TERAS
Hanya Nama
Nama, suka atau tidak suka, harus diterima sebagai pemberian dari orang tua.
Penulis: cep | Editor: cep
oleh Cecep Burdansyah
“ZAMAN sekarang sudah sulit menemukan nama anak yang bernuansa Sunda,” kata Darpan, kawan saya yang mengajar bahasa Sunda di sebuah SMA negeri di Garut, dalam perbincangan di sebuah kafé di kawasan Mulawarman, Bandung, beberapa bulan lalu.
Saya hanya tersenyum karena memang begitulah faktanya. Nama-nama seperti Mimin, Juarsih, dan Rukanda sepertinya datang dari masa lalu. Anak-anak dari masa kini datang dengan nama-nama, kalau tidak bernuansa barat, bernuansa Arab atau muslim, sesuai dengan keyakinan yang dianut orang tuanya. Sebagai kekecualian, ada juga nama bernuansa lain, tapi tenggelam di tengah nama-nama yang dominan barat dan Arab.
Seminggu kemudian, datang pesan singkat dari kawan saya yang juga mengajar di sebuah SMP negeri di Subang. “Kalau saya meneliti nama-nama dalam karya sastra Sunda untuk tesis, menarik tidak, ya?” tanya Risnawati, yang kebetulan sedang menempuh pendidikan magister di sebuah perguruan tinggi negeri. Gagasan menulis nama-nama dalam karya sastra Sunda itu, katanya, terinspirasi setelah melihat nama-nama muridnya yang berderet dalam daftar hadir. Menurutnya, sudah sulit mencari nama-nama yang nyunda.
Bagi kedua sahabat saya ini, yang memang bertugas mengajar bahasa Sunda, perubahan nama-nama dari generasi masa lalu ke generasi yang datang kemudian, mungkin dianggap penting. Tapi saya tidak tahu apakah keduanya memendam keprihatinan atau tidak dengan terkikisnya nama-nama yang beraroma Sunda, tergantikan dengan nama-nama beraroma barat dan Arab.
Nama memang seperti sepele. Shakespeare dalam kisah terkenalnya, Romeo dan Juliet, menyisipkan dialog, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Kalimat itu terlontar dari Juliet yang kisah kasihnya diadang keluarga mereka. Namun kemudian, penggalan dialog itu sering dikutip untuk menggambarkan bahwa nama tidak begitu penting. Tentu saja Shakespeare tidak bermaksud demikian. Ucapan itu ditulis untuk konteks cerita saja.
Nama, suka atau tidak suka, harus diterima sebagai pemberian dari orang tua. Pada saat manusia lahir ke dunia, ada tiga yang kita terima. Pertama, Tuhan memberikan udara. Begitu udara menyentuh, kita meresponsnya dengan menangis. Lalu ibu segera memberikan air susu. Dan yang terakhir, orang tua memberi kita nama. Dalam perjalanan, ada yang bertanya pada orang tua, apa arti nama yang mereka berikan, tapi tak sedikit juga, termasuk saya, yang tidak dihinggapi rasa penasaran untuk bertanya apa arti nama saya.
Ternyata memberi nama memang bisa berbenturan kepentingan. Pada saat anak saya yang pertama lahir, saya memberi nama yang bernuansa Sunda karena memang saya saat itu sedang intens dengan lokalitas. Tapi ibu saya mengusulkan supaya nama cucunya bernuansa muslim. Maka jalan tengah diambil, Sunda-Arab. Pada saat anak kedua lahir, saya sedang gandrung dengan buku-buku Kahlil Gibran. Tanpa melibatkan orang tua, saya pun memberi nama anak kedua mengikuti tokoh novel Sayap-Sayap Patah. Dan pada saat anak ketiga lahir, saya sedang mengagumi seorang arsitek dari Irak, Zaha Hadid, yang karya-karyanya banyak menjulang di negara-negara Eropa, maka jadilah nama si kecil. Pelukis Tisna Sanjaya memberi nama anaknya kombinasi, Muhammad Zico Albaiquni, yang kini sudah dewasa dan juga mengikuti jejak ayahnya, sebagai pelukis. Tisna penggila bola, dan Brasil tim kesayangannya, dan pemain legendaris Zico membuatnya terpesona.
Nama sesungguhnya bukan perkara sepele. Dalam penelitian skripsinya, Yatun Romdonah Awaliah, seorang pengajar di sebuah universitas negeri, mengatakan, dari perspektif onomastik, nama seseorang erat kaitannya dengan budaya dan adat istiadat. Tak heran kalau di masyarakat Sunda, apabila orangtua mau mengganti nama anak, melalui proses ngabubur bodas dan ngabubur beureum, dengan harapan nama si anak kekal membawa keselamatan dan rezeki. Bahkan dalam tradisi Sunda, bukan hanya orang tua yang memberi nama anak, tapi juga melibatkan kakek dan nenek si anak yang baru lahir, bahkan melibatkan kiai. Dalam proses inilah masuk ideologi orang tua atau keluarga besar.
Sebagai muslim pasti tahu surat al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda, kemudian mengemukakannya kepada mereka yang diberikan kendali, lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!'" Kemudian saya maknai surat itu, nama membawa kita pada ilmu pengetahuan.
Lalu, bagaimana ketika ada seseorang bernama “Tuhan”, seperti yang terjadi di Banyuwangi, dan seseorang bernama “Syetan”, seperti yang terjadi di Palembang? Tentu saja hak kedua orang tua mereka untuk sebebas-bebasnya memberi nama anaknya dan tak ada peraturan yang dilanggar. Tapi orang yang memberi nama “Tuhan” dan “Syetan” kepada anaknya seperti orang yang melemparkan batu pada sungai yang airnya mengalir tenang. Barangkali yang timbul hanya riak.
Hanya saja, apabila berpijak pada kajian onomastik seperti yang diungkap dalam penelitian Awaliah tadi, gentar juga dengan nasib masa depan kedua penyandang nama tadi. (*)
Naskah Teras ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (31/8/2015). Ikuti berita- berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-foto-baru-berjas-biru-kemeja-merah_20150615_140115.jpg)