Sorot
Psywar
KARAKTER pelatih sepak bola tak sama satu dengan lainnya
Penulis: Giri | Editor: Dedy Herdiana
KARAKTER pelatih sepak bola tak sama satu dengan lainnya. Biasanya, karakter itu menetes ke tim dalam bentuk permainan di lapangan karena pelatih sebisa mungkin mencoba mengimplementasikannya.
Ada pelatih yang selalu meledak-ledak di pinggir lapangan, ada yang hanya diam dan menganalisis. Ada juga perpaduan keduanya, kadang duduk diam di bench dan di sisi lain teriak-teriak memanggil pemainnya yang sudah kehabisan tenaga.
Di luar itu, pelatih juga punya kebiasaan-kebiasaan lain menjelang pertandingan. Hal ini berkaitan dengan komentar di media massa yang bisa saja dibaca pihak lawan.
Di kompetisi luar negeri, ada pelatih yang selalu berkomentar mengenai pemain bintang di lawan. Misalkan pelatih Chelsea, Jose Mourinho, yang menyatakan meminati pemain yang bisa saja memberi efek buruk kepada timnya dengan harapan konsentrasinya terganggung.
Bukan itu saja, Mourinho yang terkenal dengan kesombongannya kerap meremehkan lawan dengan niatan yang sama.
Sebelum melawan Arsenal di Community Shield 2015, pelatih asal Portugal itu mengeluarkan isu rekor pertemuan antara dirinya dengan Arsene Wenger yang membesut tim Gudang Peluru.
Mou memang boleh membusungkan dada karena dari 13 pertemuan keduanya, Wenger tidak pernah menang. Hasilnya, strategi Mou tak sesuai harapan karena di lapangan, Arsenal yang menjadi juara.
Di kompetisi Tanah Air, jarang pelatih yang terang-terangan menjelekkan calon lawan. Dari sisi adat ketimuran, mereka tak biasa dengan komentar-komentar pedas. Apalagi mereka juga memiliki hubungan baik satu dengan lainnya.
Tapi menjelang pertemuan Persib Bandung dengan Pusamania Borneo FC di babak delapan besar Piala Presiden, komentar menohok datang dari Samarinda.
Pelatih Pusamania, Iwan Setiawan, membuat telinga pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, memerah karena dianggap tak punya strategi apa-apa dalam permainan.
Mudah ditebak, Iwan punya maksud lain dari komentarnya. Dia ingin kekuatan Persib melemah secara mental apalagi Iwan juga menyebut Persib hanya mengumpulkan pemain-pemain bintang, tetapi secara strategi bermain tidak istimewa.
Beruntung Djadjang bersikap cuek. Begitu juga dengan pemain seperti komentar Firman Utina.
Iwan tergolong nekat dengan komentarnya meski psywar menjelang pertandingan sah-sah saja. Pasalnya secara head to head, Djadjang unggul atas Iwan.
Pada LSI 2013, keduanya bertemu dua kali. Djadjang sebagai juru taktik Persib dan Iwan memegang kendali Persija Jakarta.
Saat main di Jakarta, kedudukan sama kuat 2-2. Tapi Persib menang 3-1 ketika bermain di kandang sendiri.
Oke, Iwan memang mengantarkan Pusamania menjadi juara Divisi Utama 2014. Tapi pada kesempatan yang sama,
Djadjang membuat Persib mengakhiri puasa gelar 19 tahun setelah mengalahkan Persipura Jayapura di final LSI 2014.
Masalahnya, psywar Iwan datang bukan sebelum kedua tim bertemu di masa lalu. Dia berkomentar pedas menjelang Persib bertandang ke Stadion Segiri, 20 September nanti.
Maka yang bisa dilakukan Djadjang dan penggawa Persib saat ini adalah mencoba mendapatkan yang terbaik alias melangkah ke babak semifinal.
Bukan untuk membuktikan bahwa Iwan hanya pandai berkoar dengan isi kosong tapi demi prestasi Persib. Persib sedang berada di tren yang bagus dan harus dipertahankan. (*)
Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Kamis (17/9/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sugiri-ua-baru-lagi_20150629_092819.jpg)