Sorot

Kampung Halaman

ADA banyak karya sastra berkualitas yang bercerita tentang kampung halaman.

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun. 

ADA banyak karya sastra berkualitas yang bercerita tentang kampung halaman. Salah satunya adalah novel Pulang yang ditulis Toha Mohtar.

Dalam novel ini diceritakan kampung halaman sebagai magnet yang menarik siapa saja yang lama meninggalkan tanah kelahirannya. Makin jauh kaki petualang melangkah, kampung halaman selalu menjadi tempat paling dirindu untuk dituju.

Dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Biang Lala, dengan penuh daya pukau Ahmad Tohari menggambarkan kampung halaman sebagai tempat yang dirindukan tokoh Rasus, selain Srintil ronggeng cantik yang penuh gairah.

Dalam Kubah, novel yang lahir jauh sebelum trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menceritakan tokoh Karman yang tidak bisa menahan kata hatinya untuk kembali ke kampung halamannya. Walaupun untuk itu, Karman harus mengikis rasa malu plus melupakan statusnya sebagai mantan anggota partai komunis yang baru keluar dari tahanan.

Penyanyi balada sekelas Ebiet G Ade, dalam beberapa lagunya, juga meratap-ratap merindukan kampung halaman ketika dia merasakan bagaimana gersang dan tidak bersahabatnya ibu kota.

Karya film lebih banyak lagi yang bercerita tentang tokoh-tokoh yang merindukan kampung halaman setelah lama mengembara ke negeri-negeri jauh.

Salah satunya adalah Cold Mountain yang dibintangi Jude Law dan Nicole Kidman. Dalam film ini, tokoh Inman yang dibintangi Jude Law menempuh perjalanan panjang untuk kembali ke kampung halamannya tempat Ada, kekasihnya menunggu.

Seperti tokoh-tokoh dalam karya fiksi di atas, Warga Jatigede di Kabupaten Sumedang juga tentu sangat mencintai kampung halaman dan tanah kelahirannya. Namun ribuan warga Jatigede akan kehilangan kampung halaman mereka, menyusul dimulainya penggenangan Waduk Jatigede pada akhir Agustus ini.

Saya tidak bisa menebak perasaan saudara-saudara kita di Jatigede yang akan kehilangan kampung halaman dan tanah kelahiran mereka.

Warga Jatigede yang kini merantau di banyak kota, kemana mereka akan mudik pada musim Lebaran nanti. Bagaimana bisa mereka menziarahi kubur-kubur leluhur mereka.

Seperti diberitakan Tribun, penggenangan Waduk Jatigede akan dimulai hari ini. Persiapan untuk penggenangan diklaim sudah tuntas alias tidak ada masalah.

Warga beberapa kampung yang akan digenangi, juga tengah sibuk mengemasi barang-barang mereka. Mereka juga tentu akan membawa pula kenangan atas kampung halaman yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.

Tempat-tempat relokasi telah disiapkan pemerintah untuk menampung warga Jatigede yang terusir dari kampung halaman mereka. Dengan ganti rugi yang diterima, warga Jatigede diharapkan bisa hidup lebih layak di tempat-tempat relokasi.

Harapan ini mungkin juga jadi harapan pemerintah yang membangun Waduk Jatigede. Namun yang pasti, kita masih mendengar suara-suara warga Jatigede yang mempertanyakan soal ganti rugi yang layak, bahkan ketika kampung halaman mereka siap digenangi.

Kita tidak tahu apakah cerita warga Jatigede akan menjadi cerita yang happy ending atau malah sebaliknya. Ini yang masih harus kita tunggu jawabannya. (*)

Naskah Sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (31/8/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved