Teras
Gada . . .
Kasus penembakan secara mendadak terhadap warga sipil bukan baru pertama kali terjadi di AS.
Penulis: cep | Editor: Dedy Herdiana
“KITA semua telah mati rasa!”
Itulah kalimat yang terlontar dari mulut Barack Obama, Presiden Amerika Serikat. Ia berdiri di podium untuk mengungkapkan belasungkawanya terhadap korban penembakan di Umpqua Community College, di kota kecil Roseberg, Negara Bagian Oregon, AS. Tercatat sepuluh orang tewas. Kemarahan Obama tak bisa disembunyikan.
Kasus penembakan secara mendadak terhadap warga sipil bukan baru pertama kali terjadi di AS. Kejadiannya selalu di ruang publik, seperti di kampus dan pusat layanan masyarakat, serta menelan korban warga sipil yang tak berdosa. Dari 2007 hingga 2015 tercatat 119 warga tewas jadi korban penembakan.
Obama layak geram karena usaha menghentikan para kriminal memangsa warga sipil tak cukup dengan tindakan pencegahan aparat keamanan. Kalau hanya mengandalkan polisi, sangat sulit mendeteksi kemunculan pelaku kriminal penembakan. Cara lain adalah politik hukum, membuat undang-undang untuk membatasi atau sekaligus melarang kepemilikan senjata api di kalangan warga sipil.
Sudah berkali-kali Obama mengusulkan kepada politisi separtainya agar bisa meloloskan undang- undang pembatasan kepemilikan senjata api di kalangan warga sipil. Namun, usaha itu selalu kandas dimentahkan oleh para politisi Partai Republik.
Kita prihatin dengan setiap darah dan penderitaan di mana pun terjadi di planet bumi ini. Dari negeri Paman Sam, kita belajar banyak dari kasus yang dihadapi Obama dan para politisi di Kongres. Keinginan Obama membuat regulasi pembatasan senjata api di kalangan warga sipil berangkat dari kenyataan di lapangan, bergelimpangannya warga sipil, di antaranya pelajar yang masih belia jadi korban kebrutalan orang stres. Tujuan diusulkannya regulasi itu jelas untuk melindungi warganya.
Usulan tersebut selalu kandas di Kongres. Politisi Partai Demokrat pun tak mampu memperjuangkannya. Alasan para politisi pun sama dengan Obama, untuk melindungi warga sipil, sehingga warga perlu diberi kebebasan memiliki senjata api.
Tujuan sama tapi caranya sangat kontradiktif. Lalu, apa yang membuat Obama dan para politisi di Kongres berbeda?
Di sinilah pangkal persoalannya. Obama hendak melindungi warga dalam perspektif kewargaan, komunal, sedangkan para politisi dari sudut pandang individu. Letak soalnya, ketika kepemilikan senjata warga sipil dibatasi oleh regulasi, warga akan terhindar dari amuk seorang individu yang membabi buta dengan menggunakan senjata api. Sebaliknya, dengan diberikannya kebebasan warga sipil memiliki senjata api, ia bisa melindungi dirinya dari marabahaya warga bersenjata api yang mengancam nyawanya.
Dua perspektif yang jelas sangat berbeda. Obama berpihak terhadap kepentingan masyarakat yang lebih luas, yang dengan sendirinya individu pun terlindungi. Sebaliknya, para politisi di Kongres menempatkan kepentingan individu lebih prioritas, dan apabila direnungkan kepentingan masyarakat yang lebih luas dikorbankan.
Perbedaan cara memandang yang sangat tajam itu tentu bukannya tidak dipahami oleh para politisi AS. Urusannya tak jauh-jauh dengan paham yang dipegang kukuh oleh para politisi AS di Kongres, yakni kebebasan individu di atas segalanya.
Di sinilah, saya melihat sisi gelap liberalisme, di mana perisai harus lebih kuat memihak kepentingan individu, padahal diam-diam bisa berubah menjadi gada yang berbalik menyerang diri sendiri. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jaba, Senin (5/10/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-pemimpin-redaksi-tribun-jabar_20150720_180143.jpg)