SOROT

Lalai di Lingkungan Pendidikan

KEHILANGAN anak yang menjadi buah hati keluarga untuk selamanya, tentu membuat kesedihan yang teramat sangat

Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR/DOKUMENTASI
Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar 

Dedy Herdiana
Wartawan Tribun

KEHILANGAN anak yang menjadi buah hati keluarga untuk selamanya, tentu membuat kesedihan yang teramat sangat bagi orangtuanya. Terlebih jika anak itu meninggal terkait dengan kegiatan pendidikan belajar mengajar di sekolah. Bagaimana tidak? Karena orang tua menganggap sekolah tempat menimba ilmu akan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anaknya selain di rumah. Para guru pun kerap dianggap sebagai orangtua murid saat di sekolah.

Tapi dua hari yang berurutan kemarin, benar-benar hampir semua orang tua, terutama para ibu dibuat syok dengan munculnya berita kedua peristiwa itu. Karena tak pernah ada dalam benak seorang ibu ketika harus menerima kenyataan bahwa buah hatinya meninggal di sekolah dengan dugaan akibat adanya kelalaian pihak sekolah.

Seperti diketahui, kejutan pertama terjadi dengan munculnya berita Gabriella Sheril (8), murid kelas III SD di Global School, Kembangan, Jakarta Barat, yang ditemukan tenggelam saat pelajaran berenang bersama teman-temannya, Kamis (17/9) pagi. Kejutan kedua terjadi esoknya, Jumat (18/9), siswa kelas 2 SDN 07 Kebayoran Lama Utara, NA (8) meninggal diduga akibat pukulan di kepala dan dada serta terjatuh saat berkelahi dengan teman sekelasnya, R (8). Perkelahian itu terjadi sekitar pukul 09.00 saat digelarnya lomba mewarnai oleh sebuah produsen makanan ringan dalam rangka promosi ke sekolah-sekolah, seperti diberitakan Harian Pagi Tribun Jabar, Minggu (20/9).

Untuk yang pertama seperti dilansir Kompas.com, Sabtu (19/9), Gabriella ditemukan tenggelam saat pelajaran renang di kolam dan meninggal saat tiba di RS Pondok Indah, Puri Indah, Kamis (17/9). Saat kejadian guru kelas Gabriella berada di luar area kolam renang untuk mendampingi lima teman Gabriella yang sedang sakit. Sementara, Direktur Global Sevilla School Robertus Budi Setiono sudah menjanjikan menanggung sepenuhnya kerugian atas meninggalnya murid mereka, Gabriella Sheril. "Sebagai bentuk kompensasi, akan kami tanggung sepenuhnya. Sejak kemarin, perwakilan kami juga sudah mendampingi dari waktu dirawat di rumah sakit sampai di Rumah Duka Abadi," kata Robertus, Sabtu (19/9).

Untuk kejadian di SDN 07 Pagi, terungkap bahwa ketegangan antara dua murid, NA dan R kerap terjadi. Seperti dikatakan Wali Kelas II B Mujiyana, bahwa NA dan R kerap saling mengejek dan keduanya siswa yang paling aktif. "Dua-duanya itu kalau sudah saling ejek gampang naik darah. Gampang tersulut, lalu berkelahi," kata Mujiyana kepada Wartakota, Sabtu (19/9).

Terkait kasus anak meninggal yang diduga akibat perkelahian itu, Susanto, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, kepada Kompas.com di Jakarta, Sabtu (19/9), mengatakan, masih banyak guru yang lalai dan kerap mengabaikan ejekan satu siswa ke siswa lainnya. "Padahal, kata-kata yang keluar dari siswa seperti 'kamu gendut' atau 'kamu cengeng' itu bisa jadi bullying verbal hingga psikis orang yang menerimanya. Pandangan inilah yang harusnya dihentikan," kata Susanto.

Melihat dua kejadian ini rasanya hati kita seperti teriris-iris, dan merasa khawatir terlebih KPAI menyebutkan masih banyak guru yang lalai pada masalah bullying verbal. Semoga saja, sikap lalai itu tidak menjadi sikap para guru di Kota Bandung dan Jawa Barat umumnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved