknya, kita memang tak bisa mengelak dari iklan-iklan yang mengucur dari keringat para karyawan dan modal para pengusaha. Tapi kepungan tersebut tak selamanya harus jadi keluhan. Jika buku saya anggap sebagai intervensi kreatif, karena merangsang kita untuk berpikir, maka produk-produk yang lahir dari mesin kapitalis adalah intervensi konsumerisme, karena menyemai kita untuk memupuk keinginan tanpa batas dan acapkali di luar kebutuhan. Wujudnya mudah kita temui, terlebih dengan era menjamurnya media sosial.

Intervensi konsumerisme tidak tergolong gawat karena manusia masih bisa menghindar dengan berbagai cara. Yang tergolong berbahaya adalah intervensi destruktif, yang masuk dalam kesadaran manusia dan, apabila filter kita rapuh, kita bisa terjerumus menjadi agen kegiatan tersebut.

Di tengah rumah di ruang keluarga, sebuah breakingnews muncul dengan berita yang mengejutkan. Bom meledak di Turki yang menewaskan sedikitnya 96 orang dan melukai ratusan orang. Wajah ketakutan dan suasana panik, manusia bergelimpangan dan darah tercecer di jalanan yang tampak di layar televisi seketika mengubah suasana rumah. Informasinya sendiri, ketika kejadian masih berlangsung, sangatlah sederhana. Sebuah bom menewaskan puluhan orang di Turki. Tapi yang meresap ke dalam kesadaran kita, apa sesungguhnya yang membuat sseorang tega meledakkan bom untuk menewaskan sesamanya? Pertanyaan ini tentu saja menjadi pergulatan dalam diri banyak orang dengan kerangka pemahaman yang bisa berbeda. Bahkan tidak hanya bisa berbeda, tapi kontradiktif, tergantung tingkat pengetahuannya, dan yang paling menentukan adalah nilai-nilai ideologi yang dipahami dan diyakininya.

Maka tidak heran, di tengah kepungan informasi yang bertubi-tubi inilah, seringkali di tengah keluarga, suasana santai, akrab, penuh canda, berubah menjadi diskusi kecil, bahkan kadang- kadang jadi perdebatan ketika informasi yang mengintervensi itu menyangkut salah satu kepentingan di antara anggota keluarga. Jika masih sebatas pengetahuan, perdebatan itu masih sehat karena kerangkanya mencari kebenaran ilmiah, dan masing-masing masih menempatkan diri secara setara sebagai “kita”. Namun ketika melampauai batas pengetahuan, yaitu ideologi dan keyakinan, landasannya menjelma jadi kepentingan, lalu “kita” jadi cerai-berai menjadi “aku” dan “kamu” di jalan yang berseberangan. Landasannya bukan mencari kebenaran, melainkan memaksakan sebagai yang paling benar. Jika itu terjadi sekadar di aras keluarga, skalanya masih relatif kecil, walaupun sebetulnya bisa membiak seperti halnya gagasan yang tanpa kaki tapi bisa menjangkau keluasan. Dan jika sudah terjadi di aras yang lebih luas, aras komunal, masyarakat, dan bangsa, tentu menjadi genting.

Di sinilah tantangannya, bagaimana caranya agar informasi yang penting itu tidak menjadi genting. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved